Tampilkan postingan dengan label Babaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Babaji. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 September 2026

Journey To Freedom - Bhakti Sutra dari Mahavatar Kriya Babaji

 

Mahavatar Kriya Babaji

 

 

Mahavatar Babaji:

"Siapa pun di antara kalian dapat menjadi begitu selaras dengan Kesadaran Kesatuan, yaitu Kesadaran Kosmis Kristus-Krishna, sehingga kalian menyadari bahwa semua pikiran adalah pikiranmu sendiri; dan itulah tujuannya. Setiap sel abadi dalam dirimu adalah hologram dari keseluruhan ciptaan. Energi tidak mati atau padam; ia hanya berubah bentuk. Kalian adalah bagian dari Tuhan yang mencintaimu hingga engkau ada. Kini saatnya bagi seluruh umat manusia untuk masuk ke dalam esensi diri dan menemukan benih-benih kristal Kebenaran yang kalian semua miliki. Matriks kristal ini menunggu dengan sabar untuk meletus keluar menuju kebebasan cahaya siang hari."

Buku Bhakti Sutra karya Mahavatar Kriya Babaji adalah sebuah prospek yang mengagumkan dari awal hingga akhir. Sejak awal, saya merasa sangat yakin bahwa Sutra-sutra itu sendiri akan disampaikan dari Babaji kepada saya dengan kejelasan sempurna melalui Metode Komunikasi Pencitraan-Nya. Kita mengetahui dari buku "Autobiography Of A Yogi" karya Paramahansa Yogananda bahwa Babaji berkata kepada Lahiri Mahasaya pada pertemuan pertama mereka tahun 1861, ketika Beliau memberikan teknik-teknik Kriya Yoga kepada Lahiri: "Ketika seseorang menyadari kesatuannya dengan umat manusia, semua pikiran menjadi stasiun pemancar yang melaluinya seseorang dapat bekerja sesuai kehendaknya." Sejak tahun 1985, Mahavatar Kriya Babaji telah berkomunikasi dengan saya melalui Metode atau Teknik Transmisi Pencitraan ini.

Kebenaran besar dari Kriya Yoga ini terus mengalir sepanjang kontribusi saya pada buku Bhakti Sutra Mahavatar: "Aku bukanlah pelaku." Lahiri Mahasaya berkata: "Japa (pengulangan) yang konstan terhadap Pranava (meditasi), Omkar (melantunkan OM), yang berlaku dengan sendirinya dan terus-menerus terfokus pada-Nya sebagai wujud Ishvara [Tuhan, Sang Maha Ada], serta mempersembahkan segala tindakan kepada-Nya seolah-olah engkau bukanlah pelakunya sendiri; itulah Kriya Yoga."

Mahavatar Kriya Babaji menyampaikan tujuan dari buku 108 Bhakti Sutra-Nya: "Dahulu kala, manusia hidup selaras dengan Tuhan, dengan kehidupan, dengan dirinya sendiri, dengan alam, dan dengan sesamanya. Saat ini, pasir waktu berada pada jam tergelap sebelum fajar Zaman Sathya (Yuga Kebenaran) di mana akhir dari Kali Yuga (zaman kegelapan) melebur menjadi zaman baru. Pada masa kini, Yang Ilahi sedang memanen buah yang telah masak dari mereka yang telah berjerih payah di kebun anggur Bumi dan telah menciptakan kesempatan untuk lulus menjadi Makhluk Cahaya.

"Para orang bijak dan rishi di Himalaya telah mempelajari pelajaran di mana kelulusan membawa mereka menuju keabadian, pencerahan, kebebasan, Jivan Mukti. Mereka telah mempelajari dan memberikan pengetahuan ini kepada dunia bahwa ada kesatuan mendasar yang vital di antara semua tradisi spiritual di Bumi. Dalam sutra dan komentar ini, kami telah berbicara melalui tradisi Kristen dan Hindu. Kami mengakui dan menghormati bahwa semua jalan dan tradisi menuju kepada Tuhan. Meskipun jalan-jalan ini tampak berbeda, semuanya bersatu dan menjadi satu melalui kebenaran yang mengalir di antaranya bagaikan urat emas yang kaya, 'Tuhan adalah cinta.' Bagi kalian semua, kini adalah saat perubahan, transformasi besar; secara pribadi, secara planeter, dan transformasi ini juga mengalir dengan mulus ke dalam dimensi-dimensi lain yang terhubung erat dengan pengalaman Bumi."

"Para orang bijak Himalaya telah mencatat eksperimen mereka dalam memperoleh kebebasan dari batasan kehidupan fisik selama berabad-abad, baik secara lisan maupun tertulis. Inilah 'Journey To Freedom' dari judul buku ini, yang merupakan pencerahan bagi Tradisi Hindu dan keselamatan bagi Tradisi Kristen. Untuk kumpulan pengetahuan dan kebijaksanaan ini, saya telah memasukkannya ke dalam 108 Sutra yang membentuk Ayat-ayat Bhakti Sutra ini. Saya dengan sengaja telah memilih penerima transmisi Sutra-sutra ini serta kedua komentator berdasarkan kualitas jiwa atmik yang telah terkumpul sepanjang waktu. Salah satu komentator, Swamini Vishwalakshmianandama, berperan baik sebagai penerima transmisi saya maupun penulis Penafsiran Spiritual (Komentar) untuk setiap sutra. George Tsatsos, mengomentari setiap sutra dengan pengetahuan dan kebijaksanaan besar tentang kondisi manusia masa kini, serta sebagai seorang penjelajah yang mengembara hingga ke kedalaman cakra hati dan Penyatuan Ilahi dengan Diri Sejati dan Sang Maha Ada, Tuhan."

"Bahasa Inggris dituturkan di seluruh dunia, dan itulah sebabnya kami menulis dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa sehari-hari masa kini, maka, manual ini dikirimkan kepada kalian dari Tradisi para orang bijak Himalaya Sepanjang Masa. Saya mengirimkan Bhakti Sutra ini sekarang di masa kalian bagi mereka yang sungguh-sungguh siap untuk bekerja bersama guru spiritual dan Guru mereka, atau sendirian di gua kalian di mana pun itu berada—rumah dan kehidupan berumah tangga atau gua gunung, agar dapat menuai hasil panen dari semua inkarnasi kalian."

"Di dalam Manual Bhakti Sutra ini kalian akan menemukan langkah-langkah menuju pencerahan, beserta berkat dan pengurapan saya kepada Sri Swami Vishwananda untuk membawa kepada seluruh dunia teknik-teknik Atma Kriya. Kalian akan menemukan jalan menuju transformasi ke dalam Diri Sejatimu—Realisasi Diri-Tuhan, 'Journey To Freedom' (Perjalanan Menuju Kebebasan)."

"Kalian semua terdiri dari energi Kosmos, energi universal Cahaya. Ketahuilah satu kebenaran ini di jalan menuju pencerahan, kalian dilahirkan dari gelombang suara Kosmis Universal OM, menjadi Cahaya, dan kalian akan selamanya menjadi Cahaya. Ketika kalian melepaskan diri dari keinginan-keinginan duniawi dan pengalaman fisik, kalian akan menemukan Cinta Cahaya ini yang merupakan diri kalian, yang telah menjadi diri kalian sejak awal, dan yang akan selamanya menjadi diri kalian. Cinta-Cahaya Ilahi itu berada di dalam hatimu bagaikan inti suci di dalam sebuah sel yang memerintah, menghidupkan, dan mencintai sel itu hingga ada. Cinta Ilahi yang merupakan dirimu adalah selamanya Kesadaran Kristus-Krishna murni-mu. Ingatlah Cinta Ilahi ini di dalam hatimu, dan kalian bebas untuk menjelajahi langit berbintang keabadian, sambil tetap terjaga dengan aman dalam denyut jantung Yang Ilahi yang berdenyut melalui seluruh ciptaan. Jadilah demikian!"

Swamini Vishwalakshmianandama: Mahavatar meminta agar saya menuliskan penafsiran spiritual untuk Bhakti Sutra-Nya. Tidak pernah dalam kehidupan ini saya merasa serendah hati ini terhadap apa pun yang pernah saya pikirkan atau lakukan. Saya telah melihat bahwa tanpa kasih karunia Tuhan, tanpa bantuan Babaji dan penyelarasan saya dengan Beliau serta Satguru saya, Sri Swami Vishwananda, saya tidak akan bisa menuliskan apa pun. Dan sesungguhnya, saya tidak melakukan apa-apa. Saya telah mengalami ajaran Weda: "Aku bukanlah pelaku." Kesadaran bahwa segala sesuatu adalah Tuhan, bahwa tidak ada "Aku", dan bahwa aku tidak ada apa-apanya tanpa Tuhan adalah pengalaman paling merendahkan hati yang pernah saya ketahui sekaligus paling menakjubkan. Ini tidak masuk akal bagi pikiran! Mahavatar membimbing saya menuju kesadaran ini di dalam hati dan saya menyeret kepribadian saya hingga ke tepi kesadaran itu dan tetap berpegang padanya sebagai identitas saya hingga saat-saat terakhir. Namun, oh, betapa besar kebebasan yang datang saat saya menyerahkan ego kepada Yang Ilahi di dalam diri! Menyadari bahwa penjelajahan menuju pencerahan ini tidak dapat dipertahankan secara terus-menerus, hati dan jiwa saya merindukan apa yang Babaji bicarakan dalam Sutra-sutra ini. Babaji memberi tahu kita untuk berlatih sadhana spiritual kita dengan sepenuh hati, dan Realisasi Diri, Pencerahan, akan datang. Iman dan kepercayaan saya diletakkan pada guru-guru spiritual saya untuk membantu saya di jalan menuju tujuan seluruh umat manusia, Penyatuan Dengan Yang Ilahi.

Dengan kasih karunia Mahavatar dan Sri Swami Vishwananda, saya mendapati diri saya semakin dalam dan semakin dalam masuk ke dalam Diri Sejati saat menuliskan Penafsiran Spiritual untuk Bhakti Sutra Mahavatar Kriya Babaji ini. Proses ini semakin memperkuat bahwa salah satu tugas saya dalam Penafsiran ini dari Mahavatar adalah untuk memasukkan Kesatuan antara Tradisi Kristen dan Hindu, bersama dengan kesatuan Mahavatar Kriya Babaji, Sri Swami Vishwananda, Guru Yesus Kristus, dan Dewa Krishna.

Ketika Babaji menyampaikan bahwa Beliau menginginkan seorang sahabat terkasih, George Tsatsos, serta saya sendiri, untuk masing-masing menuliskan komentar terhadap 108 Sutra-Nya, saya merasa permintaan itu sebagai suatu prospek yang sekaligus mengagumkan dan sangat membebani! Saya bukanlah seorang sarjana Weda atau seorang sarjana atau ahli dari tradisi spiritual mana pun; saya menulis dari pengalaman dan kajian pribadi saya. Ini mencakup Kekristenan serta hubungan hati dan halus saya dengan Guru Yesus Kristus. Termasuk juga dalam pengalaman saya adalah tradisi Hindu dari interaksi yang diberkati dengan tiga Guru Tercerahkan yang berwujud fisik dan banyak Makhluk halus, yang tanpa saya ketahui mengapa berkat itu ada, selalu muncul ketika saya memanggil. Dalam kehidupan ini juga terdapat kasih karunia dan berkat luar biasa berupa interaksi yang berlangsung dengan Mahavatar Kriya Babaji sejak 1985. Sri Swami Vishwananda, Satguru saya, adalah seorang Guru Tercerahkan yang masih hidup; saya baru bertemu dengannya pada 2006. Beliau merangkul semua tradisi spiritual dalam ajarannya yang terutama berasal dari tradisi Hindu dan Kristen.

Swami Vishwananda: "Misi saya adalah menyebarkan Cinta Ilahi. Dasar utama misi saya adalah membuka hati orang-orang. Anda lihat, kata 'Cinta' itu sendiri memiliki begitu banyak makna dewasa ini, sehingga orang-orang telah melupakan aspek sejati dari Cinta, yaitu Cinta Tanpa Syarat. Cinta Tanpa Syarat adalah yang akan mengubah dunia; semua bentuk Cinta lainnya memiliki ekspektasi. Namun ketika seseorang merasakan Cinta sejati ini di dalam hatinya, itu melampaui segala ekspektasi. Dan hanya dengan Cinta inilah kedamaian dapat dipulihkan."

Dari latar belakang ini, saya merasa jauh dari memadai untuk tugas menuliskan penafsiran atau komentar formal terhadap Bhakti Sutra Mahavatar Kriya Babaji. Tradisi Hindu dalam penulisan Sutra adalah tradisi yang menghormati dan menerima komentar-komentar terhadap Sutra semacam Yoga Sutra Patanjali dan Shiva Sutra yang ditulis oleh para sarjana terpelajar dari tradisi Weda Hindu. Babaji terus meyakinkan saya bahwa Beliau telah memilih George dan saya karena kualitas jiwa atmik yang tidak pernah Beliau jelaskan secara rinci. Perlahan saya semakin menyadari bahwa bukan Sarjana Weda yang Mahavatar inginkan untuk mengomentari Bhakti Sutra-Nya, dan bahwa Babaji memiliki alasannya sendiri untuk pilihan-pilihan itu yang tampaknya akan tetap tersamar sifatnya. Hal ini mungkin memerlukan kepercayaan tertentu dari para pembaca buku ini. Mungkin bijaksana jika para pembaca memanfaatkan kesempatan ini untuk terhubung dengan Mahavatar Babaji di dalam hati melalui meditasi, yang akan menawarkan kemungkinan bimbingan yang jelas terkait Sutra-sutra-Nya dan para komentator yang Beliau pilih, yaitu George dan saya.

Bhakti Sutra Mahavatar Kriya Babaji muncul dengan cara yang bersifat mistis dan ajaib; ini tampak sebagai suatu paradoks dalam penyampaian Beliau tentang asal-usul Sutra tersebut. Sutra-sutra awal ditulis untuk memberikan contoh bagi seorang penganut Swami Vishwananda yang ingin mulai menulis secara spiritual. Tak lama kemudian, Babaji mengungkapkan bahwa Sutra-sutra yang secara spontan dan intuitif saya tulis untuk mungkin menginspirasinya agar mulai menulis, ternyata berasal dari-Nya. Saya terkejut. Mahavatar menjelaskan bahwa saya telah menjadi begitu selaras dengan getaran dan Teknik Pencitraan-Nya (lihat halaman depan untuk penjelasan) sehingga Beliau dapat membimbing saya untuk mengalami pikiran-Nya sebagai pikiran saya sendiri.

Mahavatar Babaji menyampaikan: 

"Pemisahan antara kita berdua yang tampaknya ada, lenyap selama penulisan sutra-sutra awal dan akan terus berlanjut sepanjang engkau menerima sisa dari 108 Sutra dariku, dan saat engkau menuliskan Penafsiran Spiritualmu. Ini adalah sekaligus ujian dari Guru Spiritualmu dan contoh dari kemahatahuan. Setiap dari kalian dapat menjadi begitu selaras dengan Kesatuan (Kesadaran Kosmis Kristus-Krishna), sehingga kalian menyadari bahwa semua pikiran adalah pikiran kalian, dan itulah tujuannya. Sesungguhnya, hanya ada Satu yang berpikir, Satu yang Berada, Satu yang Ada, dan itulah Kemahatahuan dalam arti yang paling luas. Ini terjadi di dalam Kesadaran ketika pemisahan lenyap. Namun demikian, di dunia fisik, seseorang dapat menyelaraskan diri dengan kesadaran yang lebih luas itu namun tetap berfungsi seolah-olah dualitas dan pemisahan yang dialami dan dijalani di Bumi adalah kenyataan. Dengan cara ini seseorang tetap hadir dalam interaksi dengan orang-orang dan dunia fisik. Para Guru Tercerahkan berfungsi dengan cara-cara ini."

"Tingkat berikutnya, melampaui kesadaran seperti bahwa semua pikiran adalah pikiranmu, adalah tetap berada dalam Kesadaran Kesatuan sambil tetap sadar akan setiap komponen yang membentuk keseluruhan Kesatuan itu. Kalian dapat mengetahui bahwa semua pikiran adalah milikmu namun tetap menyadari bahwa sebagian pikiran adalah pikiran Babaji, sebagaimana kalian mengenalku, mohon dipahami? Inilah Kesatuan di dalam Keberagaman dari Kesatuan. Sebagaimana kebanyakan dari kalian sadari, konsep Kesatuan adalah sebuah paradoks yang tidak logis, yang tidak mudah dipahami oleh pikiran berdimensi tiga!"

Swamini Vishwalakshmianandama: Babaji memulai buku Bhakti Sutra-Nya ini dengan cara yang misterius. Seorang teman dari Polandia menulis bahwa istrinya telah menerima sebuah email dengan alamat email, pengirim, dan tanda tangan yang tertera sebagai milik Mahavatar Babaji. Email "yang dikirim dari Mahavatar Babaji" itu diterima pada hari internasional dan tradisional untuk memperingati "Hari Kemunculan [hari lahir]" Mahavatar Babaji, yaitu 30 November 2009. Dan "Mahavatar Babaji" menyebutkan dalam email "-Nya" fakta bahwa: hari itu adalah hari Babaji, yang berarti hari itu adalah hari sang penerima.

Di bawah ini, kami telah mereproduksi teks Email sebagaimana diterima. Kami tidak memiliki kepastian dari mana tulisan itu berasal. Tulisan itu sangat indah dan sakral dalam gaya dan isinya yang puitis; itulah awal dari Bhakti Sutra Babaji.

Beberapa waktu kemudian, Mahavatar Babaji meminta agar saya menuliskan transmisi Sutra-Nya untuk buku ini. Babaji menggunakan Teknik Pencitraan-Nya untuk menyampaikan sutra-sutra ini, sebagaimana dijelaskan kepada Lahiri Mahasaya ketika ia diberikan teknik-teknik Kriya Yoga oleh Babaji. Sutra-sutra yang saya kirimkan kepada penganut Sri Swami Vishwananda itulah sutra-sutra awal dari buku ini.

Dua halaman berikut mereproduksi Email yang diterima oleh seorang penganut Sri Swami Vishwananda pada perayaan Hari Kemunculan Mahavatar Babaji, 30 November 2009.


Dari: Mahavatar Kriya Babaji [alamat email dihilangkan]

Dikirim: Senin, 30 November 2009, 8:46 pagi

Kepada: Nama dihilangkan [penerima adalah seorang penganut Sri Swami Vishwananda dari Polandia]

Subjek: Namaskar

Namasté

Hari ini adalah hari Babaji, yang berarti ini adalah hari Anda.

Sebab, Aku berada di dalam mata Anda saat ini sementara Anda membaca ini.

Aku berada di tangan Anda yang sedang bekerja di komputer Anda; Aku berada dalam seluruh Keberadaan Anda.

Apakah Anda sadar bahwa Anda tidak membuat mata Anda melihat, atau jantung Anda berdetak, atau darah Anda mengalir? Aku yang melakukannya.

Aku berada di dalam napas Anda dan pada saat yang sama lebih dekat dari napas Anda, sebab Aku adalah Anda.

Anda adalah Percikan dari Yang Ilahi, bukan dari diri kecil yang terpisah yang Anda ciptakan.

Dan setiap napas adalah Hadiah yang Yang Ilahi berikan kepada Anda, Anak Ilahi-Nya.

Jangan pisahkan Aku.

Ketika tenggelam dalam kata-kata, berjalanlah melintasi jembatan dari pikiran menuju hati Anda.

Pikiran memiliki kapasitas Ilahi untuk berpikir.

Namun apa artinya kata-kata tanpa perasaan hati Anda?

Hati Anda ingin dipenuhi; ia tak henti-hentinya mengetuk pintu Anda.

Hati Anda ingin merasakan, merasakan sepenuhnya, setiap saat, setiap tarikan dan hembusan napas.

Inilah Kehidupan Anda untuk dirayakan.

Anda bersifat Ilahi untuk hidup demikian.

Biarkan cinta Anda menjadi penuh dan bantu meringankan berbagai masalah yang dihadapi dunia yang penuh berkat ini, vishwa ini.

Maka hati Anda akan merasa puas dan terpenuhi.

Maka Anda akan mampu mengalami kebahagiaan (ananda) dan menikmati diri Anda serta hidup Anda sepenuhnya.

Anda mengetahui ini: sebab Anda tidak terpisah dari dunia, vishwa ini, ataupun dari ananda Diri sejati Anda.

Dengan mempraktikkan Ke-Ilahian Anda, Anda dengan penuh bakti menghormati, mencintai, dan mengikuti Guru Anda.

Hari ini, hari Anda, rasakanlah bahwa Aku tidak terpisah dari Anda dengan menuliskan beberapa Pernyataan atau Sutra Ilahi Anda sendiri dari titik tertinggi di dalam keberadaan Anda, dari Ke-Ilahian Anda.

Kemudian, jika Anda berkenan, bagikan Sutra-sutra ini kepada teman-teman Anda.

Anda tidak memerlukan kata-kata yang muluk, cukup kata-kata yang biasa Anda gunakan, sebab Aku adalah Anda dan selalu begitu.

Dengan cara yang sama Anda seketika berbicara segera setelah Anda menghendaki, dengan cara yang sama pula tuliskanlah sekarang Kebijaksanaan tertinggi Anda sendiri secara seketika.

Dan ketahuilah bahwa Aku adalah Anda.

Ketika Anda hidup secara Ilahi setiap saat, Anda tidak memisahkan Aku dari diri Anda.

Maka diri kecil itu pada waktunya akan berhenti mengganggu Karunia Ilahi yang merupakan Kehidupan Anda.

Hati Anda sendiri: Babaji


Sri Swami Vishwananda, Mahavatar Kriya Babaji, dan saya melebur menjadi Satu ketika saya bekerja bersama mereka dalam mewujudkan buku ini. Kesatuan itu terus berlanjut ketika saya menuliskan Penafsiran Spiritual yang dituangkan menjadi kata-kata dari hati spiritual intuitif di dalam diri. Mahavatar Kriya Babaji dan Satguru Sri Swami Vishwananda menjadi bagaikan "mata badai" yang menghasilkan energi angin yang luar biasa besar di bawah sayap saya—sebagaimana digambarkan dalam sebuah lirik lagu terkenal tentang seseorang yang merasa diangkat terbang begitu tinggi hingga hampir menyentuh langit. Terima kasih, terima kasih, terima kasih, Tuhan—Mahavatar Kriya Babaji dan Sri Swami Vishwananda, sebab kalian adalah "angin di bawah sayapku."

Saya adalah murid dari baik Mahavatar Kriya Babaji maupun Sri Swami Vishwananda. Mahavatar Kriya Babaji adalah Param Guru saya, Guru yang melampaui, Guru dari Satguru saya, Sri Swami Vishwananda. Dengan cara inilah, sebagaimana telah saya tuliskan, buku ini sampai kepada Anda melalui kasih karunia Mahavatar Kriya Babaji dan Sri Swami Vishwananda—Satu dengan Sang Maha Ada!

— Swamini Vishwalakshmianandama (Jean Peterson, Colorado, Amerika Serikat).    

   






Berkah Shakti Om,

Sabtu Kliwon, 05 September 2026




 

Selasa, 18 Februari 2025

Perasaan yang Kuat dan Mendalam

  (Sumber: https://id.pinterest.com/pin/1266706140342724/)


Tiba-tiba aku terjaga dipagi hari, sekitar pukul 2 atau 3 dini hari, aku merasa ketakutan. Reaksi pertama dari tubuhku ia makin mendekap erat bantal  dan makin menenggelamkan tubuh ke kasur seolah ingin mengusir rasa takut yang tiba-tiba muncul. Pikiran sadaarku menolak rasa itu dan berusaha menghindarinya dan aku terlelap lagi. Hari berikutnya aku tidak terlalu memperhatikannya. Ketika malam tiba aku terjaga lagi dalam rasa takut yang aneh dgn reaksi tubuhku masih sama, tapi pikiran sadarku bereaksi lain untuk menghilangkan rasa itu aku berdoa dan aku kemudian terlelap.

Hari berikutnya aku baru mulai merenungkan apa sesungguhnya yang terjadi? Dari manakah rasa takut itu datang? Mungkinkah rasa takut datang tanpa sebab apapun? Aku mulai menyelam ke dalamnya, ketika seseorang berbuat suatu kesalahan, misalnya seorang anak dimarahi oleh orang tuanya karena ia di ketahui sering ngutang di kantin sekolah, atau bekal yang sebagian untuk ditabung tapi ia memilih untuk membeli kartu kwartet. Kemarahan dari orang tua akan tersimpan di dalam dirinya. Ini baru satu kesalahan. 

Dalam kehidupan selanjutnya seiring bertambahnya usia anak ini membuat banyak kesalahan, mungkin ia berbuat kebaikan tapi masih kalah dengan kekeliruan yang ia perbuat, dan reaksi yang tersimpan di dalam dirinya makin banyak dan beragam, ada ketakutan, kemarahan, kekesalan, kebosanan, kebencian, iri hati, dendam, dan masih banyak yang lain. Dari sedemikian banyak akumulasi yang tersimpan tingkahnya jadi makin aneh, tubuhnya satu tapi ia dapat berperilaku sebagai dua orang yang berbeda dan bahkan lebih.

Jika suatu saat ketika ia berumur empatpuluhan tahun dan tiba-tiba terbangun dalam keadaan ketakutan maka ia harus melihat kedalam gudang penyimpanan di dalam dirinya kira-kira mana yang menyebabkan itu terjadi. Ia harus mulai jalan-jalan ke dalam dirinya untuk menemukan asalnya. Kecuali jika ia menemukan asalnya, ketakutan akan menjadi sarana untuk melangkah lebih jauh dalam pemekaran dirinya kalau tidak ia akan terus dihantui oleh ketakutan.

Lebih jauh, setiap perasaan yang datang kepadamu dalam waktu khusus tertentu  ia akan menjadi petunjuk dalam pemecahan masalah yang hadir dalam saat itu. Perasaan bagaikan sebuah buku informasi yang menyediakan berbagai macam informasi tapi ini terbatas pada perasaan-perasaan yang tersimpan di dalam diri kita, kalau mau informasi yang lebih luas, informasi seluruh umat manusia, ya tinggal hubungkan diri dengan jaringa rasa seluruh umat manusia atau bahkan informasi alam semesta, rasajati, rasa terdalam dari alam semesta.

Tulisan ini ku buat tanggal 11 Januari 2005 dan entah karena apa, aku menghapusnya dan tetap sebagai draf dan sekarang baru ku posting. Ternyata rasa ketakutan yang kuat itu adalah pesan buatku yang nanti akan mengguncang pikiran, perasaan dan mempengaruhi kehidupanku. 

Perasaan yang kuat itu merupakan by-product, hasil sampingan dari informasi yang akan diterima. Perasaan yang kuat itu bisa berupa apa saja, bisa ketakutan, kawatir, sedih, senang, bahagia dan sebagainya. Jika itu datang maka sekarang kita tahu, ia membawa pesan tertentu untukku. Kita bisa teliti pesan ini untuk siapa, untukku secara pribadi, orang lain, masyarakat, atau bahkan bangsa tertentu.

Perasaan yang kuat dan mendalam yang datang padaku kali ini berisikan beberapa informasi. Pertama, untukku secara pribdi, Kedua untuk orang lain, tujuh hari kemuadian anak saya mengalami kecelakaan dan mengalami patah tulang kaki. Dan 26 hari kemudian (dari artikel ini dibuat), tanggal 6 Pebruari Guruku Hyang Terkasih, Guruji Anand Krishna memasuki alam Maha Samadhi. Ketiga, untuk masyarakat secara luas, umat manusia, secara umum kita akan memasuki masa Tamasik, masa kegelapan yang panjang. Kegelapan yang akan menenggelamkan batin manusia. Pikiran dan perasaan kita tenggelam dalam buaian ilusi. 

Tips untuk masa-masa kegelapan ini, Para Luhur memberikan nasehat, dengan kesungguhan dan ketulusan, "Masuklah kedalam Diri", temukan dirimu yang sebenarnya, yang sejati, temukan pelita hati di dalam dirimu. Pelita itu yang akan menerangi jejak langkahmu kemudian.



Berkah Shakti Om,

Selasa Umanis, 18 Pebruari 2005

Sabtu, 08 Februari 2020

ASHRAM DARI BABAJI : GAURI SHANKAR PEETAM


Mahāvatar Babaji


5

ASHRAM DARI BABAJI : GAURI SHANKAR PEETAM


Ashram Babaji yang terletak dekat Badrinath di Himalaya, dekenal sebagai Gauri Shankar peetam. Hal itu telah diuraikan oleh V.T Neelakantan (Ramaiah, Mei 1954 hal 3-10) menurutnya ia telah di izinkan (Oleh Babaji) melakukan kunjungan dengan tubuh astralnya ketempat itu dua kali pada pertengahan akhir oktober 1953. Neelakantan mendapati secara tiba-tiba ia telah meninggalkan tubuh fisiknya di Madras, India dan telah berganti dengan tubuh yang yang lain, berdiri dengan Babaji di Gauri Shankar peetam. Uraiannya tentang Ashran Babaji dan aktivitasnya adalah sebagai berikut ini :

Ashram terletak dekat kuil kota Badrinath di daerah yang dikelilingi oleh tebing batu yang terjal di semua tempat sisinya dengan sederetan gua di dasar. Gua yang paling besar ditempati oleh Babaji sendiri. Di sudut berseberangan dengan gua itu ada dua air terjun.

Penghuni ashram berjumlah 14 orang dan pada kunjungan itu mereka menggunakan air terjun besar untuk mandi dan air terjun kecil untuk minum. Air kedua air terjun itu membentuk dua aliran yang menyatu di ujung berlawanan dari daerah itu dan lalu menghilang ke sebuah terowongan jalan keluar. Di malam hari, meskipun tak ada sumber penerangan listrik, seluruh daerah itu di terangi dengan baik. Suatu kekuatan misteri menahan orang yang berniat mendekati Ashram itu dan tertahan dalam jarak kira-kira satu mil. Sebagai akibatnya, tak seorangpun dapat mencapai Ashram tanpa izin Babaji.

Gauri Shankar Peetam
(Sumber gambar : http://ukbys.org/babajis-kriya-yoga)

Penghuni Ashram termasuk saudari Babaji (saudari sepupu dari pihak ayah), yang bernama Mataji Naga Lakshmi Dewiyar (dikenal juga sebagai Annai). Dia memakai sari dari katun, putih warnanya dengan bordir hijau dan selempang merah meliputi lehernya. Menurutnya, dia adalah sosok perempuan yang benar-benar cantik dengan kulit terang, lekukan kurus dan lebih tinggi dari abangnya. Pipinya agak panjang dengan tonjolan tulang pipi, dan menyerupai Kashi, murid Paramahansa Yogananda di lihat dari depan, dan istri Neelkantan dari samping.
Annai Nagalakshmi Dewiyar bertugas untuk mengorganisir Ashram dan melayani para penghuni dalam beberapa pekerjaan. Dia mengawasi persiapan makanan sehari-hari yang sederhana, makanan Vegetarian (tanpa daging) untuk makan siang. Makanan itu mendukung kehidupan kehidupan seorang yogi (Yogi lifestyle) dari Ashram itu.  Dia memelihara dengan hati-hati, sebuaah tanaman “tulasi” yang besar bertengger di puncak sebuah “peetam” atau kuil, mendekati empat kali tingginya.

Babaji dan Mataji, di Gauri Shankar – artis Gail Tarrant

            Setiap hari dia rajin memuja “Dewi Tulasi”, seorang pemuja agung dari Lord Krishna. Dewi Tulasi diberikan anugerah istimewa oleh Lord Krishna di sepanjang segala abad sebagai Tanaman Tulasi di Surga tempat kediaman Lord Krishna.

            Cara favorit Annai dalam pemujaan adalah memuja kaki suci Lord Babaji dalam sebuah upacara yang dikenal sebagai “Pada Poosai”, pada artinya kaki dan poosai artinya memuja dengan bunga. [Pemujaan pada kaki “Lord Babaji” adalah suatu ekspresi kedekatan akan kasih seseorang dan suatu simbol yang menunjukka kepasrahan dan aspirasi. Di kesluruhan literatur Tamil yang suci, dalam Thirumandiramnya Thirumoolar, misalnya, bisa diketemukan refrensi mengenai pemujaan kaki Sang Master, “Memegang kaki Master dan Lalu mendaki”, memberikan lambang bahwa dengan bersandar pada Lord dan Master dan aspirasinya, manusia akan tiba pada Pencerahan Diri (Self Raslization)]. Selama upacara ini dia dengan kasih sayang menaruh kaki Babaji di sebuah piring perak, mencuci dan menuangkan minyak sesame,bubuk kacang mung, susu dan pewangi yanglain atau bahan-bahan berharga lainnya. Kemudian dia mendekorasi kaki ini dengan abu suci (Vibhuti), abu dari api yajña yang sudah di mantrai juga dengan “kumkuma” (bubuk merah dari bunga Vermillion/dan sejumlah bunga lainnya yang tumbuh dekat Ashram).

Annai memuja kaki suci Lord Babaji pada upacara Pada Poosai
(Sumber gambar: http://ukbys.org/babajis-kriya-yoga)

Penghuni-penghuni lainnya termasuk beberapa orang laki-laki, jenggotnya memanjang menyentuh batas pusar. Seorang pengusaha Muslim, setelah mempersembahkan semua tentara dan kekayaannya kepada Babaji dan lalu ditolak oleh Sang Master, pada akhirnya menyerahkan dirinya sendiri kepada Master dan dia diterima sebagai murid Babaji. Sepasang orang Bule (Barat), Ibu dan anaknya yang berumur 10 tahun, Swami Pranabananda, “Saint dengan dua badan” juga hadir disana.

Dia dikenal sebagai “Amman Pranabananda”, dan secara fisik sangat menyerupai tubuh pada reinkarnasinya yang terakhir kecuali kalaulah dia membiarkan rambut dan jenggotnya tumbuh panjang.

Swami Pranabananda telah diceritakan oleh Yogananda (Yogananda, 1969, hal 22-28, 260, 350). Swami Pranabananda, pada akhir inkarnasi terakhirnya telah meninggalkan tubuh wadagnya secara sadar (a conscious exit from physical body) dan itu di sebut Maha Samadhi, didepan murid-muridnya yang berkumpul. Beberapa tahun kemudian ia lahir kembali (reborn).

Swami Pranabananda, Amman, “Dadaji”
           
Sebagai seorang muda, ia tiba-tiba ingat kehidupan sebelumnya dan hubungannya dengan Babaji. Ia lalu pergi ke Himalaya untuk mencari gurunya yang tak bisa mati itu. Pada akhirnya karena berkat Babaji, Ia dipersatukan kembali dengan gurunya. Setelah mempraktekkan Kriya Yoga secara intensif di bawah bimbingan Babaji selama bertahun-tahun, ia mencapai keadaan tak dapat mati atau Soruba Samadhi. Dia dihormati dan dikenal dengan nama “Dadaji” atau “Amman Pranabananda”. Ia sekarang melayani sebagai sumber inspirasi spiritual dan pembimbing bagi banyak murid. Dia juga menjadi pengawas pemeliharaan taman di Ashram.

Diantara para pengikut Babaji, hanya Amman dan Annai yang berhasil mencapai keadaan tak bisa mati (deathless state) atau Soruba Samadhi. Pencapaian mereka, lebih dari apapun juga dan merefleksikan kesempurnaan dari pasrah diri kepada Tuhan, tujuan tertinggi dari Kriya Yoga. Dengan berhasil melampaui batas kesadaran akan sang ego, sekarang mereka membantu semua orang yang mencari asistensi. Annai, bertugas spesial untuk membantu para Sadhaka Yoga selama meditasi tengah malam untuk membersihkan pikiran bawah sadar (subconscious) dengan penggunaan teknik meditasi pertama yang di ajarkan selama inisiasi Kriya Dhyana Yoga.

Amman Pranabananda, sebagai master dari teknik meditasi yang ke empat, membantu para yoga Sadhaka untuk menyaring (mendapatkan) potensi besar dari inspirasi intelektual.

Banyak saint (orang suci) dan para rishi mendapatkan God Realization (Kesadaran Tuhan) di dimensi spiritual dan mental. Bagaimanapun juga hanya beberapa yang mampu berhasil untuk melakukan penyerahan diri total kepada Kesadaran Ilahi (Divine Consciousness) pada level dimensi atau strata yang vital dan pada sel-sel tubuh manusia, sehingga mereka masih bisa menjadi sasaran kekuatan penyakit, bertambah uzur karena umur, dan akhirnya berakhir dengan kematian. Bagi semua Sadhaka Kriya Yoga (murid-murid yang telah mendapat inisiasi Kriya Yoga) dan pada pengikut, Babaji, Annai, dan Amman adalah contoh ideal akan self surrender, keprasrahan dengan totalitas sempurna.      

           Mereka adalah pada kenyataanya harus diakui sebagai perwujudan hidup dari zat Ilahi.

         Para penghuni Ashran setia pada disiplin yang merupakan jadwal sehari-hari yang terpusat pada praktek Sadhana Yoga, yang meliputi Asanas (postur-postur yoga), Pranayama (pernafasan), Meditasi, Mantra dan Bhakti yoga. Menurut V.T. Neelakantan, setiap orang bangun jam 4 pagi hari. Setelah mandi di air terjun besar, ada kesempatan 1 jam untuk melakukan yoga Shadana dengan penekanan pada pranayama. Di siang hari para penghuni mengikuti Shadana masing-masing yang terkait, kadang-kadang berkonsultasi dengan Babaji, mengenai beberapa teknikuntuk di praktekkan.

Personalitas Babaji yang penuhkasih sayang dengan rasa humornya yang hangat dan welas asih yang universal, membangkitkan rasa sayang semua orang kepadanya. Bila seseorang harus memiih kata yang tepat untuk sebutan bagi Babaji, kata itu adalah “Kerendahan Hati”.

Menurut cerita lain dari seorang saksi mata di petang hari, penghuni Ashram duduk dalam suatu lingkaran dan melantunkan mantra di sekitar Api Homa di depan gua Babaji. Mantra yang populer adalah: “Om Kriya Babaji Namah”. Kata Om dan Aum berarti  suara dari Jagad raya, Alam semesta dan masing-asing dapat di alami getarannya baik di dalam maupun di luar. Namah berasal dari kata Namaha yang artinya Salut (salutation) atau Menghormati, dilantunkan menurut beberapa macam melodi dan irama. Selama perayaan Guru Purnima pada pada awal bulan Juli, bunga-bunga dipersembahkan ke kaki suci Babaji oleh semua penghuni Ashram. Ibu Ashram, Annai Naga Lakhsmi dipuja oleh semua yang hadir dengan hormat yang besar, sebagai perwujudan dari Ibu Ilahiah atau Kosmik Shakti.

Dalam wacananya, Babaji menyatakan tentang dirinya sendiri sebagai telah mencapai “Eksistensi Absolut” (Absolute Existence), “Kebenaran” (Truth) dan Kebahagiaan Surgawi atau Ananda (Bliss). Dia mengacu pada dirinya sendiri sebagai Personalitas Impersonal dari Alam semesta (Impersonal Personality of the Universe), keanekaragaman dalam keesaan “Semua dalam Satu dan yang Satu dalam semua”, Immortal (abadi, tak mati lagi), Tak terbatas (Infinite) dan jadi Diri Abadi (Eternal Self).

Seorang seyogyanya mempelajari Kriya Yoga Dhyana (meditasi) untuk bisa memahami dan menyadari Personalitas Ilahinya sendiri. Para sadhaka Kriya Yoga haruslah mengerti bahwa “Surga di Dunia” yaitu Gauri Shankar Peetam berada bukan hanya di pegunungan Himalaya, tetapi juga dihati para pengikut Babaji. Ashramnya yang fisikal, secara fisik tak bisa dimasuki oleh sembarang orang, karena Babaji memilih untuk bekerja secara diam-diam dan dengan tenang, tanpa nama di dunia ini, membantu ribuan devotee (Baktha) dan berjuta-juta jiwa untuk berevolusi dengan kecepatan dan keadaanmereka masing-masing. Ibarat stasiun broadcasting (penyiaran) dia memancarkan pesannya untuk cinta kasih dan perdamaian universal kepada setiap orang.

[Hasil gambar untuk babaji


“Om Kriya Babaji Namaha,
Om Kriya Babaji Namaha,
Om Kriya Babaji Namaha”



(Sumber dari Buku “Babaji dan Tradisi 18 Siddha Kriya Yoga” Jilid 1, karya M. Govindan, M.A. hal 75-80)


Senin, 24 Desember 2018

Mahavatar Babaji



Sumber: Pinterest




Babaji, Seorang Yogi Modern



            Daerah paling utara di pegunungan Himalaya menyimpan begitu banyak rahasia. Salah satu di antaranya adalah Babaji, guru Lahiri Mahasaya. Beliau berada disana sejak puluhan abad, bahkan beberapa milenia. Tak pernah “mati”, beliau adalah seorang “avatara” – kemuliaan di balik bingkisan darah dan daging.
            Sri Yukteswar (murid dari Lahiri Mahasaya-pen) menjelaskan, “Keadaan Babaji, kesadaran Babaji, tidak dapat dijelaskan atau dipahami oleh manusia. Segala upaya untuk itu, akan sia-sia.
            Dalam naskah-naskah kuno di Timur, kita menemukan beberapa istilah yang menarik sekali. Seorang “siddha”, misalnya, adalah “ia yang telah mencapai kesempurnaan”. Setelah bebas dari keterikatan-keterikatan yang merantai dirinya dan membelenggu jiwanya, seseorang mencapai tingkat jivanmukta—“ terbebaskan­ dari segala macam keterikatan, walau masih hidup”. “Siddha” merupakan suatu keadaan diatas keadaan jivanmukta. Seorang “siddha” bisa juga disebut paramukta—bebas  total. Dan dalam kebebasan total itulah, kematian sekalipun terlampaui olehnya! Seorang paramukta tidak perlu lahir kembali. Namun, apabila ia lahir kembali, ia akan disebut “Avatar”—ia turun dari ketinggian yang telah dicapainya, untuk memberkati dunia ini.
            Seorang avatar bebas sepenuhnya dari hukum alam. Kalau dilihat sepintas, ia memang seperti manusia biasa. Namun, apabila diperhatikan, perbedaannya akan tampak jelas. Misalnya, kalau sedang jalan, ia tidak akan meninggalkan jejak telapak kaki. Ia juga tidak memiliki bayangan. Karena jiwanya memang sudah terbebaskan dari keterikatan materi, maka badannya pun tidak perlu tunduk pada hukum-hukum yang menggerakkan dunia materi. Hanya orang seperti dia yang dapat memahami persis kebenaran di balik siklus kelahiran dan kematian.
            Omar Khayyam, seorang penyair sufi yang sangat disalahpahami, sebenarnya bicara tentang kebenaran yang sama, dalam Rubaiyat—sebuah karya yang indah. Yesus pun persis demikian. Krishna, Rama, Buddha dan Patanjali semuanya adalah para avatar yang telah memahami kebenaran yang sama.
            Di India Selatan, juga pernah lahir seorang avatar, namanya: Agastya. Kisah-kisah tentang mukjijat yang ia tunjukkan sudah dikenal sejak 2000-an tahun yang lalu. Sampai saat ini pun kata orang, ia masih hidup. (..... Literatur kuno Jawa, Bali dan Sulawesi penuh dengan kisah-kisah ajaib tentang keberadaan Agastya di kepulauan Nusantara. Banyak pula yang mengisahkan pertemuan mereka dengan Agastya, di pegunungan Himalaya, di sekitar Manali.—a.k.)
            Babaji mengemban tugas untuk membimbing para avatar, para utusan Tuhan. Itu sebabnya belia dijuluki Mahavatar—Avatar Besar. Beliau mengaku pernah membimbing Shankara (pendiri ordo swami), Kabir (seorang mistik sufi) dan lain-lain. Pada abad ke-19, beliau membimbing Lahiri Mahasaya, dan mengajarkan Ilmu Kriya Yoga kepadanya.
            (..... Siapa sebenarnya Babaji, kapan lahirnya, tidak terjawab dalam buku ini. Paramhansa Yogananda, mengaku telah diberitahu, tetapi sengaja tidak menjelaskan dalam bukunya. Referensi tentang Babaji juga bisa didapatkan dalam kitab-kitab suci dari Timur Tengah. Kalau Anda membuka mata sedikit, Anda akan memperoleh dengan sangat mudah.
            Bagi para pembaca yang sering bertanya kepada saya, bagi para pembaca yang pernah membaca Seni Memberdaya Diri—Meditasi & Reiki—dan pernah menulis kepada saya, inilah jawaban Anda. Lama yang saya temui di Leh tidak lain adalah Babaji!—a.k.)
            Sang Mahavatar selalu berkomunikasi dengan Kristus. Secara bersama-sama mereka memancarkan getaran-getaran kasih untuk keselamatan dunia kita ini. Bersama-sama pula, mereka merencanakan teknik spiritual demi keselamatan umat manusia.
            (Saya menanyakan kepada Babaji, apa yang beliau maksudkan. Apakah yang dimaksudkan dengan “Kristus” adalah Yesus, Isa Ben Yusuf? Beliau menjawab, “Kristus adalah suatu tingkat kesadaran, bukan nama orang. Yesus pernah mencapai tingkat kesadaran tersebut. Berada pada tingkat kesadaran “Kristus” yang juga bisa disebut tingkat kesadaran “Kasih”, seorang master akan berupaya untuk membantu umat manusia. Terdorong oleh “Kasih”, ia tidak mempedulikan hujatan dan kritikan orang, dan senantiasa akan berupaya untuk menyadarkan setia orang yang mendekati dia.”
            Beliau juga menambahkan bahwa kalau Yogananda tidak menjelaskan hal ini, bukan karena ia tidak tahu, tetapi karena para pembacanya tidak akan bisa memahami dia. “Yogananda sedang menghadapi masyarakat Barat yang sangat terkondisi oleh konsep ‘Personal God’—Tuhan yang berada di suatu tempat, duduk di atas takhta. Itu sebabnya, mereka juga mempersonifikasikan Kristus. Padahal Kristus bukan ‘personil’—kekristusan adalah Keadaan.”
            “Komunikasi dengan Kristus” berarti “Berada pada tingkat kesadaran kasih”. Yang bisa menyelamatkan dunia kita ini hanyalah “kesadaran kasih’. Demikian kesimpulan saya, setelah diberi penjelasan oleh Babaji.—a.k.)
Misi Kristus dan Babaji adalah satu dan sama: bagaimana menyadarkan bangsa-bangsa di dunia ini, sehingga peperangan bisa dihentikan, sehingga api kebencian bisa dipadamkan, sehingga materialisme bisa terlampaui. Dan untuk mencapai suatu keadaan damai seperti itu, ajaran-ajaran yoga harus disebarluaskan baik di belahan barat dunia, maupun di belahan timur—demikian keyakinan Babaji.
Memang tidak ada referensi historis tentang Babaji, karena beliau tidak pernah muncul di depan umum. Beliau tidak membutuhkan publisitas. Beliau bekerja secara diam-diam.
Para nabi, para avatar seperti Isa dan Krishna mengemban suatu misi tertentu. Setelah menyelesaikannya, mereka meninggalkan dunia ini. Dipihak lain, ada juga para avatar, seperti Babaji yang misinya adalah mengarahkan proses evolusi kesadaran manusia yang butuh waktu lama. Mereka akan menghindari massa dan karena itu sejarah tidak mencatat nama mereka.
Tentang Babaji pun, saya tidak diperkenankan memberi informasi lebih banyak. Hanya sekadar keterangan singkat, sebatas apa yang harus diketahui oleh masyarakat, demi peningkatan kesadaran mereka.
(Sambil ketawa, beliau juga melarang saya, “Jangan, jangan dulu, jangan memberitahu itu.” Mendengar larangan beliau, saya justru senang, “Berarti, pada suatu ketika nanti, saya boleh memberikannya. Tadi Baba katakan ‘Jangan dulu’.” Beliau ketawa terbahak-bahak.....
Beliau mengatakan kepada saya, “Paagal {bahasa Hindi, berarti ‘Gendeng’—a.k.}, kalau belum waktunya, kamu tidak akan menceritakannya. Saya akan menuntun kamu, kepada siapa dan kapan kau harus bercerita.”—a.k.)
Tidak ada yang mengetahui tentang keluarga atau tempat lahir beliau. Biasanya beliau menggunakan bahasa Hindi, padahal bisa berkomunikasi dalam  bahasa apa saja. Kita mengenal beliau dengan nama “Babaji” yang berarti, “Bapa Yang Terhormat”.
“Kapan pun, siapa pun menyebut nama beliau dengan rasa hormat, akan mendapatkan berkah,” menurut Lahiri Mahasaya.
Fisik beliau tidak menunjukan tanda-tanda menua. Beliau selalu tampak seperti seorang pemuda berusia 25 tahun. Kulitnya bersih dan cerah. Anehnya, wajah Babaji sangat mirip wajah Lahiri Mahasaya sewaktu masih muda.
Swami Kebalananda, guru bahasa Sanskerta saya dulu, pernah bercerita tentang pengalamannya bersama Babaji, di pegunungan Himalaya: “Beliau tidak pernah tinggal lama di satu tempat. Diiringi oleh beberapa murid setia, diantaranya 2 orang Amerika, Babaji selalu berpindah tempat tinggal.
“Babaji tidak selalu melakukan perjalanan astral. Beliau lebih sering berjalan kaki, mendaki gunung sebagaimana manusia biasa.
“Kita hanya bisa melihat beliau, apabila beliau berkenan. Kadang berkumis, berjanggut, kadang tanpa kumis, tanpa janggut.
“Walaupun sebenarnya Beliau tidak butuh makanan, apabila seorang murid mempersembahkan buah-buahan atau bubur susu, beliau akan makan sedikit, semata-mata untuk menyenangkan muridnya.
“Saya masih ingat dua kejadian yang aneh. Pada suatu malam, para murid sedang duduk mengitari api yang dinyalakan untuk suatu upacara. Tiba-tiba Babaji mengambil kayu yang sudah terbakar dan memukul pundak salah seorang muridnya dengan kayu itu.
“Lahiri Mahasaya yang juga berada disitu, mengeluh, ‘Betapa Kejamnya!’
“Babaji menjawab, ‘Apakah kamu ingin melihat dia terbakar habis dalam api itu, karena karmanya dimasa lalu?’
“Dan Beliau meletakkan tangannya diatas pundak si murid, sambil menjelaskan, ‘Malam ini, saya telah membebaskan kamu dari kematian yang mengerikan. Hukum Karma pun terpenuhi sudah, dengan luka pada pundakmu.’
“Pada suatu ketika, seorang asing bergabung dengan kelompok beliau. ‘Bapak pasti Babaji. Selama berbulan-bulan saya mencari Bapak. Mohon saya diterima sebagai murid Bapak,’ orang asing itu memohon.
“Karena Babaji tidak menjawab, orang itu mendesak, ‘Jika saya tidak diterima, saya akan loncat dari ketinggian tebing ini dan bunuh diri.’
“Dengan nada dingin, Babaji menjawab, ’Loncat saja kalau begitu. Karena saya tidak dapat menerima kamu dalam keadaan saat ini.’
“Tanpa keraguan apa pun, ia langsung loncat. Semua orang yang hadir tercengang! Babaji tetap tenang dan menyuruh para muridnya untuk membawa jenasah orang itu. Beliau meletakkan tangannya  di atas jasad yang sudah tidak bernyawa dan orang itu pun langsung bangkit kembali. Babaji mengatakan kepadanya, ‘Sekarang kamu siap untuk kujadikan murid. Maut tidak akan pernah mendekati kamu lagi. Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita.’
Seorang avatar senantiasa hidup dalam kesadaran rohani. Alasan Babaji mempertahankan badan kasatnya hanya satu, ia ingin membuktikan kepada kita yang masih hidup dalam ilusi ini bahwa ilusi itu sendiri dapat dilampaui.
Bagi seorang avatar seperti Babaji, pembagian waktu sebagai masa lalu, masa kini, dan masa depan sudah tidak relevan lagi, beliau mengetahui semua tentang segala aspek kehidupan. Apa pun yang terjadi—kejadian-kejadian yang disaksikan oleh para murid—semuanya atas kehendak beliau juga.
Masih ada cerita lain yang pernah saya dengar. Sumber cerita ini adalah Ram Gopal, yang pernah saya temui di Ranbajpur, “ Pada suatu ketika, saya bergabung dengan kelompok meditasi di padepokan Lahiri Mahasaya. Beliau menyuruh saya untuk segera ke tempat permandian Dasasamedh.
“Beliau tidak menjelaskan alasannya. Saya pun tidak menanyakan. Mengikuti perintanya, saya langsung berangkat ke Dasasamedh. Malam itu adalah yang indah. Bulan purnama dan bintang-bintang cemerlang menghiasi langit. Baru duduk sebentar, perhatian saya beralih ke batu besar dekat kaki saya. Batu tersebut terangkat sendiri, dan saya melihat gua bawah tanah di baliknya. Dan ... muncullah sosok seorang wanita cantik nan anggun. Keluar dari gua, ia langsung melayang-layang. Tubuhnya dikelilingi oleh cahaya lembut. Sesaat kemudian, ia turun persis di depan saya dan mengatakan kepada saya, “Saya adalah Mataji (Bahasa Hindi, berarti Ibu—a.k.), saudari Babaji. Saya telah mengundang dia dan Lahiri Mahasaya ke sini, untuk membicarakan sesuatu yang penting.’
“Sementara saya melihat gumpalan cahaya yang sedang mendekati kami dari kejauhan, begitu berada di samping Mataji, cahaya itu berubah menjadi wujud manusia—Lahiri Mahasaya. Beliau menyalami Mataji. Masih dalam keadaan tercengang, di langit atas saya melihat gasingan cahaya yang dahsyat. Saya sudah bisa menerka, itu pasti Babaji. Betul, cahaya tersebut membumi dan berubah menjadi wujud Babaji. Beliau begitu mirip dengan Lahiri Mahasaya, hanya hanya tampak jauh lebih muda. Dan rambutnya panjang.
“Lahiri Mahasaya, Mataji dan saya bersungkem, menyalami beliau. Begitu menyentuh Wujud beliau, sepertinya ada sensasi-sensasi lembut nan indah yang menggetarkan badan saya.
“Saudariku, saya telah mengambil keputusan untuk melepaskan badan ini dan menyatu dengan Aliran Kehidupan Yang Tak Terbatas, dengan Kesdaran Murni,’ kata Babaji kepada Mataji.”
“Saya sudah tahu tentang rencana Guru. Hal itulah yang ingin saya bahas malam ini. Kenapa harus meninggalkan badan?’
“Ada badan atau tidak ada badan, apa bedanya? Dalam lautan Kesadaran yang Maha Luas, apa bedanya jika gelombang itu tampak atau tidak?’
“Mataji menggunakan dalil yang sama untuk mendesak beliau, ‘Kalau memang bagitu, apa salahnya mempertahankan badan-Mu?’
“Baik, saya tidak akan meninggalkan badan ini. Setidaknya beberapa orang di dunia ini akan selalu bisa berhubungan dengan saya. Demikianlah Kehendak Allah, yang disampaikan lewat mulutmu, ‘Babaji berjanji.
“Terpesona, saya hanya bisa mengikuti dialog mereka dengan penuh rasa kagum. Babaji memberkati saya dan berkata, ‘Jangan takut Ram Gopal. Kamu memang terpilih untuk menyaksikan kejadian ini.’
“Dan wujud beliau serta wujud Lahiri Mahasaya terangkat ke atas lagi berubah menjadi gumpalan cahaya dan lenyap dari pandangan. Sementara Mataji juga melayang dan memasuki kembali gua di bawah tanah. Batu besar, penutup mulut gua itu kembali menutupinya lagi.
“Saya langsung kembali ke padepokan Lahiri Mahasaya dan ditegur beliau, “Saya ikut senang. Keinginanmu untuk bertemu dengan Babaji dan Mataji terpenuhi sudah.’
“Yang lebih aneh lagi para murid mengaku bahwa setelah kepergian saya, Lahiri Mahasaya tidak pernah meninggalkan tempat duduknya. ‘Beliau menjelaskan bahwa seorang mster yang telah memperoleh pencerahan, bisa berada di lebih dari satu tempat yang sama!”
Ram Gopal meneruskan, “Setelah kejadian tadi, Lahiri Mahasaya baru menjelaskan kepada saya, ‘Babaji akan mempertahankan badannya sampai berakhirnya siklus dunia kita saat ini. Demikian Kehendak Ilahi. Sebagai saksi sandiwara kehidupan, beliau akan tetap berada di tengah kita, dari jaman ke jaman!”
(Paramhansa Yogananda selalu menggunakan istilah “the deathless master” bagi Babaji—Ia yang tidak pernah mati. Beliau benar, karena, “kematian” sebagaimana kita definisikan hanya bisa terjadi dalam dimensi ruang dan waktu. Dunia kita ini berada dalam dimensi yang sama. Segala sesuatu yang bisa terpikirkan  oleh kita—kelahiran dan kematian bahkan kehidupan ini sendiri—akan selalu berada dalam dimensi yang sama. Dan apabila kita menggunakan tolak ukur dimensi ruang dan waktu yang sama, maka betul: Babaji tidak akan pernah “mati”. Ia tidak akan mati dalam dimensi “ruang dan waktu” sebagaimana kita ketahui. Berakhirnya siklus dunia kita juga akan mengakhiri “badan” beliau. Beliau tidak akan pernah “mati” dalam siklus ini.
Beliau juga menepati janji beliau. Dalam setiap jaman, pasti ada orang-orang tertentu yang beliau temui. Pertemuan dengan beliau, sepenuhnya atas kehendak beliau, atas Kehendak Ilahi.
Setelah pertama kali diterbitkannya buku ini, yaitu pada tahun 1946, tiba-tiba muncul belasan buku, dimana para penulisnya mengaku pernah bertemu dengan Babaji. Aneh sekali, entah bagaimana 7 orang diantara penulis itu bisa berkumpul di kota Allahabad di India bagian utara. Pada suatu malam, sungai Ganga mengamuk dan ketujuh orang itu meninggal dalam banjir yang melanda kota tersebut. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1960-an, demikian yang saya dengan dari para swami di Benares. Beberapa hari kemudian, 4 penulis lainnya mengadakan konferensi pers secara terpisah, memohon maaf  kepada para pembaca buku mereka dan mengakui kebohongan yang mereka tulis.
Musibah berskala lebih kecil menimpa teman saya di Jepang. Ia pun mengaku pernah bertemu dengan Babaji. Selama kurang lebih 1 tahun, ia membohongi para peserta kelompok studi spiritual yang ia bina. Pada suatu hari, ia jatuh sakit—sakit keras. Para dokter tidak bisa membantu dia. Secara anatomis, tidak ada kelainan. Apabila berada di klinik dokter atau di lab, tidak terjadi apa pun. Begitu pulang ke rumah, sakit lagi—nafasnya sesak. Dokter menyarankan agar ia dirawat di rumah sakit. Setiap saat ada dokter, ada perawat, keadaannya normal. Ditinggal sebentar, tidak bisa bernafas lagi! Aneh! Akhirnya para dokter menyimpulkan bahwa penyakit dia bersifat psikosomatis.
Pada suat hari, ia berterus-terang dengan kami, “selama ini saya telah membohongi kalian, menyesatkan kalian. Tujuan saya hanya untuk mencari popularitas. Maafkan saya.” Hari itu juga, saat itu juga ia sembuh. Penderitaan fisik dan mental selama 1 tahun lebih berakhir begitu saja.
Babaji menjelaskan, “Semua itu terjadi, bukan karena saya marah, bukan karena saya membalas dendam. Tidak sama sekali. Merek membohongi orang banyak, dan untuk itu ada mekanisme alam yang bekerja. Tidak ada yang bisa luput dari hukum karma.”
Pada suatu hari dalam bulan suci Ramadhan tahun 1998/9 saya baru diizinkan untuk memberi penjelasan tentang apa yang saya ketahui mengenai diri beliau. Hari itu juga, kepada sekelompok orang yang sedang menghadiri salah satu program meditasi saya berjanji bahwa pada suatu ketika setiap orang di antara mereka akan bertemu dengan Babaji. Saya pun tidak tahu, bagaimana saya bisa mengucapkan kata-kata itu.
Malamnya Babaji menampakkan dirinya, “Kata-kata itu keluar karena aku yang menghendakinya.” Dan beliau memberi saya tugas, untuk mulai menyadur karya besar ini. “Disana-sini, berikan keterangan. Jelaskan pengalaman pribadi,” pesan beliau.
Saya tidak akan pernah berani menyadurkan buku ini, kalau saya belum punya pengalaman pribadi. Saya bukan seorang penerjemah, itu bukan profesi saya. Saya pernah mengalami sesuatu yang indah, yang luar biasa dan saya ingin berbagi rasa dengan Anda. Untuk itu, saya menggunakan buku ini—penyaduran karya klasik oleh Paramhansa Yogananda ini—sebagai sarana, sebagai perantara.
Saya mulai menyadurkan karya ini, pada hari Natal, tanggal 25 Desember 1998. Hari ini, tanggal 26 Januari 1999. Banyak sekali hal-hal aneh yang terjadi belakangan ini. Dari suatu situasi pelik, dimana penyerahan diri saya terhadap Kehendak Ilahi teruji, sampai pada bukti-bukti nyata akan akan Kehadiran Allah pada setiap saat, di setiap tempat.
Dua hari yang lalu, ada yang meneror saya lewat telepon, “Pak Krishna kau belum mengalami sesuatu apa pun, cuma menulis saja. Bolak-balik yang dibicarakan kesadaran melulu. Cuma untuk cari uang.” Kira-kira demikian kata orang yang menelepon saya. Saya tenang-tenang saja. Pengalaman saya adalah pengalaman saya pribadi. Saya tidak mengharapkan setiap orang harus selalu mempercayai saya. Saya mengenali suaranya, walaupun belum pernah ketemu orangnya. Saya tahu persis, dia siapa. Kalau membaca tulisan-tulisan saya dengan pikiran jernih, ia akan menemukan jawaban setiap pertanyaan yang ia ajukan—balasan setiap sindiran yang ia lontarkan.
Babaji menasehati saya agar tidak reaktif, “Cukup sudah apa yang kau lakukan untuk menyadarkan mereka. Sekarang duduk diam. Jangan reaktif. Kamu sudah berusaha, kalau mereka tetap juga memilih untuk jatuh dalam jurang, itulah karma mereka. Mulai saat ini, serahkan kasus ini sepenuhnya kepada Keberadaan, kepada Kehendak Ilahi. Mereka bukan tidak sadar. Kalau tidak sadar, mereka bisa disadarkan. Tetapi mereka menolak kesadaran, apa yang bisa kau lakukan? Dalam tiga bulan, Kebenaran akan mucul.”
Saya masih mendesak, “Tetapi teman saya Mas ... yang sepertinya terpengaruh oleh mereka dan ikut kehilangan kesadaran.”
“Biarkan dulu. Besok pun ia akan mengatakan sesuatu, yang tadi sudah kamu dengarkan dari orang yang menelepon kamu. Bahasa mereka sama. Demi kebaikan dia sendiri, biarkan dia jatuh, terpeleset—kakinya berdarah—setelah itu dia baru akan sadar.” Babaji menggunakan bahasa Hindi untuk berkomunikasi dengan saya.
“Dan selama 3 bulan itu, teman saya Mas ... akan hidup dalam ketidaksadaran?” saya bertanya.
“Tidak, begitu membaca tulisan ini, khususnya uraian ini, dia akan langsung sadar. Dia akan sadar pula bahwa kedudukan dia saat ini bukan suatu kebetulan. Dia telah disiapkan untuk itu. Dia tidak akan tidur lama.”
Sebelum mengakhiri pertemuan malam itu, beliau menyuruh saya membuka “Alkitab” secara acak. Kebetulan, di sudut meja di sebelah komputer saya menaruh Alkitab, Al-Quran dan Kamus Inggris-Indonesia untuk referensi. Halaman Injil yang terbuka, menceritakan kejadian sebelum Nabi Isa disalibkan. Suara mereka yang menginginkan agar Ia disalib lebih keras, lebih nyaring, sehingga terdengar lebih jelas. Isa memang tidak bersuara. Ia membisu.—a.k.)      



(“Meniti Kehidupan, Bersama Para Yogi, Fakir dan Mistik – Otobiografi PARAMHANSA YOGANANDA.” Dikisahkan kembali oleh Anand Krishna, hal 356-374. Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta,2002)