Tampilkan postingan dengan label M. Govindan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M. Govindan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Februari 2020

Pernapasan dan Umur Panjang


Hasil gambar untuk m govindan
Yogacharya M. Govindan Satchidananda



Satu-satunya fungsi fisiologis yang dilakukan baik atas kemauan sendiri, atau tidak (otomatis) adalah bernapas. Bernapas bisa dikontrol secara sadar oleh pikiran atau dapat dibiarkan berfungsi secara otomatis seperti proses fisiologi yang lain, seperti pencernaan makanan, yang dibawah kontrol dari tubuh. Jadi pernapasan adalah jembatan yang penting antara pikiran-perasaan (mind) dan tubuh (body), dan dapat mempengaruhi keduanya.

Pola pernapasan kita mencerminkan keadaan emosi dan mental kita – pernapasan menjadi terguncang-guncang selama kemarahan, dan berhenti sementara selama periode ketakutan, tergagap-gagap selama rasa takjub/keheranan, tersendat dalam masa kesedihan, menghela napas dalam rasa lega, lambat dan stabil selama periode konsentrasi, dan berubah-ubah selama periode dimana pikiran tergantung pada bundel pikiran serta emosi yang melintas tak beraturan secara acak.

Adalah sukar untuk mengontrol emosi dan pikiran secara langsung, tetapi mereka bisa dikuasai secara indirect, tak langsung melalui penggunaan pernapasan. Berbagai tradisi meditasi telah lama mengajarkan murid-murid mereka untuk berkonsentrasi pada pernapasan secara halus untuk mengeliminasi pikiran yang mengalihkan perhatian atau mengganggu. Di masa modern ini, banyak studi ilmiah telah mengkonfirmasi efek dari latihan pernapasan dalam pengobatan hypertensi dan penyakit & kelainan yang menyebabkan kekhawatiran dan kecemasan.

Proses dari respirasi dalam dalam mana oksigen ditarik ke dalam sel-sel hidup dan Co2 dikeluarkan dari sel-sel itu adalah sebuah fenomena hidup yang fundamental yang secara universal berada berada di setiap macam organisme yang hidup. Pusat pernapasan yang mengatur irama kontraksi otot yang berhubungan dengan pernapasan dikenal dengan nama : “Medulla Oblongata” (bagian bawah batang otak).

Pernapasan adalah kebutuhan terus-menerus untuk mendapatkan supply oksigen yang cukup dan hidup tidaklah mungkin tanpa adanya kualitas oksigen yang cukup. Dengan pernapasan yang dalam, kita menarik energi dari waduk universal kehidupan.

Sejalan dengan itu, setiap sel individu mempertahankan kecepatan pernapasannya sesuai dengan kebutuhan si individu – akhirnya semua sel-sel hidup bergantung kepada pekerjaan pemenuhan dari sistem respirasi untuk semua keperluan energi mereka. Para Siddha mengacu pada energi dasar yang membawahi seluruh aktifitas, baik secara fisik maupun mental sebagai prana (Life force) atau tenaga hidup yang halus.

Prana diketahui ada di udara yang kita hirup. Di Bumi tempat kita tinggal, di air yang kita minum dan di cahaya matahari.

Beberapa dari saluran-saluran lewat mana prana fisik (physical prana) mengalir, telah dipetakan oleh para Siddha dari India dan Cina, lebih banyak saluran fisik (physical channels) telah di identifikasi sebagai meridian dalam ilmu tusuk jarum (akupuntr), asal-usulnya dikembangkan di India, dan dikenal sebagai Varma dalam sistem pengobatan Siddha. Ini dipraktekkan oleh tabib-tabib Siddha Vaidya sampai kini, terutama di daerah Nager Coil di Tamil Nadu. Juga dipakai sampai kini oleh pelatih gajah di India dan Sri Lanka. Karena levelnya lebih kasar (gross), maka saluran-saluran prana itu bisa dimanipulasi secara fisik, misalnya dengan jarum akupuntur atau tekanan jari (finger Pressure).

Mereka adalah bagian kecil (small subset) saluran prana dari spektrum yang lebih luas atau nadi dari Yoga, seperti yang duraikan di bawah ini :

Hukum dari “Proporsi-proporsi Terbalik” dan umur panjang (Keabadian)

Ilmu para Siddha mengajarkan pada kita bahwa manusia pada umumnya mengambil 15 pernapasan dalam satu menit; dalam satu hari 21.600 pernapasan (15 x 60 menit x 24 jam), dan dalam kecepatan ini, ia dapat hidup selama periode 120 tahun, seperti yang dibatasi oleh prinsip fundamental pada mana pernapasan didasarkan. Prinsip ini mengenali bahwa tidak semua energi yang dipaksa keluar selama pernapasan keluar (exhalation) bisa diambil kembali selama penarikan napas (inhalation).

Sewaktu bernapas normal, energi yang hilang dalam setiap exhalation memanjang 12 inchi ruang dan diperoleh kembali sejauh 8 inchi saat inhalation, hasilnya kehilangan 4 inchi. Sebagian energi yang seharusnya masuk kembali ketubuh hilang dalam setiap proses pernapasan dan oleh karenannya jangka hidup normal 120 tahun banyak berkurang.

Dalam puisi Boganatar (salah seorang Siddha dari 18 Tradisi Siddha Kriya Yoga), Gnana Savera 1.000 ia menerangkan kebenaran ini dan bahkan menunjukkan bahwa bernapas berlebihan mengurangi jangka hidup normal yang berakhir dengan kematian pada makhluk manusia. Waktu makan, napas keluar sepanjang 18 inchi ruang. Waktu berjalan, 24 inchi, waktu lari 42 inchi, dalam aktifitas seks 50 inchi (Seks berlebihan dengan penghamburan sperma/napas akan memperpendek umur dan mempercepat kematian. Kebanyakan raja-raja Tiongkok di zaman dulu mati muda karena terlalu banyak menghamburkan energi ini dengan memelihara ribuan selir – Catatan penyadur). Dan dalam tidur 60 inchi.

Ramalinga Swamigal juga mengkonfirmasikan bahwa kebanyakan tidur mengurangi jangka hidup.

Thirumoolar (salah seorang Siddha dari 18 Tradisi Siddha Kriya Yoga) meratapi hal ini dalam Stanza no 2873 dari Thirumandiram, bagaimana manusia memboroskan energi prana ini, sehingga mengurangi jangka hidupnya. Ia berkata, “Ada 2 sumur air dan 7 mata air. Kakak tertua menimba air ke atas, sementara itu adiknya menyalurkannya ke sawah. Bila sejumlah air tidak mengairi sawah-sawah dimana benih tumbuh, itu akan sia-sia”. Sama halnya, bila amritha (sekresi hormon) tidak mengalir ke tujuh plexus (7 cakra) dimana daya hidup tumbuh, kelemahan akan lebih masuk ke sel organisme dari sistem manusia dan jangka hidup akan menyusut bayak kerena penyakit dan degenerasi.

Seluruh Tantra bab ke tiga dari Thirumandiram berhubungan dengan kontrol dari prana untuk membantu orang hidup sampai 120 tahun (Velan, 1963, hal 60-62, 67, Balaramaiah, 1970, hal 32-33).

Studi ilmiah modern mengkonfirmasi ajaran-ajaran para Siddha dalam hubungannya dengan kehilangan energi dalam pernapasan. Pengetahuan ilmiah telah menemukan bahwa manusia mengeluarkan dan menarik napas sebanyak 12.000 liter udara perhari. Ini menurut kecepatan respirasi sebanyak 18 permenit dan kedalaman respirasi pada 500 CC.

Karena udara yang masuk mengandung 20% oksigen, yang keluar berisi hanya 16% oksigen. Ini menunjukkan bahwa oksigen yang ditahan dalam tubuh Cuma 4% (480 liter perhari). Hal yang sama. Darah tidak mendistribusikan lebih dari 20% dari oksigen yang di kandungnya ke jaringan-jaringan (Velan, 1963 hal 65). Siddhar Tamil Roma Rishi, dalam ayat ke 13 dari “Nyanyian Kebijaksanaan” berdendang, “Bila ia pergi, jangka hidup menyusut; Bila tidak pergi takkan berkurang (Ramaiah, 1968, hal 14).

Di sini yang dimaksud adalah Prana atau energi hidup. Roma Rishi berkata dalam ayat ini, bahwa jangka hidup akan berkurang bila orang kehilangan prana, tetapi bila tak hilang hidup manusia akan terus berlangsung tak terbataskan. Ia menyatakan bahwa manusia tak perlu harus mati bila daya hdup atau prana tak hilang; bila prana bertambah dan ini dapat diambil dari sumber kosmis, untuk mengatasi kematian dan takdir. Hal ini yang oleh Yogi S.A.A. Ramaiah disebut sebagai Hukum dari Proporsi-proporsi Terbalik. Ia mencatat bahwa jangka hidup secara terbalik berhubungan dengan kecepatan pikiran. Jangka hidup normal manusia adalah 120 tahun, dengan mengambil 15 pernapasan dalam satu menit; dalam satu hari 21.600 pernapasan (15 x 60 menit x 24 jam).

Bila kecepatan pernapasan adalah 18 per menit, jangka hidup berkisar pada 96 tahun. Bila karena kebiasaan hidup yang miskin dan penghamburan energi yang tak perlu, dan pernapasan rata-rata dengan 30 per menit, jangka hidup akan menjadi 60 tahun. Bagaimanapun juga, bila kecepatan dipertahankan melalui praktek Yoga dan kontrol diri menjadi rata-rata 5 respirasi per menit, jangka hidup akan menjadi 360 tahun. Bila hanya 1 per menit, jangka hidup akan bertambah menjadi 1800 tahun. Dan bila kecepatan pernapasan dikurangi sampai mencapai nol, maka jangka hidup menjadi tak terbatas.

Yogi Ramaiah telah mengarahkan pada contoh-contoh dari studi mengenai zoology (ilmu tentang kehidupan binatang) modern, yang mengkonfirmasikan Hukum dari Proporsi-proporsi Terbalik. Kura-kura laut hidup pada usia sampai lebih dari 300 tahun, dan binatang itu bernapas pada kecepatan 4-5 respirasi per menit. Binatang-binatang lain seperti kodok, tikus, beruang, pergi bersembunyi tidur dalam musim dingin, dan pernapasan mereka secara drastis berkurang pada masa itu (Ramaiah, 1968, hal 12-14).

Penimbunan Prana.

Para Siddha mengembangkan pola irama pernapasan yang lambat dengan maksud untuk mencegah kehilangan energi sedemikian itu dan memungkinkan mereka sendiri hidup selama mereka suka, untuk melayani kemanusiaan karena oksigen di ambil melalui sistem circulatory atau peredaran, maka sama juga prana diambil lewat sistem syaraf (nervous system) dan dipergunakan sebagai kekuatan – syaraf dalam tindakan berfikir, berniat dan lain-lain.

Kenyataannya regulasi dari cara pernapasan memungkinkan seseorang untuk mengabsorbsi supply prana yang lebih besar untuk di tampung didalam otak dan pusat-pusat syaraf untuk dipakai bila dibutuhkan.

Kekuatan-kekuatan yang menakjubkan dari para Siddha yang sudah advanced tingkatannya sebagian besar adalah karena ilmu pengetahuan dan penggunaan yang intelligent dari energi yang telah ditampung itu. Haruslah diingat bahwa setiap fungsi dari organ-organ tubuh tergantung pada kekuatan syaraf (nerve-force) yang disupply oleh prana – yang dipancarkan oleh matahari dan bersirkulasi diruang bebas. Tanpa energi syaraf atau daya kekuatan syaraf ini, jantung takkan mampu berdenyut, paru-paru takkan mampu bernapas, darah takkan dapat bersirkulasi, dan bermacam-macam organ tubuh takkan bisa melakukan fungsi normalnya masing-masing.

Prana ini tidak hanya mensupply kekuatan listrik kepada urat syaraf, tetapi juga akan memagnetizir zat besi yang ada didalam sistem, dan memproduksi aura sebagai emanasi atau pancaran yang natural. Dan ini bisa dengan mudahnya di peroleh dengan mempraktekkan pernapasan atau pranayama. Seseoran yang telah mempraktekkan absorbsi (penyerapan) dan storing (penampungan) supply prana yang bertambah dalam sistemnya, sering kali meradiasikan, memancarkan vitalitas dan kekuatan, dan ini bisa dirasakan oleh mereka yang datang kontak dengannya. Pemimpin-pemimpin besar di sepanjang sejarah secara alami biasanya dianugerahi dengan magnetisme, daya magnet pribadi ini (Bala Ramaiah, 1970, hal 34-35).

Mensupply oksigen kepada sel-sel tubuh dan memersihkannya dari kelebihan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh oksidasi adalah tujuan utama dari respirasi. Hal itu juga membantu netralisasi temperatur tubuh dan eliminasi dari kelebihan air.

Respirasi terjadi baik diluar maupun didalam.

Respirasi yang terjadi di paru-paru, dengan perjalanan oksigen dari alveoli ke darah, dikenal sebagai respirasi eksternal dan respirasi yang terjadi di sel-sel dari jaringan tubuh dikenal sebagai repirasi internal.

Ilmu pengetahuan para Siddha mengenal umur panjang dan keabadian terutama berhubungan dengn respirasi internal. Rahasia umur panjang terletak dalam teknik untuk mengalihkan pernapasan ke saluran-saluran dan pusat-pusat yang lebih halus.

Para Yogi dan Siddha yang tidak terganggu dalam praktek yoga mereka oleh rasa lapar dan haus telah mengandalkan bantuan dari bagian cerebral (otak) melalui opening atau celah dibelakang uvula (Anak Lidah yang Bergantung di Ujung Tenggorokan), dalam Bahasa Tamil ini disebut Amuridharanai.

Beberapa stanza dalam Thirumandiram merefrensi pada hal ini. Persis berkonsentrasi pada pusat-pusat psikis (psychic centers – psychic = kejiwaan) dan kelenjar-kelenjar mistik (mystic gland – kelenjar pineal) yang letaknya didaerah hypothalamus - hipotalamus, untuk mendapatkan amirdha-amerta (ambrosial fluid = cairan makanan dewa-dewa—DMT). Eliksir kehidupan ini akan menguatkan sistem tubuh manusia dan membuatnya tak mempan terhadap pembusukan/kerusakan, degenerasi, penyakit dan kematian.

Thirumoolar mengatakan adalah usaha yang sia-sia untuk pergi mencari tepat-tempat suci untuk mandi karena center atau pusat-pusat sedemikian itu berada didalam sistem tubuh manusia sendiri.

Para Siddha telah merefer kepada center dari titik antara kedua alis mata didalam karya-karya mereka dalam simbol-simbol nama yang berbeda-beda dalam bahasa Tamil seperti : Tempat dari Tarian Kosmik (Chitsabhai), Benih Tertinggi (Laladum vindu – supreme seed), Kebijaksanaan (Arivu = wisdom), Jembatan (Palam – Brige), Tri Cahaya (Muchundar), Keadaan Void, Kosong melompong (Muppazh), Mata Ketiga (Nettrikan – Third Eye), Gunung Meru, Penyebab Asal Mula Kehidupan (Mulam = Primaeval Cause), Sungai Api (Nerupparu = River of fire), dan lain-lain.

Ada tiga nama lagi yang dianggap sangat penting dalam kaitan dengan Imortalitas manusia. Simbol-simbol Keabadian itu adalah : Saka-kal, Vekathalai, dan Pokapunal, yang berarti Udara Yang Tak Pernah Mati (Vayu), Eter Yang Tak Punah Oleh Api (Akasa) dan Api (Agni). Masing-masing beroperasi di cervical (Bagian leher), hipotalamus,  dan plexus jantung (cardiac plexuses) – dari 3 elemen alamiah itu, fungsi dari Api adalah di jantung, Udara di Sistem Pernapasan, dan Ether (Eter) di cerebrum (otak) terus beroperasi tanpa henti, sampai pada suatu ketika fungsi-fungsi normal dari itu semua terinterupsi (terganggu) disebabkan mungkin oleh mal nutrisi, aktifitas-aktifitas yang tak dikehendaki yang bertentangan dengan hukum alam, dan akumulasi dari kotoran atau sampah dalam tubuh.



(Sumber : Buku Babaji dan Tradisi 18 Siddha Kriya Yoga, Jilid 2, karya M. Govindan, M. A. hal 138-151, Diterbitkan oleh PT. Protona Findo U.E, Jakarta)

Hasil gambar untuk babaji dan 18 tradisi siddha


           


Sabtu, 08 Februari 2020

ASHRAM DARI BABAJI : GAURI SHANKAR PEETAM


Mahāvatar Babaji


5

ASHRAM DARI BABAJI : GAURI SHANKAR PEETAM


Ashram Babaji yang terletak dekat Badrinath di Himalaya, dekenal sebagai Gauri Shankar peetam. Hal itu telah diuraikan oleh V.T Neelakantan (Ramaiah, Mei 1954 hal 3-10) menurutnya ia telah di izinkan (Oleh Babaji) melakukan kunjungan dengan tubuh astralnya ketempat itu dua kali pada pertengahan akhir oktober 1953. Neelakantan mendapati secara tiba-tiba ia telah meninggalkan tubuh fisiknya di Madras, India dan telah berganti dengan tubuh yang yang lain, berdiri dengan Babaji di Gauri Shankar peetam. Uraiannya tentang Ashran Babaji dan aktivitasnya adalah sebagai berikut ini :

Ashram terletak dekat kuil kota Badrinath di daerah yang dikelilingi oleh tebing batu yang terjal di semua tempat sisinya dengan sederetan gua di dasar. Gua yang paling besar ditempati oleh Babaji sendiri. Di sudut berseberangan dengan gua itu ada dua air terjun.

Penghuni ashram berjumlah 14 orang dan pada kunjungan itu mereka menggunakan air terjun besar untuk mandi dan air terjun kecil untuk minum. Air kedua air terjun itu membentuk dua aliran yang menyatu di ujung berlawanan dari daerah itu dan lalu menghilang ke sebuah terowongan jalan keluar. Di malam hari, meskipun tak ada sumber penerangan listrik, seluruh daerah itu di terangi dengan baik. Suatu kekuatan misteri menahan orang yang berniat mendekati Ashram itu dan tertahan dalam jarak kira-kira satu mil. Sebagai akibatnya, tak seorangpun dapat mencapai Ashram tanpa izin Babaji.

Gauri Shankar Peetam
(Sumber gambar : http://ukbys.org/babajis-kriya-yoga)

Penghuni Ashram termasuk saudari Babaji (saudari sepupu dari pihak ayah), yang bernama Mataji Naga Lakshmi Dewiyar (dikenal juga sebagai Annai). Dia memakai sari dari katun, putih warnanya dengan bordir hijau dan selempang merah meliputi lehernya. Menurutnya, dia adalah sosok perempuan yang benar-benar cantik dengan kulit terang, lekukan kurus dan lebih tinggi dari abangnya. Pipinya agak panjang dengan tonjolan tulang pipi, dan menyerupai Kashi, murid Paramahansa Yogananda di lihat dari depan, dan istri Neelkantan dari samping.
Annai Nagalakshmi Dewiyar bertugas untuk mengorganisir Ashram dan melayani para penghuni dalam beberapa pekerjaan. Dia mengawasi persiapan makanan sehari-hari yang sederhana, makanan Vegetarian (tanpa daging) untuk makan siang. Makanan itu mendukung kehidupan kehidupan seorang yogi (Yogi lifestyle) dari Ashram itu.  Dia memelihara dengan hati-hati, sebuaah tanaman “tulasi” yang besar bertengger di puncak sebuah “peetam” atau kuil, mendekati empat kali tingginya.

Babaji dan Mataji, di Gauri Shankar – artis Gail Tarrant

            Setiap hari dia rajin memuja “Dewi Tulasi”, seorang pemuja agung dari Lord Krishna. Dewi Tulasi diberikan anugerah istimewa oleh Lord Krishna di sepanjang segala abad sebagai Tanaman Tulasi di Surga tempat kediaman Lord Krishna.

            Cara favorit Annai dalam pemujaan adalah memuja kaki suci Lord Babaji dalam sebuah upacara yang dikenal sebagai “Pada Poosai”, pada artinya kaki dan poosai artinya memuja dengan bunga. [Pemujaan pada kaki “Lord Babaji” adalah suatu ekspresi kedekatan akan kasih seseorang dan suatu simbol yang menunjukka kepasrahan dan aspirasi. Di kesluruhan literatur Tamil yang suci, dalam Thirumandiramnya Thirumoolar, misalnya, bisa diketemukan refrensi mengenai pemujaan kaki Sang Master, “Memegang kaki Master dan Lalu mendaki”, memberikan lambang bahwa dengan bersandar pada Lord dan Master dan aspirasinya, manusia akan tiba pada Pencerahan Diri (Self Raslization)]. Selama upacara ini dia dengan kasih sayang menaruh kaki Babaji di sebuah piring perak, mencuci dan menuangkan minyak sesame,bubuk kacang mung, susu dan pewangi yanglain atau bahan-bahan berharga lainnya. Kemudian dia mendekorasi kaki ini dengan abu suci (Vibhuti), abu dari api yajña yang sudah di mantrai juga dengan “kumkuma” (bubuk merah dari bunga Vermillion/dan sejumlah bunga lainnya yang tumbuh dekat Ashram).

Annai memuja kaki suci Lord Babaji pada upacara Pada Poosai
(Sumber gambar: http://ukbys.org/babajis-kriya-yoga)

Penghuni-penghuni lainnya termasuk beberapa orang laki-laki, jenggotnya memanjang menyentuh batas pusar. Seorang pengusaha Muslim, setelah mempersembahkan semua tentara dan kekayaannya kepada Babaji dan lalu ditolak oleh Sang Master, pada akhirnya menyerahkan dirinya sendiri kepada Master dan dia diterima sebagai murid Babaji. Sepasang orang Bule (Barat), Ibu dan anaknya yang berumur 10 tahun, Swami Pranabananda, “Saint dengan dua badan” juga hadir disana.

Dia dikenal sebagai “Amman Pranabananda”, dan secara fisik sangat menyerupai tubuh pada reinkarnasinya yang terakhir kecuali kalaulah dia membiarkan rambut dan jenggotnya tumbuh panjang.

Swami Pranabananda telah diceritakan oleh Yogananda (Yogananda, 1969, hal 22-28, 260, 350). Swami Pranabananda, pada akhir inkarnasi terakhirnya telah meninggalkan tubuh wadagnya secara sadar (a conscious exit from physical body) dan itu di sebut Maha Samadhi, didepan murid-muridnya yang berkumpul. Beberapa tahun kemudian ia lahir kembali (reborn).

Swami Pranabananda, Amman, “Dadaji”
           
Sebagai seorang muda, ia tiba-tiba ingat kehidupan sebelumnya dan hubungannya dengan Babaji. Ia lalu pergi ke Himalaya untuk mencari gurunya yang tak bisa mati itu. Pada akhirnya karena berkat Babaji, Ia dipersatukan kembali dengan gurunya. Setelah mempraktekkan Kriya Yoga secara intensif di bawah bimbingan Babaji selama bertahun-tahun, ia mencapai keadaan tak dapat mati atau Soruba Samadhi. Dia dihormati dan dikenal dengan nama “Dadaji” atau “Amman Pranabananda”. Ia sekarang melayani sebagai sumber inspirasi spiritual dan pembimbing bagi banyak murid. Dia juga menjadi pengawas pemeliharaan taman di Ashram.

Diantara para pengikut Babaji, hanya Amman dan Annai yang berhasil mencapai keadaan tak bisa mati (deathless state) atau Soruba Samadhi. Pencapaian mereka, lebih dari apapun juga dan merefleksikan kesempurnaan dari pasrah diri kepada Tuhan, tujuan tertinggi dari Kriya Yoga. Dengan berhasil melampaui batas kesadaran akan sang ego, sekarang mereka membantu semua orang yang mencari asistensi. Annai, bertugas spesial untuk membantu para Sadhaka Yoga selama meditasi tengah malam untuk membersihkan pikiran bawah sadar (subconscious) dengan penggunaan teknik meditasi pertama yang di ajarkan selama inisiasi Kriya Dhyana Yoga.

Amman Pranabananda, sebagai master dari teknik meditasi yang ke empat, membantu para yoga Sadhaka untuk menyaring (mendapatkan) potensi besar dari inspirasi intelektual.

Banyak saint (orang suci) dan para rishi mendapatkan God Realization (Kesadaran Tuhan) di dimensi spiritual dan mental. Bagaimanapun juga hanya beberapa yang mampu berhasil untuk melakukan penyerahan diri total kepada Kesadaran Ilahi (Divine Consciousness) pada level dimensi atau strata yang vital dan pada sel-sel tubuh manusia, sehingga mereka masih bisa menjadi sasaran kekuatan penyakit, bertambah uzur karena umur, dan akhirnya berakhir dengan kematian. Bagi semua Sadhaka Kriya Yoga (murid-murid yang telah mendapat inisiasi Kriya Yoga) dan pada pengikut, Babaji, Annai, dan Amman adalah contoh ideal akan self surrender, keprasrahan dengan totalitas sempurna.      

           Mereka adalah pada kenyataanya harus diakui sebagai perwujudan hidup dari zat Ilahi.

         Para penghuni Ashran setia pada disiplin yang merupakan jadwal sehari-hari yang terpusat pada praktek Sadhana Yoga, yang meliputi Asanas (postur-postur yoga), Pranayama (pernafasan), Meditasi, Mantra dan Bhakti yoga. Menurut V.T. Neelakantan, setiap orang bangun jam 4 pagi hari. Setelah mandi di air terjun besar, ada kesempatan 1 jam untuk melakukan yoga Shadana dengan penekanan pada pranayama. Di siang hari para penghuni mengikuti Shadana masing-masing yang terkait, kadang-kadang berkonsultasi dengan Babaji, mengenai beberapa teknikuntuk di praktekkan.

Personalitas Babaji yang penuhkasih sayang dengan rasa humornya yang hangat dan welas asih yang universal, membangkitkan rasa sayang semua orang kepadanya. Bila seseorang harus memiih kata yang tepat untuk sebutan bagi Babaji, kata itu adalah “Kerendahan Hati”.

Menurut cerita lain dari seorang saksi mata di petang hari, penghuni Ashram duduk dalam suatu lingkaran dan melantunkan mantra di sekitar Api Homa di depan gua Babaji. Mantra yang populer adalah: “Om Kriya Babaji Namah”. Kata Om dan Aum berarti  suara dari Jagad raya, Alam semesta dan masing-asing dapat di alami getarannya baik di dalam maupun di luar. Namah berasal dari kata Namaha yang artinya Salut (salutation) atau Menghormati, dilantunkan menurut beberapa macam melodi dan irama. Selama perayaan Guru Purnima pada pada awal bulan Juli, bunga-bunga dipersembahkan ke kaki suci Babaji oleh semua penghuni Ashram. Ibu Ashram, Annai Naga Lakhsmi dipuja oleh semua yang hadir dengan hormat yang besar, sebagai perwujudan dari Ibu Ilahiah atau Kosmik Shakti.

Dalam wacananya, Babaji menyatakan tentang dirinya sendiri sebagai telah mencapai “Eksistensi Absolut” (Absolute Existence), “Kebenaran” (Truth) dan Kebahagiaan Surgawi atau Ananda (Bliss). Dia mengacu pada dirinya sendiri sebagai Personalitas Impersonal dari Alam semesta (Impersonal Personality of the Universe), keanekaragaman dalam keesaan “Semua dalam Satu dan yang Satu dalam semua”, Immortal (abadi, tak mati lagi), Tak terbatas (Infinite) dan jadi Diri Abadi (Eternal Self).

Seorang seyogyanya mempelajari Kriya Yoga Dhyana (meditasi) untuk bisa memahami dan menyadari Personalitas Ilahinya sendiri. Para sadhaka Kriya Yoga haruslah mengerti bahwa “Surga di Dunia” yaitu Gauri Shankar Peetam berada bukan hanya di pegunungan Himalaya, tetapi juga dihati para pengikut Babaji. Ashramnya yang fisikal, secara fisik tak bisa dimasuki oleh sembarang orang, karena Babaji memilih untuk bekerja secara diam-diam dan dengan tenang, tanpa nama di dunia ini, membantu ribuan devotee (Baktha) dan berjuta-juta jiwa untuk berevolusi dengan kecepatan dan keadaanmereka masing-masing. Ibarat stasiun broadcasting (penyiaran) dia memancarkan pesannya untuk cinta kasih dan perdamaian universal kepada setiap orang.

[Hasil gambar untuk babaji


“Om Kriya Babaji Namaha,
Om Kriya Babaji Namaha,
Om Kriya Babaji Namaha”



(Sumber dari Buku “Babaji dan Tradisi 18 Siddha Kriya Yoga” Jilid 1, karya M. Govindan, M.A. hal 75-80)