SPANDA
Perjalanan Kesadaran Mengenali Dirinya
Sendiri
Sebuah Refleksi Filosofis dari Tradisi Kashmir Shaivism
Ada sebuah
pertanyaan yang telah menghantui manusia jauh sebelum peradaban membangun kota
pertamanya: Siapakah aku ini, sebenarnya? Bukan dalam arti nama, pekerjaan,
atau asal-usul — melainkan dalam arti yang paling apa adanya dan paling dalam:
apa yang sesungguhnya berdenyut di balik setiap pikiran, setiap napas, setiap
momen sadar yang kita sebut 'hidup'?
Di antara semua
tradisi filsafat yang pernah lahir di muka bumi, ada satu yang menjawab
pertanyaan itu dengan cara yang paling mengejutkan — bukan dengan memberi
jawaban baru, melainkan dengan menunjukkan bahwa jawaban itu sudah selalu ada.
Bahwa pencarian itu sendiri adalah sesuatu yang menggelikan secara kosmik,
seperti mata yang mencari dirinya sendiri.
Tradisi itu
adalah Kashmir Shaivism, dan inti dari seluruh perjalanannya tersimpan dalam
satu kata kecil yang menanggung beban seluruh alam semesta: Spanda.
I. Denyutan Sebelum Segalanya
Bayangkan
permukaan air yang sempurna tenang. Bukan sekadar tenang — melainkan diam
mutlak, seperti kaca yang belum pernah menyentuh angin. Lalu dari titik yang
tak bisa ditunjuk, sesuatu bergerak. Satu riak muncul. Dan dari riak itu, dalam
keajaiban yang tak bisa dijelaskan oleh fisika manapun, seluruh semesta
terlahir — bintang, planet, laut, pohon, dan kamu yang sedang membaca ini.
Inilah gambaran
yang ditawarkan oleh Kashmir Shaivism tentang asal mula segalanya. Seluruh alam
semesta adalah riak dari satu denyutan — dan denyutan itu tidak pernah
berhenti. Ia adalah realitas itu sendiri.
"Spanda bukan
sesuatu yang terjadi. Spanda adalah cara realitas ada."
Kata Spanda
berasal dari akar Sanskrit spand — 'bergetar,' 'berdenyut,' 'bergerak dengan
cara yang halus.' Tapi ini bukan getaran dalam pengertian fisik seperti
gelombang suara atau cahaya yang bisa diukur di laboratorium. Spanda adalah
kualitas paling fundamental dari kesadaran — kenyataan bahwa kesadaran itu
sendiri tidak pernah statis, tidak pernah beku, selalu dalam kondisi hidup yang
dinamis.
Vasugupta,
seorang bijak dari abad ke-9 Masehi yang konon menerima pengetahuan ini
langsung dalam mimpi dari dewa Siwa sendiri, merumuskan ini dalam 52 bait
ringkas yang disebut Spanda Karikas. Kemudian Abhinavagupta (950–1020 M) —
mungkin pemikir terbesar yang pernah dilahirkan oleh tanah India, namun hampir
tidak dikenal di luar kalangan spesialis filsafat — mengembangkannya menjadi
sistem yang begitu menyeluruh sehingga bahkan filsuf Barat modern masih
kesulitan menandingi kedalamannya.
II. Masalah dengan Si Ular yang Tidur
Sebelum kita bisa
memahami apa yang Kashmir Shaivism tawarkan, kita perlu memahami apa yang ia
koreksi.
Selama
berabad-abad, tradisi Hatha Yoga klasik mengajarkan tentang kundalini sebagai
'ular yang tidur' — sebuah energi kosmik yang melingkar di dasar tulang
belakang, menunggu untuk dibangunkan melalui praktik-praktik tertentu. Gambaran itu kuat. Gambaran itu puitis. Dan gambaran itu, menurut Kashmir Shaivism,
menyimpan benih dari kesalahan yang sangat serius.
Karena ketika
kamu berpikir bahwa ada sesuatu di dalam dirimu yang sedang tidur dan perlu dibangunkan,
secara otomatis kamu menciptakan tiga hal:
Ada aku yang
berusaha membangunkan. Ada kundalini yang tidur dan perlu dibangunkan. Ada
jarak antara kondisiku sekarang dan kondisi yang ingin kucapai.
Dan dalam jarak
itu — dalam ruang antara 'aku sekarang' dan 'aku yang tercerahkan' — bersemayam
seluruh penderitaan spiritual yang paling halus namun paling melelahkan. Ia
adalah bentuk dualitas yang paling tersembunyi, karena ia menyamar sebagai
jalan menuju kebebasan, padahal ia sendiri adalah bentuk perbudakan.
"Penyebab
perbudakan bukan dosa, bukan karma, bukan tubuh — melainkan satu hal:
tidak-mengenali sifat diri sendiri sebagai kesadaran universal." —
Kshemaraja, Pratyabhijnahrdayam
Kshemaraja, murid
Abhinavagupta yang kemudian menjadi penulis salah satu teks paling penting
dalam tradisi ini, menunjuk pada akar masalah yang jauh lebih dalam dari yang
biasanya kita bayangkan: bukan dosa, bukan karma yang mengikat kita — melainkan
apratyabhijna, ketidakmengenalan terhadap diri sendiri.
III. Pengenalan, Bukan Pencapaian
Inilah pergeseran
filosofis yang paling penting — dan yang paling sulit dipahami oleh pikiran
yang terbiasa bekerja dalam logika usaha-dan-hasil.
Seluruh tradisi
spiritual modern, sebagian besar, beroperasi dalam model pencapaian: ada
kondisi biasa di sini, ada kondisi tercerahkan di sana, dan di antaranya ada
jalan yang harus ditempuh — mungkin bertahun-tahun, mungkin berkali-kali
reinkarnasi. Semakin keras bekerja, semakin dekat ke tujuan.
Kashmir Shaivism
membalikkan seluruh struktur ini.
Bukan karena praktik
tidak diperlukan. Bukan karena usaha tidak penting. Melainkan karena starting
point-nya salah. Karena pertanyaan yang kita ajukan sudah mengandung asumsi
yang keliru.
Kata kuncinya
adalah pratyabhijna — sebuah kata Sanskrit yang bisa dipecah menjadi: pra
(sebelumnya) + abhi (terhadap) + jna (mengetahui). Artinya: 'mengenali kembali
apa yang sudah diketahui sebelumnya.' Bukan menemukan sesuatu yang baru. Bukan
menciptakan kondisi yang belum ada. Melainkan mengenali kembali apa yang sudah
selalu ada di sana.
Aktor yang Lupa
Abhinavagupta
menggunakan sebuah analogi yang begitu tepat sehingga ia terasa seperti sebuah
pukulan ringan di tengkuk kepala:
Bayangkan seorang
aktor yang begitu brilian dalam memainkan perannya — seorang raja miskin,
seorang budak, seorang penjahat — sehingga ia mulai melupakan bahwa ia sedang
berakting. Kostum itu terasa seperti kulit aslinya. Dialog itu terasa seperti
suaranya sendiri. Penderitaan karakter itu terasa seperti penderitaannya
sendiri.
Lalu seseorang
dari sisi panggung berbisik namanya yang sebenarnya.
Dan seketika —
bukan setelah proses panjang, tidak setelah melepas kostum perlahan-lahan helai
demi helai — ia ingat. Ia tahu siapa dirinya. Kostum masih ada di tubuhnya.
Peran masih berlangsung. Tapi ia tahu.
Itulah pratyabhijna.
Itulah pengenalan-diri.
IV. Di Mana Spanda Bisa Ditemukan?
Namun Kashmir
Shaivism bukan hanya sistem filsafat yang bisa dinikmati sebagai permainan
intelektual. Ia adalah peta pengalaman langsung — dan petanya sangat presisi
tentang di mana dan bagaimana kesadaran murni bisa dikenali.
Yang mengejutkan
adalah: bukan dalam meditasi yang dalam dan tenang. Justru di tepi-tepi
pengalaman biasa yang sering kita lewatkan begitu saja.
Celah Antara Dua
Pikiran
Perhatikan satu
hal sekarang. Perhatikan pikiran yang sedang bergerak di benak. Lalu tunggu
sejenak. Ada momen ketika pikiran sebelumnya sudah selesai dan pikiran
berikutnya belum muncul. Di celah yang sangat singkat itu — yang biasanya kita
lewatkan karena pikiran berikutnya datang begitu cepat — ada kesadaran tanpa
objek. Bukan kekosongan. Bukan ketidaksadaran. Tapi kesadaran yang tidak sedang
memikirkan apapun namun jelas-jelas ada.
Kashmir Shaivism
berargumen bahwa celah itu selalu ada. Bukan hanya dalam meditasi. Yang berubah
bukan realitas celah itu, melainkan kemampuan kita untuk menyadarinya. Dan
celah itu adalah Spanda — denyutan di antara gelombang-gelombang pikiran.
Ambang Batas Kesadaran
Kshemaraja dan
Abhinavagupta juga menunjuk pada momen-momen pinggiran lain yang sering
terabaikan: momen antara bangun dan tidur — ketika pikiran melonggar tapi
kesadaran belum pergi. Atau tepat setelah bersin, yang disebutkan secara
harfiah dalam Vijnana Bhairava Tantra — momen ketika pikiran sejenak kosong
sebelum kembali mengisi. Atau puncak rasa takut mendadak, seperti hampir jatuh,
ketika semua pikiran berhenti dan hanya ada kesadaran murni tanpa narasi.
Pengalaman Estetik
sebagai Jendela
Dan ada satu
pintu lagi yang Abhinavagupta bahas dengan kecintaan khusus — karena ia bukan
hanya seorang filsuf tetapi juga seorang estetikus besar, penulis komentar
terpanjang atas Natya Shastra, risalah agung tentang seni pertunjukan India.
Ketika kamu mendengar
musik yang begitu indah sehingga sejenak kamu 'terbawa' melampaui diri sendiri
— ketika kamu membaca sebuah puisi dan seketika merasakan sesuatu yang tidak
bisa diungkapkan dengan kata-kata — ketika kamu menyaksikan matahari terbenam
dan untuk sesaat melupakan siapa kamu dan di mana kamu berada — di situ,
Abhinavagupta berkata, terjadi sesuatu yang secara struktur identik dengan
pengalaman mistik tertinggi.
Karena dalam
kedua kasus itu, ego sementara absen. Dan dalam ketiadaan ego itu, kesadaran murni
hadir — bukan sebagai pencapaian, bukan sebagai hasil dari usaha, melainkan
sebagai kondisi alami yang sebentar tersingkap dari balik lapisan-lapisan
identifikasi.
V. Tiga Wajah Kundalini
Lantas bagaimana
kita memahami pengalaman-pengalaman kundalini yang sangat fisik — sensasi panas
yang memanjat tulang belakang, gerakan spontan yang tak terkendali, cahaya yang
terlihat di balik mata yang terpejam? Kashmir Shaivism tidak menolak semua itu.
Ia menempatkannya dalam hierarki yang lebih besar.
Ada tiga level
manifestasi Kundalini Spanda. Yang pertama adalah Prana Kundalini — level
fisik-energetik yang paling dibahas dalam Hatha Yoga klasik. Sensasi panas,
getaran, gerakan energi melalui chakra. Nyata, tapi masih di level
fenomenologis — masih merupakan pengalaman yang dialami oleh seseorang.
Yang kedua adalah
Shakti Kundalini — level lebih halus di mana identifikasi dengan tubuh mulai
longgar. Pengalaman ekspansi kesadaran, cahaya batin, keheningan yang dalam. Di
sini batas antara 'aku' dan 'pengalaman' mulai kabur.
Yang ketiga — dan
inilah yang menjadi tujuan sejati dari seluruh perjalanan — adalah Para
Kundalini. Bukan pengalaman yang dialami oleh seseorang. Bukan kondisi yang
bisa dideskripsikan dari luar. Melainkan kesadaran itu sendiri yang mengenali
dirinya sendiri. Di sini tidak ada lagi subjek yang mengalami kundalini. Yang Ada
hanyalah kesadaran.
Dan di sinilah
lingkaran itu menutup dengan sempurna: karena Para Kundalini adalah Spanda.
Bukan energi yang bergerak dalam kesadaran — melainkan denyutan kesadaran itu
sendiri. Alfa dan omega dari seluruh perjalanan manusia mengenali dirinya
sendiri.
VI. Implikasi yang Paling Radikal
Jika semua ini
benar — jika kundalini adalah Spanda, dan Spanda adalah sifat paling
fundamental dari kesadaran — maka konsekuensinya bukan sekadar filosofis. Ia
mengubah cara kita memandang seluruh pengalaman manusia.
Kundalini tidak
pernah tidak aktif. Yang 'tidur' bukan kundalini — yang tidur adalah pengenalan
kita terhadapnya. Dan jika demikian, maka tidak ada manusia yang 'belum
memiliki' kundalini. Setiap manusia yang hidup, yang bernafas, yang berpikir,
sudah digerakkan oleh Spanda setiap saat. Setiap detak jantung adalah
manifestasinya. Setiap napas. Setiap momen kesadaran — termasuk momen membaca
kalimat ini sekarang.
Yang membedakan
yogin yang 'terbangun' dari manusia biasa bukan bahwa yogin memiliki sesuatu
yang tidak dimiliki orang lain. Melainkan bahwa yogin mengenali apa yang sedang
terjadi, sementara yang lain tidak. Dan pengenalan itu sendiri adalah
transformasi.
"Chaitanyamatma"
— Kesadaran itu sendiri adalah Diri. — Kshemaraja
Ini adalah salah
satu insight paling radikal dalam sejarah pemikiran manusia: bahwa pembebasan
bukan kondisi baru yang dicapai, melainkan kondisi yang selalu sudah ada yang
akhirnya dikenali. Bahwa manusia tidak sedang dalam perjalanan menuju rumah —
manusia sudah di rumah, hanya tidak menyadarinya.
Penutup: Mencari Kacamata yang Sudah Dipakai
Ada seseorang
yang panik mencari kacamatanya ke seluruh penjuru rumah — membuka laci,
menggeledah sofa, meneliti lantai dengan seksama — padahal kacamata itu sudah
ada di hidungnya sejak tadi. Itulah gambaran yang digunakan Kashmir Shaivism
untuk kondisi manusia yang sedang 'mencari pencerahan.'
Kacamata tidak
perlu dibawa dari tempat lain. Ia tidak perlu dibuat dari awal. Ia hanya perlu
dikenali sebagai sudah ada di sana.
Mungkin ini
adalah ajaran yang paling manusiawi sekaligus paling misterius yang pernah ada:
bahwa apa yang kita cari tidak tersembunyi di puncak gunung, tidak terkunci di
balik pintu praktik bertahun-tahun, tidak menunggu di ujung perjalanan yang
belum selesai. Ia ada di sini. Ia selalu ada di sini. Dan 'di sini' itu bukan
tempat geografis — melainkan kesadaran yang sedang kamu gunakan sekarang untuk
memahami kalimat ini.
Spanda berdenyut.
Selalu berdenyut. Dan kamu yang merasakannya — kamu yang bertanya-tanya apakah
kamu merasakannya — adalah denyutan itu sendiri yang sedang mengenali dirinya
sendiri.
Berkah Shakti Om,
Rabu Umanis, 18 Februari 2026
Catatan
Sumber & Referensi
Artikel ini mengacu pada teks-teks primer tradisi Kashmir
Shaivism, termasuk Spanda Karikas (Vasugupta), Pratyabhijnahrdayam dan Spanda
Nirnaya (Kshemaraja), Vijnana Bhairava Tantra, serta Tantraloka
(Abhinavagupta). Kajian modern yang menjadi rujukan meliputi karya Paul Eduardo
Muller-Ortega, Lilian Silburn, dan Christopher Wallis.