Tampilkan postingan dengan label Kiai Ganjel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai Ganjel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2020

Menuju Sang Dia


Kiai Ganjel dan Pak Bagyo



Metode efektif (Umum, Relatif). Umum–yang paling cepat mencapai tujuan; diajarkan yang terbaik, yang populer diterima masyarakat.

Berpegang teguh pada Ajaran Jawa, "gentur topo brotone", Ngerti dan Laku. Realisasi Janji padaTuhan : Realisasi Kebenaran.

… Pernafasan, Konsentrasi… : dipercaya masyarakat umum, inilah jalan!

Bagaimana mempelajari Kebenaran dan berusaha Melaksanakan, ini luas biasa. Bagaimana membuat orang : meng-iya-kan tanpa berpikir. (Cara lain-lain)

Inti : Pendekatan Kawruh dan laku, peningkatan dan pengembangannya.

Tri Premana (hindu) :
1.      Praktek langsung
2.      Analisa
3.      Meyakini Kebenaran.

Umum digunakan ini. Dalam Gantharwa dibalik. Pengertiannya jauh tapi fisik ketinggalan. Alasan, nuntun dengan laku kapan selesainya. Guru : fokusnya Kawru, Murid : fokusnya Laku.

Metode praktis umum : Gentur Topo Brotone. Secara sederhana mulai dari diri sendiri, tidak usah banyak atau tinggi-tinggi. Misal janji bangun pagi, ‘tepati’, tidak usah dulu untuk orang lain atau Tuhan. Janji sederhana, hal-hal biasa. Disiplin : tanda iman. Misal untuk Mahasiswa, janji belajar tiga jam sehari.

Tolong sebaik mungkin, jangan lihat keberhasilan. Kita bekerja hanya untuk nama Tuhan.
Dengan ‘Jujur dan Rendah Hati’ menerima atau melihat diri sendiri.

“Makan selagi tak lapar, minum selagi tidak haus”, berbuat sesuatu jangan karena nafsu (: dampak muncul halusinasi), jangan sesuatu itu tenggelam karena emosi.

Panca Srada (Hindu):
1.      Percaya pada Tuhan
2.      Percaya pada Atma
3.      Percaya pada Hukum Karma
4.      Percaya pada Samsara/Reinkarnasi
5.      Percaya pada Moksa, Moktah, Mukti - Sempurna bersatu dengan Tuhan (:tujuan hidup)

Samsara, kenapa kelahiran dikatakan kesengsaraan? : Reinkarnasi. Umumnya ini yang terjadi, Cinta belum utuh. Lahir karena solidaritas, Kasih Yang Tinggi tidak tega melihat penderitaan makhluk di alam.

Kemanunggalan dengan Tuhan Kekal, tetap selama manusia mau.

Teman sharing : Doa bonceng Pak Joko, dimana Guru disitulah keberadaan ku.

…pasang pilot otomatis… ‘gunakan kesempatan saat sadar’ (BerLisensi/paten). Perumpamaan, secara manusia punya anak-anak dan harta, saat mati salah-salah rebutan maka pergi ke notaris dan yang berlaku yang dinotariskan, ada perkembangan kenotaris lagi dan yang berlaku yang terakhir.

… "Apapun yang terjadi kita ada dalam kesadaran notaris"…(pingsan, mati, tidur dan sadar).

Pernyataan notaris adalah dengan Lisensi : Pkx3. Sesungguhnya saya …..

Gunakan Lisensi untuk hal-hal besar.

Perubahan jabatan : pegawai – kepala bagian – manager, sesuai talenta masing-masing. Fasilitas dan tuntutan sesuai tingkatan. Roh tetap, fasilitas dan fungsi berbeda. Penderitaan : tergantung ‘mensikapi’ talenta yang dimiliki. Talenta dipandang dari kwalitas, kedudukan duniawi.

Abadi, Tuhan memberi kesempatan Abadi. Fasilitas Tuhan Abadi.

Sikap umum : jangan menyia-nyiakan Janji atau Fasilitas Allah. Jeli pada Janji atau Fasilitas Allah.
Roh : Sikap ‘Lisensi’ atau Sikap ‘Paten’ adalah Kepasrahan Total, yang akan membuat kita menerima makin banyak.

: “ Ya Bapa dengan ini Kuserahkan….
 Bisa pasrah dengan Paten/Lisensi.

Cita-cita itu makin memfokus, makin memfokus. Mau maju jangan berhenti.
…"Ayo dekat-dekatan dengan Gusti"…

 Aku(:kemauanku)……………….Lisensi(:sikap manusia dengan Allah)……………………Gusti

 “Kenalilah Allah sejauh Allah memperkenalkan Diri, sejauh mengenal sejauh itu kita bersikap, sejauh  kita bersikap disitulah keberadaanku”

“Kita akan dianggap Allah sebagaimana kita menganggap Allah” (…Hamba, Anak, Bersatu…     …Raja, Bapak, Aku adalah Dia…)


Kita ‘mbebek’(ikut-ikutan) menuju pada gusti?

            Melihat dari sisi mana, dalam hal apa? Pada awal atau mulanya Allah menciptakan ‘sesuatu’ baik adanya. ‘Semua’ selama ia Berperan dalam Panggilan, ada dalam janji full akan mancapai moksa.
: yang bicara manusia (?)

Masuk Sorga berlaku umum, ‘mati jangan berkeinginan’, hati-hati membuat perjanjian?!

‘Pelaksanaan janjinya dengan semangat lebih’, kwalitas manusia terlihat dari sini.

Janji : kemauan yang sungguh-sungguh, menghargai kebebasan, bahasa lain dari jaminan. Dari awal Allah telah menjanjikan.

‘Berperan dalam panggilan’ pasti masuk sorga.

Jaminan tidak malas dan lalai berperanan dalam panggilan, dimasukkan dalam ‘pernyataan notaris’. Janji bisa jika kita berkuasa.


(Wejangan Kyai Ganjel pada Kliwonan 22 Februari 2001, Padepokan Gantharwa, Cibolerang Indah Blok H1 Caringin, Bandung, Jawa Barat)

(http://gantharwa.org/)


Selasa, 21 April 2020

Hening, Apakah benar Tuhan tidak tampak? Apakah umat manusia maju?


Wayang Kulit dibawah ini merupakan Wayang Purwa  Pandawa Lima                     Prabu Yudhistira                   Raden Bima            R...
Wayang Purwa Pandawa Lima Prabu Yudhistira



Sikap batin seorang Dermawan, ”Dengan kehadiranku apa yang dapat kuberikan kepada sesama !”.

“Apa yang akan kudapat !”, ini sikap seorang yang cinta diri, Egois, seorang pengemis.

Perumpamaan, mengambil air dengan kaos, tidak ada hasil, tanpa disadari baju jadi bersih(:pikiran, pengertian, laku).

 Hening.

            Sunya Suri - sunyi senyap. Bahasa umum, terasa tidak ada. Ini cuek tingkat tinggi, dalam hidup merasakan guncangan atas pembedaan panas dan dingin, kawan dan lawan; secara pribadi, kemauan dan perasaan; dan dalam keheningan merasa terbebaskan –sementara - dari penderitaan semua itu, bahkan merasa manunggal dengan Tuhan. Kita sering merasa hening saat tidur, tidak semua tidur ada dalam doa.

Dalam Kesadaran Tinggi kita tetap sadar saat tidur, mimpi dan saat kematian. Beberapa bentuk pembebasan palsu dari penderitaan yaitu tidur, gila, pingsan, dan meditasi hening.  Buddha Siddarta bukan meditasi ‘heneng-hening’ seperti diatas, tapi go public memberi pengertian yang benar. Penderitaan ada disekitar kita dan kita cuek, misal kita punya teman seperti itu, apakah berkesan dia baik? Umat manusia, alam, binatang semuanya mengalami penderitaan ternyata Tuhan pun tidak cuek, maka diturunkanlah Nabi.

            Hening itu bagaimana? Ada tiga faktor mau, mau meng-iya-kan dan hanya . “Tuhan memerintahkan kita meng-iya-kan dan hanya itu”, isinya hanya itu, meng-iya-kan sepenuhnya. Keheningan diisi secara full atau utuh. Tanpa itu, kita memiliki telinga tidak mendengarkan, memiliki mata tidak melihat dan memiliki pikiran tidak untuk merenungkan. ... Kepenuhan…

Mencintai Allah dalam keheningan, “Cintailah Allah Tuhanmu dengan segenap jiwamu, segenap akal budimu, segenap hatimu dan segenap kekuatanmu”. Kalau kita menghayati benar-benar, disitulah keheningan, disitulah kita mencapai Kemurnian, kejernihan. Banyak diantara kita,”… mau…, tapi…”, ini tanda ragu-ragu atau tidak full.

            Bingung, kita menyerahkan ‘diri’ tapi kita jadi ’kosong’, gimana?

            Men-iya-kan itu bukan konflik, menyerahkan ‘diri ‘ dalam personifikasi, dalam penghayatan, menghadirkan Allah sebagai Damai , Cinta Kasih dan Sejahtera, lebih kearah ‘rasa’, ‘… nanging ana’, Tuhan itu Ada. Dalam Perjanjian Lama, Yahwe, ‘ Aku adalah yang Ada’.

Apa benar Allah tidak tampak? Salah, Allah nampak tapi kita yang tidak dapat, tidak mampu melihat 100%. Yesus melihat Elia, Musa melihat ‘Cahaya Terang’, Saul setelah melihat jadi buta, (Arjuna melihat wujud ‘Semesta Krishna’ saat di medan perang Kuruksetra, BG XI-pen), tergantung Tuhan mau menyampaikan apa?, apakah dengan kehebatan atau yang lain sesuai misi Tuhan. Adaptasi Tuhan itu luar biasa.

Dalam keheningan menghadap Allah, Allah dalam bentuk ‘pengertian’, ‘Akulah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan’, hidup adalah terang, jelas, tidak gelap. Ada tiga faktor/tanda kita melihat atau merasakan Tuhan, pertama dalam Terang atau Kawruh; kedua dalam Kebenaran; ketiga jalan/action/proses. Allah itu kawruh dan laku.  ‘Menjalankan kawruh sing bener’, menjalankan pengetian yang benar. Laku sama dengan mengerti Kebenaran. Kalau tidak itu iblis, kesesatan, menjalankan pengertian yang tidak benar. Dapat membedakan yang benar dan salah (wiweka-pen).

Siapakah Aku? Akulah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan. (Tradisi bharat-India, perjalanan ‘kedalam diri’ dimulai dengan bertanya ‘ko ham’-Siapakah Aku?, dan di akhiri dengan ‘so ham’- Itulah Aku! , Tat Tvam Asi- Itulah Engkau!-pen)

Sesuatu itu dikatakan Benar jika, ‘1 CD ukuran S’, 1-Manunggal, C-Cinta kasih, D-Damai, dan S-Sejahtera. Praktis, secara kongkrit mencintai Allah adalah mencintai ciptaan-Nya, alam, binatang, manusia, dan malaikat. Iptek, mencintai Tuhan dengan makin sehat, makin sejahtera, tanpa disadari mengarah pada kebenaran. Kembali ke basic, Jawa. ‘Aja keladuk wani kurang duka’, berjalan dengan persiapan, kita sering menekankan yang satu dan merusak yang lain. Action penyampaian tetap menjaga keseimbangan.

Keterkaitan Teknologi dan manusia. (Kemajuan di bidang teknologi bagaikan pisau bermata dua, jika dimanfaatkan dengan tepat dapat  memfasilitasi perkembangan jiwa manusia, tapi jika tidak, dapat mengakibatkan kemunduran bagi kemanusiaan-pen), seperti munculnya ketergantungan dan kemalasan.

Apakah Umat Manusia maju? Secara sederhana, umur makin pendek, ada hajatan kematian yang melayat sedikit, tanda solidaritas dan kebersamaan kurang. Hubungan antar manusia bukan lagi dengan ‘rasa’ tapi lebih kearah seperti mesin, hanya ‘fungsional’ belaka, terjadi Pergeseran Zaman, banyak waktu yang disia-siakan untuk mengerjakan hal-hal yang juga sia-sia, makin banyak keterikatan tanpa disadari. Ini tantangan bagi kita. Saat ini Tuhan mengirim banyak Nabi. Keadaan masyarakat, kerja terlalu keras seperti mesin seolah-olah tidak ada hari esok. Keluarga hanya sebagai tempat untuk numpang tidur, anak diasuh oleh baby sister, tata krama yang merupakan ekspresi pribadi hilang, sikap kurang ajar dan tidak menghargai campur aduk.

Menghormati Guru dengan memahami ajaran dan melaksanakan. Tugas Guru adalah menyampaikan buku dan tongkat, setelah itu terserah murid. Gantharwa sebagai pengertian benar-benar luar biasa, sampai-sampai mendapatkan ‘piala’. Kita terlalu sering bermain-main tentang lisensi, menganggap ‘pengertian’ itu main-main. Lisensi itu untuk hal-hal yang besar. Kita terlalu banyak diberi kesempatan.

Standarisasi hal yang besar tiap orang berbeda ?

Hal besar dihadapan Allah, secara volume, kwalitas, dan dampaknya. Misal untuk urusan politik dampaknya  adalah 220 juta orang Indonesia. Tahunya saat masuk ujian, finish baru terasa. Kalau kemampuan ditingkat Nasional, lalu kenapa tidak berkecimpung disitu? Pakailah kesempatan(: waktu, sarana, pengertian, lisensi) secara maksimal.  Intinya kalau maju majulah bersama. Adanya Hukuman menandakan cinta kehabisan jalan. Bukan masalah hukuman tapi bagaimana menjadi baik, kalau bisa jangan sampai menghukum. Bicara disini luas, secara pengertian roh, pekerjaan, teknologi.

§         Kecewa, jenuh, tidak sabar, perbaikan sifatnya pribadi. Mengingatkan secara serius hubungan antara dua pribadi.

§         Minder mengungkapkan permasalahan, mau maju atau tidak?. Kalau mau maju ya resikonya malu dan minder. Kalau kita mengakui Gantharwa adalah  keluarga mengapa harus malu dan minder? Mau maju, kawruh dan disiplin pelaksanaannya harus meningkat, misalnya ‘saya bukan Jokonya, tapi sebagai alat dari Tuhan’.      Hebat = f(Benar), kehebatan seseorang tergantung dari peningkatan kebenarannya.

§         Boleh belajar dari yang lain? Basicnya Kebenaran, itu kita pegang, Boleh, dalam belajar yang sama kwalitasnya, dalam Kebenaran. Tidak, jika ajaran itu bertentangan.

Yang disampaikan hanya sebagian dari pada contoh, kesuksesan ada pada diri sendiri.

-------------

Malam itu kita kehadiran dua ‘Pribadi Murni/Utama’ yang mau berbagi kepada kita.

Pesan Bapak Dharma dari India.

1.      Melihat ke dalam hati masing-masing, membuka diri, tanamkan apa yang telah disampaikan Guru.
2.      Jangan menutup diri, percaya kepada Guru Yang Sejati. Jangan mengeraskan hati. Masuklah kedalam diri sendiri.
3.      Perbaiki cara berdoa, berpikir positif, siapkan hati untuk menerima berkat.
4.      Kekerasan hati adalah hal yang sia-sia, bukalah pintu hati kalian.
5.      Sesuatu yang utuh, kemanunggalan, keseimbangan dimasukan ke dalam hati. Keluar dari diri sendiri, terimalah ungkapan keseimbangan Tuhan.
6.      Antara pikiran dan hati harus seimbang. Satu pikiran dan hati.
7.      Mencintai diri sama dengan mencintai orang lain, Hukum Cinta Kasih.
8.      Jangan ragu-ragu, percaya pada Guru Sejati, ada disini. Biarkan berkarya dalam diri.
9.      Membuka diri bagi Allah seutuhnya. Pasrah, menyerah pada Tuhan.
10.  Jangan biarkan kita dikuasai oleh pikiran. Suara hati yang seharusnya di ekspresikan.
11.  Jangan ada jarak dengan Guru. Jangan ada pertentangan antar saudara, kita adalah satu keluarga.
12.  Bekerjasamalah dengan saudara dan sesama dalam kesatuan yang utuh dan seimbang.

Pesan Sri Krishna.
            “….. sering kita tidak mau mendengar, asik dengan kerja masing-masing. Lihatlah kembali apa yang telah menjadi pilihan dan keputusan kita! dan sadarilah mengapa kita sering ditegur dengan keras, supaya kalia menyadari bahwa ini adalah suatu hal yang serius bukan permainan.
            Masing-masing diantara kita punya tugas masing-masing. Apa jadinya jika kita tahu tugas tapi tidak melangkah. Apa artinya pengertian itu? Itu bukan hiasan. Kesempatan ini tidak dapat ditemui dalam waktu yang dekat. Kapan kalian mau menyadari dan melaksanakan pengertian yang didapat?


(Wejangan Kyai Ganjel pada Kliwonan 14 Desember 2000, Padepokan Gantharwa, Cibolerang Indah Blok H1 Caringin, Bandung, Jawa Barat)
(http://gantharwa.org/)


Rabu, 15 April 2020

Alih Pengertian





            Menganggap orang lain sama seperti aku (: kesalahan) tapi menjadi seperti dia, fleksibel(: kebiasaan, pendapat, cita-cita) selama tidak bertentangan secara prinsip. Seperti naik kuda, dikendalikan untuk mencapai tujuan. Kita turuti dia, tanpa disadari ia mengikuti kita; penuhi kebutuhannnya dulu baru tawarkan. Cerita yang menyenangi dia, yang positif menurut dia pelan-pelan tunjukan bahwa dibalik itu ada negatifnya.

Pikiran pertama orang-orang yang datang adalah wajar melihat  sesuatu itu apa keuntungannya bagiku, bukan aku butuh kalian tapi kalian butuh aku, tidak mau rugi. Kita tidak harus goncang . Contoh seperti Ibu kepada anak-anaknya, ibu beradaptasi berbahasa anak-anak, pelan-pelan diajak berbicara yang benar.

Langkah mengenal, kesan pertama, iklan adalah tampil menarik, orang suka yang menarik; ada gula ada semut, gaet cewe-cewe otomatis yang pria datang, tampil mengagumkan, membuat heran, dalam hal apa? Di bidang yang ditekuni. Langkah selanjutnya adalah percaya bahwa ini dibutuhkan,  dan meyakini, mengiyakan bahwa inilah yang berharga.

Hati-hati saat mengungkapkan kehebatan jangan sampai berkembang menjadi kesombongan. Dalam perkataan terlihat kwalitas dirinya. Jadilah seniman dalam penyampaian. Keillahian menyangkut keseluruhan yang positif, empat saudara satu pancer.

Terjadinya Perubahan ditentukan oleh diri sendiri, diri sebagai penentu. Orang lain hanya sebagai terang, cahaya, ikut berperanan dalam perubahan, untuk itulah para Nabi turu ke dunia. Hal lain yang mempengaruhi perubahan adalah kemauan untuk berubah, banyak yang mau tapi tidak mengerti maka butuh cahaya.

Yang diterima apakah ‘diakui sebagai mutiara’? ini yang menentukan sukses dalam bidang masing-masing. Gagal dalam kata-kata (penyampaian ajaran), tunjukan dalam sikap atau tauladan. Membentuk diri pribadi yang berkwalitas seperti yang diajarkan, dan penempatan yang tepat dalam lingkungan.

Dari buahnya yang baik mereka akan melihat tanamannya. Temukan mutiara dalam kehidupan kita apa adanya.

Kehilangan benda.

Jangan hanya memperhatikan  masalah bendanya, tapi mengapa bisa hilang? Merupakan teguran, daripada yang berharga hilang. Tanda rakus, tidak memperhatikan kesejahteraan karyawan. Tindakan pencurian adalah tanda tidak mampu atau lumpuh,(:hati) mau minta, ya jangan mencuri. Hidup ada negatif dan positif, harus ada take and give.

Seperti uang(:sesuatu yang ada nilainya), berlebih tolak; menerima beri yang lain. Butuh diterima, dosisnya tepat. Sebagai petani dosisnya menerima padi.

Tidak sesuai. Dampaknya, gagal penggaraman karena uang. Menerima kalau itu mahal, menerima sesuai tingkat kesulitan, murah tidak di hargai. Kalau tahu ia orang kaya yang pelit silakan ‘peras’, orang lain bebas.

Menerima pasien jangan pasang tarif, jika pasang hasilnya tuntutan. Menerima sukarela, tidak sembuh karena suka rela. Menerima dengan kepantasan; secara motif, cara, dan dampaknya. Harus mengerti utuh. Karunia Allah jangan fokus pada diri sendiri nanti tergoda. Jangan diperbudak pasien. Jasa atau uang membuat sungkan, jangan berhutang budi.

Siap dituduh, dimaki-maki, harus tegas dalam prinsip. Kembali ke basic Kasih.

Mau tanding untuk makin berkorban atau melayani, inilah kasih. Tanding ‘apik-apik’an, tanding ngelakoni ajaran leluhur ?!

Melayani diri sendiri dengan gaya melayani orang lain, Hukum Karma. Ukurannya seberapa, untungnya lebih atau kurang, kita sendiri yang tahu.
Ditutup dengan doa, “Ya Bapa berkati kami, agar kami pantas dan berkenan kepada Mu”. Amin.


(Wejangan Kyai Ganjel pada Kliwonan 03 April 2000, Padepokan Gantharwa, Cibolerang Indah Blok H1 Caringin, Bandung, Jawa Barat)

(http://gantharwa.org/)



Sabtu, 11 April 2020

Mandireng Pribadi, Pilihan, Selektifitas



Kiai Ganjel


Mandireng Pribadi.

Leo : Tetap pada dirinya sendiri. Selalu bersemangat.
Bapak : Mandireng Pribadi itu tidak melihat terlalu tinggi, karena dengan melihat yang tinggi jadi minder atau dengan melihat yang rendah bisa sombong. Mandireng Pribadi ialah yang menikmati proses. Mandireng Pribadi tidak ‘muluk-muluk’—diluar kapasitas, tidak melalaikan hal kecil-kecil, tetap pada diri sendiri dan sabar.

Anak sekolah, SMP, suka hal-hal mistis dan tidak ingin sekolah?

            Ia suka total pada hal-hal itu, silakan, apa salahnya? Jangan langsung menganggap negatif. Masalah sekolah, ia tidak mampu sekolah atau ia tidak mau sekolah? Masalah diperdalam, seperti itu apa karena terobsesi atau memang itu panggilannya? Yang penting adalah Kepantasan, memberikan sesuatu alasannya mengapa, apa!? Berikan beberapa sudut pandang atau alasan-alasan sebagai pertimbangan dia.

            Guru bercerita tentang pengalaman seorang pelajar Sastra Pracis, kuliah selama enam tahun ia tinggalkan untuk melaksanakan prinsipnya menjadi Petani. Penekanannya pada memiliki prinsip, jika memiliki prinsip tidak ada yang bisa menghalangi! (ingat cerita Bima Berguru-pen)

            Ia membuat kesimpulan dari apa yang ia alami. Belajar memberikan sesuatu seolah-olah kita menjadi anak seumur itu dan menjelaskannya, mengikuti arus.

            Masalah pilihan, dari sisi anak sekolah, tugas anak sekolahan ya sekolah. Tanpa disadari kita memilih karena ikut-ikutan. Bahasa agama, panggilan kepantasan, ‘man on the right place’. Sudut pandang kita telah terwarnai tentang anak sekolah. Sesuatu kita iyakan menjadi kebenaran. Umumnya kita melihat sesuatu memakai kaca mata berwarna dan segalanya berubah sesuai warna kaca mata.

            Mengajar harus dalam kemampuannya, dalam bahasanya. Memulai dengan kaca mata salah, mengikuti dia, tidak ‘perang’, kemudian dituntun. Bapak sharing tentang mengajar, mengajar mulai dari dimana ada kesamaan, titik temu, jangan yang bertentangan atau yang memicu perdebatan. Yang sederhana, yang sepele tidak usah yang hebat-hebat. Tuntun mulai dari kesamaan. Misal dalam angka, menuntun dari 5 ke 6, kedekatan/kesamaan bukan langsung 10.

Pilihan atau Memilih.

            Tidak bisa memilih!? Memilih tidak mudah! Untuk dapat memilih harus punya,

1)      Keberanian, banyak orang tidak punya keberanian. Berani nggak melaksanakan? Berani konsekwen terhadap kebenaran? Dari sisi waktu, sesuatu itu sudah salah kok diteruskan? Itu adalah kesia-siaan. Ini bagian dalam kesungguhan. Bisa berani karena,

2)      Mengerti, karena tidak mengerti menjadi ragu-ragu, dari keraguan maka takut pun muncul. Mengerti dalam hal,

Ø      Kemampuan, sering kita bertanya mampukah saya? Bercita-cita karena diwarnai kemampuan, tidak berani ambil resiko; memang banyak berhasil tapi keberhasilan yang sepele-sepele.

Ø      Kemauan, aku mau nggak! Yang pertama adalah  ‘aku mau’, yang lain bagaimana nanti, bila berhasil hasilnya luar biasa dan resiko gagal pun besar. Bercita-cita diwarnai dengan kemauan.

3)      Menyenangi.

Gantharwa diharuskan menjadi ia yang bercita-cita yang diwarnai  kemauan. Dari sisi lain pilihan juga terjadi karena ancaman, mendapatkan hasil langsung atau kongkrit, tahu diujung nanti luar biasa dan karena iming-iming.

Seorang Guru seperti ‘air dan angin’, Guru menurunkan DiriNya menjadi atau berpola seperti murid dan bersama dia. Bapa ‘berpola manusia’ untuk menolong manusia. Sulit menjadi dia—pasien, yang minta tolong, murid. Memberi kawruh tahu resikonya apa? Hasilnya bagaimana? Menjadi cermin yang luas—didepan, dibelakang, diatas—karena dia menjadi penentu? Jangan memberi keputusan, salah-salah kita menjadi pemegang keputusan.

Bapak dengan jujur mengungkapkan, “Masalah mendasar tanya jangan di duniawi tapi tanya di dunia roh”(karena jawaban di alam duniawi banyak diwarnai oleh kedekatan sebagai keluarga, agama dsb, sehingga tidak asli lagi-pen)

Banyak mendengar, jangan memusuhi, jangan menyalahkan. Orang ingin dihargai, tidak ingin disalahkan. Tahu kesalahan karena dia menyadari sendiri, bukan kita yang memberitahu bahwa itu salah.  “Menurutmu mana yang benar?”, akal-akalan Yesus, diplomasi Yesus.

Lihat latar belakangnya!

Karena stress melihat yang nyata, lingkungan dia, mengalami kekecewaan yang besar dan akhirnya menyimpulkan.

Mau hidup seperti apa? Hidup yang bagaimana? Perlu ketelatenan dan kesabaran. Dalam keadaan stress, melamun akan mudah terlena akan godaan. Potong kompas, masalah inti…

Selektifitas atau Kebenaran.

Sering iblis itu iklan, nipu dalam bahasa kita dan dibelokan. Biar laku sepintas-sepintas lebih indah, lebih bagus. Yesus mengatakan, “Mereka seolah-olah melebihi Aku”. Butuh kemantapan, menjadi kolektor-kolektor pengertian yang prinsip atau mendasar.

Basic : Yesus sadar, Prinsip-Prinsip Kebenaran di Pegang. Secara mendasar, ia menyampaikan pesan kebenaran nggak? Merek-merek pribadi di tinggalkan, yang penting pesannya kebenaran nggak? Keaslian Kebenaran, basicnya Bersifat Keillahian. Ini kita pegang teguh.

Milikilah Karunia untuk Mengerti. Melihat dan mendengar untuk mengerti. Mengerti akan sesuatu itu apa? Itu bermanfaat nggak, kalau tidak itu pemborosan.

Masing-masing talentanya lain-lain, jadilah sportif, kita semua mutiara untuk saling melengkapi dan semua punya kelebihan.

Berpikir yang sederhana, yang lugu, Gantharwa masing-masing memurnikan kaca mata-kaca mata pribadi yang berukuran dan berwarna tertentu. Sadarilah kepenuhan pengertian sesuai dengan Panggilan. Penuhnya beda karena bidangnya lain, kepenuhan tidak sama. Pengertian tukang kayu, ya, penuhnya pengertian tukang kayu bukan masalah bintang.


(Wejangan Kyai Ganjel pada Kliwonan 28 Februari 2000 di Padepokan Gantharwa, Cibolerang Indah Blok H1 Caringin, Bandung, Jawa Barat)
(http://gantharwa.org/)

Rabu, 08 April 2020

Lupa Doa Pagar, Merawat 'Sangkar'

Kebersamaan, Guru dan Para Muridnya



Mari setia pada hal-hal yang kecil. Doa merupakan kesempatan bertemu Tuhan. Tuhan tidak pernah bermasalah yang bermasalah adalah manusianya. Lupa doa pagar dampaknya tidak ada bagi Allah tapi dampaknya kepada kita sendiri. Kenapa? Apa karena bodoh, tidak juga karena sudah diajari; lalai, mari kelalaian yang kecil kita perhatikan dan malas. Jangan merasa bisa tapi bisa merasakan.

Disini semuanya tidak dipaksakan, cinta itu penawaran bukan pemaksaan. Dalam keluarga Gantharwa tidak ada aturan yang diharuskan. Tata krama tetap dilaksanakan karena merupakan pancaran hati kita. Bebas bukan karena diatur tapi karena menyadari.

Renungan, gambaran pesta.  Didalam ruang pesta Bapak menyediakan makanan yang enak-enak; enak bagi Bapak tapi itu semua bukan selera orang-orang yang ada di pesta.

Sekarang dan untuk selama-lamanya, apakah dengan itu kita tetap dekat dengan Tuhan secara manusiawi, secara roh itu tak masalah. Sejauh mana kesungguhan, kepekaan hati kita sejauh itu pula kita gunakan untuk menyikapi hidup.

Anak Tangga Keimanan,

1.      Disiplin pada aturan, Syariat.

2.      Menyenangi, Tarekat.

3.      Mengerti makna, Hahekat.

4.      Menjalankan Pengertian utuh, Marifat

Kepada yang baru belajar berdoalah sebaik-baiknya, dalam sikap. Untuk menghadirkan dampak yang baik pada lingkungan.

Lanjutan doaMendoakan orang, bagaimana membuat orang komunikasi dengan Allah. 

Orang itu kepada Tuhan sehingga dia menerima berkat. Bisa dalam bentuk teguran atau bujukan, ”Buka hatimu terimalah kasih Tuhan”, bisa juga secara batin. Aktifitas waktu banyak gunakan untuk konsultasi, menyentuh orang itu dengan kesadarannya agar mau menerima kasih Allah. Pertolongan pada intinya adalah memberi Pengertian dan Kekuasaan. Buat cerita yang isinya Lima Langkah Doa.

Kebingungan, bagaimana menolong orang sakit, yang hanya diam tidak bisa menasehati?

Tantangan. Tegur atau sentuh, dalam batin, agar menerima cahaya dari Gusti. Tugas dari Allah tidak dituntut hasilnya, berikanlah dimana kita punya.

Diperlukan kemauan, kemampuan dan kesetiaan untuk menyampaikan Pengertian agar dia mau menerima kasih Tuhan, sehingga orang itu manunggal dengan Tuhan.  Perlunya kelemah-lembutan, lebih kearah fisik, berhasil tanpa merusak, mengambil ikan tanpa membuat air menjadi keruh; menyindir dan yang disindir tidak marah tapi senyum.

Secara dalam adalah Rendah Hati, ketemu yang lebih rendah tidak sombong dan ketemu yang lebih tinggi percaya diri. Dengan keberadaan kita ia menjadi senang, masuk lewat pintu dia dan keluar lewat pintu kita.

Hormat itu kepada,

1)      Yang menegur kita –pelajari cara menegur dan situasi yang di tegur.

2)      Yang bekerja keras diladang tuhan.

3)      Guru –orang tua, guru sekolah, dosen.

Bereaksi positif, menegur, menasehati itu tanda Cinta biar kita selamat.

Langkah Menginduksi :

a.      Hadirkan Keheranan dengan kelebihan atau keunggulan (pengertian, tinggkah laku, sikap, pakaian, dsb).

b.      Dari heran akan membuat Kagum.

c.       Kekaguman menimbulkan Kepercayaan.

d.     Dalam kepercayaan ia akan meng-iya-kan, nurut.

Memegang yang ia cari, mencari sesuatu yang orang lain butuh. Sesuatu yang mendasar harus kita miliki. Seorang pemimpin harus memiliki kelebihan dan kelebihan itu dibutuhkan. Mengetahui secara umum sifat dari manusia, manusia menginginkan keindahan, kenyamanan, pintar, aman, keceriaan juga kebersihan. Orang yang berhasil (dihadapan manusia-pen) ialah yang mengetahui sifat manusia. Mau tampil menang harus tahu andalannya apa? Terjadi benturan karena tidak tahu andalannya.

 Mengenal Allah sejauh Allah memperkenalkan Diri, orang yang berhasil dihadapan Allah. Apa yang anda mampu dengar, yang anda mengerti dari yang disampaikan. Mengerti dihadapan Allah yang dimengerti. Membuka diri agar Allah memberi tahu apa yang harus dimengerti secara pribadi. Yang tidak mengerti jangan disampaikan, jangan ngaku-ngaku mengerti, sok tahu, ini yang kurang ajar, salah-salah akan menyesatkan orang. Pengetahuan yang sia-sia, misalnya menghitung bintang di langit, cepat-cepat di cut ini bisa mengacau, bisa menjadi liar.

Pengertian lebih ke arah tugas, sebagai seorang petani harus mengerti semua tentang pertanaian, sebagai pelaut mengerti tentang kelautan, sehingga pengertian terhadap tugas full.

Umumnya orang tidak mau disalahkan, menegur atau merubah orang jangan ditabrak, jangan ‘to the point’, mulai dari titik temunya dimana. Menunjukan bahwa berubah sikap bukan karena orang lain tapi berubah sikap karena dirinya sendiri, di ajak pada pemikiran yang benar.

Ditegur, berakhir dengan perdebatan, terjadi karena tidak mengerti apa yang dia mengerti (kesadaran yang ditegur dimana-pen); belajar menjadi orang lain.

Menyediakan diri, dengan telinga untuk mendengarkan; kaki tangan untuk melakukan Kebenaran. Menyediakan diri sehingga weruh meningkat merupakan proses pendewasaan. Pikiran-pikiran negatif tentang Allah muncul cepat-cepat di cut, mengenal diri saja tidak semua kok mengenal Allah utuh!?

Berbahagialah – diri, keluarga, masyarakat, negara- yang mendengarkan dan tekun melaksanakan Sabda Allah. Pelajaran 35 hari adalah kegiatan kita dalam keluarga, masyarakat sehari-hari yang utuh.

Merawat sangkar.

Bagaimana membuat sangkar? Membuatnya dengan, Pelajaran Dimengerti, merupakan Kawruh atau Desain.

Prosesnya? Kliwonan (politik, jumat/go public-pen) merupakan proses untuk mengerti.

Manjadi? Pengertian di-iya-kan, menjadi sangkar.

Merawat sangkar? Dengan setia, dihadapan Allah betapa pentingnya kesetiaan.

Bekerja dengan Allah dilihat karena Kasih, karena Kesetiaan bukan kwalitas. Tidak seperti Perusahaan yang menerima orang dengan kemampuan, dengan seleksi dan kwalitas. Justru mungkin orang yang rusak yang butuh Gantharwa, dengan resiko nama Gantharwa tercoreng.

Kalau kita tidak menggunakan kesempatan berarti itu suatu kehilangan, gunakanlah kesempatan sebelum menyesal. Jabatan dalam rohani itu bebas hambatan, ‘jadi Guru’ lebih kearah kwalitas kebenaran. Bersaing untuk makin berkwalitas bukan saling berebut kursi. Mission Tuhan harus tetap utuh. Kalau mau menjadi terbesar harus menjadi yang terkecil.

Focus kumpul lebih kearah ‘door prize’, seperti dalam gambaran pesta. Makna lebih dalam adalah Pesta yang membawa Hidup Abadi.


(Wejangan Kyai Ganjel pada Kliwonan 03 Februari 2000, di Padepokan Gantharwa, Cibolerang Indah Blok H1 Caringin, Bandung, Jawa Barat)
(http://gantharwa.org/)

Senin, 06 April 2020

Pakai Sorjan, Emansipasi Wanita

Pak Joko dan Pak Bagyo


David : Pakai sorjan harus dan wajib, secara sederhana, merupakan sarana yang kelihatan dalam Kemanunggalan. Memberi contoh kepada junior. Tanda dan yang di tandai, Murid yang baik mencontoh Gurunya.

Guru : Kesulitan antara yang lunak dan yang keras. ‘Jangan sampai ditegur ngerti sendiri’. Cara lunak dan keras ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Minimal kita kumpul tidak merokok. Merokok atau tidak nggak masalah, kita ‘kebal’, tapi bagaimana yang lain apakah kebal? Minimal hasil yang baik kelihatan.

Keluarga yang berhasil tidak ada aturan, bukan orang yang tidak tahu aturan tapi tahu sendiri, menyadari sendiri. Aturan bukan dilakukan karena kewajiban tapi karena solidaritasnya tinggi, karena setia kawan, bukan karena terpaksa.

Manusia ada roh dan tubuh. Tubuh memerlukan tanda secara lahiriah. Secara umum tanda-tanda itu kita pakai. Roh, sikap mental adalah Jawa. Secara interen tidak masalah karena mengutamakan kwalitas. Karena perkembangan perlu contoh kebersamaan, untuk kepentingan pribadi, seberapa sih beratnya pakai sorjan? Refleksi diri.

Belajar pengendalian diri, belajar disiplin. Gentur tapa bratane. Disiplin tanda Keimanan. Barang siapa tidak disiplin pada hal yang kecil tidak akan menerima yang besar. Kita tidak bicara secara pribadi tapi secara Gantharwa. Mulailah dari yang kecil, seperti Gedung yang besar tersusun dari pasir yang kecil.

Memang itu perlu konsekwensi, kita jadi malu, atau ditertawakan. Secara kwalitas, ditegaskan supaya Pakaian Jawa ini mulai dipakai. Identitas menunjukan kwalitas. Kawruh difungsikan, diterima dan diperanankan, realisasikan.

Fernando : Carilah kebanggaan yang sejati. Pakai sorjan akan menolong untuk lebih baik, secara umum kita masih membutuhkan. Jika tidak pakai sorjan, untuk lebih kurang ajar makin banyak atau lebih liar.

Jender, Emansipasi Wanita.

Umum diartikan negatif, menentang suami, adanya persaingan.

Fungsi sosial masing-masing, ayah mencari nafkah, ibu mengurus rumah tangga, perkembangannya ada perbedaan perlakuan atau terlalu merendahkan martabat wanita.

Dalam keluarga tidak ada ‘satu pemimpin’ harus laki atau perempuan tapi Satu Kepemimpinan. Fungsi ‘peranan asli’ tetap, masing-masing punya tanggung jawab.

Guru exact, ‘sama dan identik, ’Joko adalah Joko’. 1+1=2, 2 identik dengan 2.

Sederhana, pria dan wanita anggap seperti ‘stang dan roda’, sama itu motivasi, arahnya sama, kedua-duanya membawa ke tujuan. Secara fungsi, untuk bergelinding roda yang unggul, untuk stabil stang yang lebih baik. Sama tapi fungsi beda. Secara fungsi tidak sama dan saling melengkapi, tidak bisa saling membanggakan.

Untuk berhasil butuh kemauan dan kemampuan.

Bicara tentang apa yang lebih unggul, lebih baik mana stang dan roda? Persamaan hak itu tidak melihat laki dan perempuan, tapi siapa yang mampu dan punya kemauan. Begitupun halnya dalam Negara, untuk menjadi Pemimpin Negara tidak ada kaitannya dengan masalah melahirkan. Perbedaan dalam yang mau, yang mampu, dan yang mau dan mampu. Dimana mempersoalkan dan dimana tidak, yang memiliki kuasa punya tanggung jawab. Sama, lebih kearah kwalitas, motivasi dan dari segi fungsional beda –jenis, laki, perempuan.

Dasar, setiap pribadi ingin damai dan sejahtera, juga lingkungan yang mendamaikan untuk diriku, tapi karena banyak pribadi salah-salah dapat terjadi benturan. Secara sederhana duniawi yang wajar atau rasa universal yang sehat, salah satu membuat tidak damai itu salah.

Untuk mengembalikan, media-media yang digunakan Allah, karena pada zamannya yang dianggap tinggi martabatnya adalah pria, maka Yesus pria, Allah disebut Bapa. Suasana patriakat dimana pria martabatnya tinggi saat itu, karena situasi dan kondisi, berkembang negatif sadar tidak sadar pria menjadi liar dan wanita terbelenggu.

Sikap batin atau berdoa yang berkenan pada Allah.

Menurut anda atau dari pengalaman anda sikap terbaik apa? Tidak usah malu, apa adanya.

Hasto : Contoh dari yang di anggap sukses, mempersiapkan diri sebagai Dia.
Sikap batin, ‘Terjadilah kepadaku menurut kehendakMu’.

Ade : Sikap dengan penuh kerinduan.

Guru : Doa atau Sembah Hyang adalah komunikasi supaya manunggal. Berdoa kepada Allah adalah bagaimana supaya manunggal dengan Allah. Mendoakan orang lain adalah bagaimana agar orang lain menyatu dengan Allah.

“Sembahlah Allah dalam roh dan kebenaran”. Roh, berdoa jangan karena terpaksa tapi dengan kerinduan. Mencium tiang beda dengan mencium orang. Karena Allah adalah Pribadi. Komunikasi dengan Allah bukan karena terpaksa tapi dengan kerinduan. Kebenaran, persoalannya yang benar dan kita pun menjadi orang benar.

Doa ada tingkatannya, dengan Lima Langkah Doa.
1)      Self Correction.
2)      Pertobatan.
3)      Pengampunan.
4)      Syukur, Terima Kasih.
5)      Pengorbanan.

Doa yang Sumeleh, ‘Jadilah KehendakMu’. Faktor keberhasilan doa adalah Kepasrahan.

Doa dengan meminta, berkesan Allah tidak memberi kalau tidak diminta. Allah selalu siap dengan KasihNya tapi manusia menolak, sering menolak dan akhirnya meminta. Menolak kasih adalah dosa. Yang lebih tepat adalah “…mau menerima…”

Bicara tentang kaitannya dengan Allah masalahnya adalah Kemauan. Formula bagus selalu saya gunakan, dalam dunia ini harus berkembang. “Ya Tuhan saya mau menerima…”.

 “Ya Tuhan saya mau Kau beri Kemauan dan Kemampuan untuk Pasrah kepadaMu”

v     Jadilah KehendakMu! Karena apa?

v     Belajar membuka diri.

v     Kawruh atau Pengertian yang mampu diterima dalam logika, Kawruh atau Pengertian yang mampu diterima dalam kepercayaan.

v     Membonceng pengertian.

v     Menotariskan Pengertan Tertinggi atau Kesadaran Tertinggi, apa pun yang terjadi.

v     Lisensi secara kwalitas dan formal, diperpanjang tiap satu suro.

v     Hubungan dengan Allah, secara Hukum – Berbuat benar, secara Pribadi –Keakraban. Hubungan dengan Allah baik dan perbuatannya berkenan padaNya.

v     Aktif dan Laku, masih terbelenggu oleh Iptek, aktif bergerak dan laku aktifitas.

v     Kehendak Allah itu adalah Sederhana, itu menunjukan Kasih Allah.

v     Roh dimensinya Rasa, bahasa universil adalah Keadaan. Pembicaraan adalah jembatan untuk mencapai Keadaan.

v     Kebiasaan, pengalaman, sejarah, logika mempengaruhi kita menangkap sesuatu. Kesulitan Guru adalah memberi apa yang di-ingin-i murid.


(Wejangan Kyai Ganjel pada Kliwonan 24 Januari 2000, di Padepokan Gantharwa, Cibolerang Indah Blok H1 Caringin, Bandung, Jawa Barat)
(http://gantharwa.org/)