Tampilkan postingan dengan label Aṣhtāvakra Gita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aṣhtāvakra Gita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2020

Aṣhtāvakra Gita : Sutra 1:1 - 2:25


#spiritualitys a revered Vedic sage in Hinduism. His name literally means "eight bends", reflecting the eight physical handicaps he was born with. His maternal grandfather was the Vedic sage Aruni, his parents were both Vedic students at Aruni's school. Ashtavakra studied, became a sage and a celebrated character in the mythologies of the Hindu Epics and Puranas. #themodernvedic #gita #ashtavakra #ashtavakra_gita #ashtavakra_samhita #non_dualistic_rationality #advaita #absolute #mukti
Aṣhtāvakra Gita
Ekspresi Kebenaran Paling Murni


Dengan ini dimulailah kitab Aṣhtāvakra Gita.

1:1
Janaka bertanya:
Bagaimanakah seseorang mencapai Kebijaksanaan? Dan Bagaimana Mukti, atau Kebebasan terjadi? dan bagaimana pula Ketidakterikatan dapat tercapai? Mohon jelaskanlah hal ini, Oh Paduka!

1:2
Aṣhtāvakra menjawab:
Anakku, bila Engkau menginginkan kebebasan, Engkau harus meninggalkan semua obyek keinginan dan menganggap itu sebagai racun, kembangkan sifat-sifat mulia seperti memaafkan, keteguhan hati, baik budi, puas diri, dan berpijak pada kebenaran dan anggap ini sebagai nektar kehidupan.

1:3
Untuk mencapai Mukti Engkau harus mengetahui dengan pasti bahwa atma adalah Saksi yang melihat semuanya. Engkau bukan badan yang terdiri dari pertiwi, air, api, udara, dan ether, tetapi sebagai Atma itu sendiri.

1:4
Apabila Engkau pisahkan diri diri dari ikatan tubuh ini dan berstana di dalam atma, sekarang juga Engkau mencapai kebahagiaan, damai dan bebas dari semua keterikatan.

1:5
Engkau bukan dari golongan brahmana atau yang lainnya, tidak memiliki kasta, pun tidak dapat dipersepsi oleh indriya, Engkau bebas, tak berbentuk, Saksi seluruh alam semesta, berbahagialah.

1:6
Dharma dan adharma, suka dan duka hanya ada dalam pikiran tidak dalam dirimu wahai yang meresapi segalanya! Engkau bukan pelaku, pun bukan yang menikmati hasil perbuatan, Engkau selalu dalam kebebasan.

1:7
Sebenarnya Engkau selalu dalam kebebasan sebagai Saksi Hyang Tunggal, yang membuat keterikatan adalah Engkau melihat dirimu sebagai ‘entitas yang melihat’ sebagai sesuatu yang lain.

1:8
Ibarat Engkau telah dipatuk ular besar berbisa ’rasa aku sebagai pelaku’ hanya bisa dibebaskan dengan meminum nektar pengetahuan ‘aku bukan pelaku’, karena itu berbahagialah.

1:9
Dengan keteguhan pada ideasi aku sebagai Kesadaran Murni Hyang Tunggal, bakarlah belantara kegelapan pikiran, bebaskan diri dari derita olehnya dan berbahagialah.

1:10
Halnya dunia ini, ibarat ular yang nampak dari seutas tali, demikianlah Engkau adalah ananda, Kebahagiaan Tertinggi, dari mana dunia ini termanifestasikan, berbahagialah.

1:11
Yang yakin dirinya bebas, bebaslah dia; dan yang merasa diri terikat berada dalam keterikatan; disini benarlah perkataan bahwa orang akan menjadi seperti apa yang dipikirkannya.

1:12
Atma adalah entitas yang melihat yang melingkupi semuanya, sempurna, bebas dari unsur kegiatan, tanpa ikatan, tanpa keinginan dan damai, hanya karena pengaruh ilusi menyebabkan di nampak seperti dalam keterikatan.

1:13
Dengan memusatkan pikiran tanpa tergoyahkan pada atma yang bebas dari dualisme, jauhkan diri dari keakuan yang semu, Engkau mencapai kebebasan dari pengaruh ilusi eksternal dan internal.

1:14
Anakku, Engkau telah lama tercengkram dalam asosiasi dengan tubuh ini,  bebaskan dirimu dengan pedang pengetahuan ‘aku adalah kesadaran’ dan berbahagialah.

1:15
Engkau tidak terikat, tidak berbuat, Engkau adalah yang bercahaya, murni tanpa noda, inilah yang yang menyebabkan Engkau terikat yaitu ‘Engkau’ melakukan ‘Latihan meditasi’.

1:16
Sesungguhnya Engkaulah yang meresapi alam semesta ini dan alam semesta ini terpancar dalam dirimu, Engkau adalah Kesadaran Murni, itu yang merupakan sifat aslimu, jangan berpikir kerdil.

1:17
Engkau tanpa hubungan sebab akibat, tanpa bentuk, tanpa faktor pendukung, tidak bergerak, selalu menyenangkan, tak terjangkau oleh pikiran dan tak tergoyahkan, capailah kesadaran itu selalu.

1:18
Ketahuilah segala yang berbentuk adalah tak nyata, yang tak berbentuk itulah yang kekal, dengan memegang disiplin ini saja orang menjadi bebas dari lingkaran kelahiran.

1:19
Seperti halnya cermin berada diantara obyek dan bayangannya, demikian pula atman, berada di dalam dan diluar badan.

1:20
Seperti halnya ether meresapi ruang di dalam dan diluar kendi sebagai satu kesatuan, demikian pula Brahman sebagai yang meresapi semua yang ada.

2:1
Janaka berkata:
Oh, Aku sebenarnya tak ternoda, damai, sebagai kesadaran, tak terpengaruh oleh sifat alam, selama ini aku hanya tertipu oleh ilusi.

2:2
Seperti halnya Aku yang esa menampakkan badan ini, demikian juga seluruh alam ini dalam diriKu, atau tidak akan ada sesuatu diluar itu.

2:3
Oh, dengan meninggalkan ikatan badan dan dunia ini sekarang juga, melalui usaha yang cermat Aku dapat menyaksikan dengan jelas keberadaan Paramatma.

2:4
Seperti halnya antara riak, buih dan gelembung dalam air tiada perbedaannya, demikian pula jagad ini berasal dari atma, tidak ada perbedaan dalam atma.

2:5
Seperti halnya kain kalau dianalisa hanya terdiri dari benang saja, demikian juga jagad ini kalau dianalisa hanya terdiri dari atma.

2:6
Seperti halnya sari tebu dari apa gula itu terbuat, diresapi olehnya, demikian pula jagd ini terbentuk dalam diri aku, diresapi tanpa batas olehKu.

2:7
Tanpa memiliki pengetahuan atma, dunia ini kelihatan ada demikian, dengan pengetahuan atma dunia ini tiada nampak, seperti halnya tidak mengetahui tali menyebabkan melihat ular, dengan pengetahuan tentang tali tersebut, ilusi ular pun sirna.

2:8
Sifat asliKu adalah Hang Bercahaya, aku tidak lain dari pada cahaya, ketika dunia ini tercipta, sebenarnya Akulah yang bercahaya.

2:9
Oh, imajinasi jagad raya ini nampak dalam diriKu, karena ketidaktahuan akan atma, seperti melihat perak dalam kerang, ular dalam seutas tali atau air dalam silau matahari.

2:10
Jagad raya yang tercipta dariKu, pasti akan larut kembali dalam diriKu seperti halnya, kendi ke dalam tanah, riak ke dalam air, gelang ke dalam emas.

2:11
Oh, Sembah Sujud pada Aku, keagungan diriKu, yang tak mengenal kebinasaan, walaupun kehancuran terjadi pada jagad raya ini dari Brahma sampai sehelai rumput Aku tetap ada.

2:12
Oh, Sembah Sujud pada Aku, keagungan diriKu, walaupun dengan tubuh ini Aku adalah Esa, yang tidak pergi kemana-mana, pun tanpa asal mula, namun meresapi seluruh yang ada di jagad raya ini.

2:13
Oh, Sembah Sujud pada Aku, keagungan pada diriKu, tiada yang menyamai, senantiasa menopang alam semesta ini tanpa tersentuh dengan badan ini.

2:14
Oh, Sembah Sujud pada Aku, keagungan dalam diriKu, yang tidak memiliki apapun, namun semuanya yang dapat diungkapkan dalam jangkauan pikiran dan indra ada dalam diriKu.

2:15
Pengetahuan, yang mengetahui dan objek pengetahuan ketiga hal ini tidak ada dalam kenyataan yang sesungguhnya, Aku adalah dia yang tak ternoda dimana dari ketidaktahuan ketiga ini nampak ada.

2:16
Oh, penyebab semua penderitaan ini adalah dualisme, tiada kesembuhan dari penderitaan selain dengan menyadari bahwa semua objek yang dilihat sebagai tak kekal dan melihat Aku adalah kesadaran penuh rasa bahagia yang murni tanpa noda.

2:17
Aku adalah Kesadaran Murni, namun akibat ketidaktahuan aku membayangkan sebaliknya, dengan selalu mengingat kebenaran ini, aku mencapai Kesadaran Absolut.

2:18
Aku tidak memiliki ikatan ataupun kebebasan, sehingga tanpa faktor pendukung kekeliruan itupun berakhir, jagad yang berada dalam diriKu pun pada kenyataannya tiada.

2:19
Tubuh dan jagad ini kenyataannya tidak pernah ada, hanya Kesadaran Atma yang murni itu saja yang ada, sehingga dengan apa kita membuat imajinasi sekarang?

2:20
Badan ini, surga dan neraka, keterikatan dan kebebasan demikian juga ketakutan, semua ini hanyalah produk pikiran, apa yang kulakukan dengan semua ini? Aku sebagai Kesadaran Atma?

2:21
Sekalipun diantara banyak orang aku tiada melihat dualisme, sehingga menjadi seperti orang yang terasing dari semuanya, pada apa aku mesti mengikatkan diri?

2:22
Aku bukan tubuh ini dan aku tidak memiliki tubuh, pun aku bukan jiwa, yang membuatku berada dalam keterikatan adalah keinginan akan kehidupan.

2:23
Oh, gelombang kehidupan sebenarnya lahir dan menyebar dari arus pikiran dalam kesadaran tanpa batas dalam diriKu.

2:24
Dengan melarutkan arus pikiran di dalam diriKu, fondasi alam semesta bagi unit jiwa yang malang ini mengalami kenihilan.

2:25
Sungguh menakjubkan, di dalam kesadaran tanpa batas dalam diriKu, semua makhluk muncul, bermain dan larut kembali sesuai sifat alamiahnya.



(Sumber : Buku Astavakra Samhita, alih bahasa oleh Acarya Gopalkrsnananda Avadhuta, Penerbit Paramita Surabaya 2006.
Gambar : https://id.pinterest.com/pin/490470215663609953/ )

Jumat, 17 April 2020

Aṣhtāvakra Gita : Pendahuluan


#spiritualitys a revered Vedic sage in Hinduism. His name literally means "eight bends", reflecting the eight physical handicaps he was born with. His maternal grandfather was the Vedic sage Aruni, his parents were both Vedic students at Aruni's school. Ashtavakra studied, became a sage and a celebrated character in the mythologies of the Hindu Epics and Puranas. #themodernvedic #gita #ashtavakra #ashtavakra_gita #ashtavakra_samhita #non_dualistic_rationality #advaita #absolute #mukti


Aṣhtāvakra Gita 
Ekspresi Kebenaran Paling Murni

Kita akan memulai perjalanan yang langka. Manusia memiliki banyak tulisan suci, tetapi tidak ada yang sebanding dengan Ashtavakra Gita. Aṣhtāvakra Gita adalah ekspresi yang murni - melampaui emosi, melampaui waktu dan kematian - itu hanya tak tertandingi. Ashtavakra adalah manusia kebenaran, yang telah merealisasi Kebenaran Atma secara nyata. Dia berbicara kebenaran seperti apa adanya, tanpa ada kompromi. Dia tidak peduli dengan pendengarnya, dia tidak peduli apakah pendengarnya mau mengerti atau tidak. Ungkapan kebenaran yang murni seperti itu belum pernah terjadi di mana pun sebelumnya, juga tidak akan pernah terjadi lagi kemudian.

Pesan Ashtavakra sejernih kristal. Anda tidak akan dapat menambahkan sedikit pun interpretasi milik Anda sendiri untuk itu. Tidak ada ruang untuk menulis komentar; tidak ada cara untuk mengubah atau memelintirnya. Pikiran Anda tidak memiliki kesempatan untuk menambahkan apa saja. Ashtavakra telah memberikan ekspresi sedemikian rupa sehingga tidak ada yang bisa menambahkan atau mengambil apa pun darinya, meskipun berabad-abad telah berlalu. Tidak mudah untuk memberikan ekspresi yang sempurna. Keterampilan kata-kata seperti itu sangat sulit didapat.Inilah sebabnya saya katakan kita memulai perjalanan yang langka.

Hanya ketika Anda menjatuhkan semua identitas, menjadi tidak dikenal dalam semua bentuknya dan terhubung dengan yang tanpa bentuk, Anda dapat memahami Ashtavakra. Jika Anda benar-benar ingin memahami Ashtavakra, Anda harus turun ke kedalaman meditasi. Tidak ada komentar, tidak ada interpretasi yang dapat membantu. Dan untuk meditasi, bagaimana mungkin ada meditasi ketika ada pelaku? Selama ada yang melakukan, ada ilusi. Selama pelakunya hadir, ego hadir. Ashtavakra mengatakan menjadi saksi adalah meditasi. Kemudian pelaku menghilang; Anda tetap hanya sebagai pengamat, tidak ada apa-apa tapi si pengamat. Ketika Anda hanyalah pengamat maka hanya ada darshan, melihat; kemudian hanya ada meditasi, maka hanya ada kebijaksanaan.

Sebelum kita memasuki sutra, kita perlu memahami beberapa hal tentang Ashtavakra. Tidak banyak dikenal karena dia bukan manusia sosial atau politik, jadi tidak ada catatan sejarah. Hanya sedikit insiden diketahui - dan itu benar-benar menakjubkan, sulit dipercaya. Tetapi jika Anda memahaminya secara mendalam signifikansinya akan terungkap. Insiden pertama terjadi sebelum Ashtavakra lahir.

Tidak ada yang diketahui tentang apa yang terjadi sesudahnya tapi ini adalah kejadian saat dia masih di dalam kandungan. Ayahnya, seorang sarjana yang hebat, akan membaca Veda yang dilakukannya setiap hari sementara Ashtavakra mendengarkan dari rahim. Suatu hari terdengar suara dari dalam rahim berkata, "Hentikan! Ini semua omong kosong. Tidak ada kebijaksanaan apa pun dalam hal ini. Hanya kata-kata - hanya kumpulan kata-kata. Apakah kebijaksanaan ditemukan dalam tulisan suci? Kebijaksanaan ada di dalam diri sendiri. Apakah kebenaran ditemukan dalam kata kata? Kebenaran ada di dalam diri seseorang”.

Tentu saja ayahnya sangat marah. Pertama-tama dia adalah seorang ayah dan di atas itu seorang sarjana. Dan anaknya yang tersembunyi di dalam rahim itu mengatakan hal-hal seperti itu! Bahkan belum dilahirkan! Dia meledak dalam kemarahan, menjadi dilalap api; Ego sang ayah telah terpukul. Dan ego seorang cendekiawan ... dia seorang cendekiawan hebat, pendebat hebat, berpengetahuan luas dalam tulisan suci ....Dalam amarah dia mengucapkan kutukan: Ketika lahir, anak itu akan berubah bentuk; anggota tubuhnya akan ditekuk delapan bagian. Karena itu namanya: Ashtavakra berarti seseorang yang tubuhnya memiliki delapan tikungan, lekukan. Dia lahir lumpuh di delapan tempat; delapan tempat bungkuk seperti unta. Dalam amarahnya, ayahnya mengubah bentuknya tubuh putranya.

Insiden kedua yang diketahui tentang Ashtavakra terjadi ketika dia berusia dua belas tahun. Hanya ini dua insiden diketahui. Yang ketiga adalah Ashtavakra Gita-nya, atau seperti beberapa orang menyebutnya, Ashtavakra Samhita. Ketika Ashtavakra berusia dua belas tahun, Janaka menjadi tuan rumah konferensi debat besar. Janaka adalah seorang Kaisar, dan dia mengundang para pakar dari seluruh negeri untuk berdebat tentang tulisan suci.

Dia punya seribu sapi ditempatkan di gerbang istana dan tanduk sapi dilapisi dengan emas dan dihiasi dengan perhiasan. Dia menyatakan, "Siapa pun yang menang, akan memiliki sapi-sapi ini. "Itu adalah debat yang hebat. Ayah Ashtavakra juga berpartisipasi. Saat senja turun, pesan itu datang untuk Ashtavakra bahwa ayahnya kehilangan. Dia sudah mengalahkan semua yang lain, tapi dia sudah siap dikalahkan oleh seorang cendekiawan bernama Vandin.

Menerima pesan ini, Ashtavakra pergi ke istana. Aula itu didekorasi. Perdebatan sudah dalam tahap akhir dan saat yang menentukan cepat mendekati. Kekalahan ayahnya adalah kesimpulan yang sepenuhnya hilang - dia berada di ujung tanduk kekalahan. Para pakar melihat Ashtavakra saat ia memasuki istana. Mereka semua adalah sarjana terpelajar. Tubuhnya bengkok dan cacat di delapan tempat: dia baru saja bergerak dan siapa pun akan mulai tertawa. Pergerakannya itu sendiri adalah masalah yang membuat orang tertawa. Seluruh pertemuan tertawa. Ashtavakra juga tertawa terbahak-bahak. Janaka bertanya, “Semua orang tertawa. Saya bisa mengerti mengapa mereka tertawa, tetapi mengapa Anda tertawa, anakku? ”.

Ashtavakra berkata, "Saya tertawa karena kebenaran sedang diputuskan dalam konferensi tukang daging ini" – manusia ini pasti luar biasa. "Apa yang dilakukan semua orang pengupas kulit di sini?" Keheningan mendalam menyelimuti pertemuan itu. Tukang daging? Pengupas kulit? Raja bertanya, "Apa maksudmu?" Ashtavakra berkata, “Sederhana dan mudah: Mereka hanya melihat kulit, mereka tidak melihat saya. Itu sulit untuk menemukan pria yang lebih murni dan sederhana daripada saya, tetapi mereka tidak melihat ini; mereka melihat bengkokkan dan cacat tubuh. Mereka adalah skinner, mereka menilai dari kulit. Yang Mulia, di lengkungan sebuah kuil apaka langit lengkung? Ketika sebuah pot hancur, apakah langit hancur? Langit tidak beubah. Tubuh saya memutar, tetapi saya tidak. Lihatlah yang ada di dalam. Anda tidak dapat menemukan sesuatu yang lebih lurus dan murni”.

Itu adalah pernyataan yang sangat mengejutkan. Pasti ada keheningan terjadi. Janaka terkesan, tercengang: "Benar sekali, mengapa dia mengumpulkan kerumunan orang pengupas kulit di sana?" Ia menjadi bertobat, dia merasa bersalah karena dia juga tertawa. Hari itu raja tidak bisa mengatakan apa-apa, tetapi keesokan harinya ketika dia melakukan perjalanan pagi dia melihat Ashtavakra di jalan. Janaka turun dari kudanya dan sujud di kakinya. Sehari sebelumnya, di depan semua orang, dia tidak bisa menemukan keberanian. Sehari sebelumnya dia berkata, “Kenapa, apakah  yang kamu tertawakan, anakku?”. Ashtavakra adalah anak laki-laki berumur dua belas tahun, dan Janak telah mempertimbangkan usianya. Hari ini dia tidak memperhatikan umur. Hari ini dia turun dari kudanya dan sujud di kaki Ashtavakra.

Dia berkata, "Silakan kunjungi istana, dan puaskan hasrat saya akan kebenaran. Ya Tuhan, kasihanilah datang ke rumah saya. Saya sudah mengerti! Saya tidak bisa tidur sepanjang malam. Anda benar-benar berbicara: apakah kedalaman pemahaman mereka yang hanya mengenali tubuh? Mereka memperdebatkan keberadaan, tetapi tarik-menarik dan tolakan bagi tubuh masih muncul; kebencian dan ketertarikan masih muncul. Mereka melihat Kematian sambil berbicara tentang orang yang tidak bisa mati! Saya bersyukur bahwa Anda datang dan mengganggu saya, bahwa Anda membengunkan tidurku. Silakan datang ke istana!"

Janaka mendekorasi istana dengan indah. Dia menyambut Ashtavakra dan mendudukkannya di sebuah tahta emas - Ashtavakra berusia dua belas tahun saat ini. Kemudian dia mengajukan pertanyaan kepadanya. Sutra pertama adalah pertanyaan Janak. Janaka bertanya dan Ashtavakra menjelaskan. Di luar ini, tidak ada yang diketahui tentang Ashtavakra. Dan tidak perlu tahu lebih banyak, itu sudah lebih dari cukup! Intan tidak banyak; hanya kerikil dan batu yang sangat umum. Satu berlian saja sudah cukup.

Satu lagi insiden kecil - ini bukan tentang Ashtavakra tetapi tentang Ramakrishna dan Vivekananda, tetapi Ashtavakra terlibat di dalamnya. Ketika Vivekananda datang ke Ramakrishna namanya masih Narendranath - kemudian oleh Ramakrishna menamainya Vivekananda. Ketika dia datang ke Ramakrishna dia sangat argumentatif, seorang ateis, seorang rasionalis. Dia ingin bukti untuk semuanya.

Vivekananda memberi tahu Ramakrishna, "Saya ingin bukti. Jika Tuhan ada maka buktikan!". Ramakrishna memandang Vivekananda. Pemuda ini memiliki potensi besar, sangat menjanjikan; banyak hal siap untuk terjadi dalam dirinya. Ada harta yang luar biasa yang tidak diketahui Vivekananda. Ramakrishna melihat ke dalam, mengintip ke dalam, kehidupan masa lalu pemuda ini. Vivekananda datang membawa harta yang besar, harta integritas yang besar, tetapi itu ditekan di bawah logikanya. Melihat ini, kesedihan dan belas kasihan bangkit dalam hati Ramakrishna. Dia berkata, "Lupakan semua ini. Kami akan berbicara tentang bukti dan hal-hal semacam itu nanti. Saya sudah tua, saya sulit membaca; Anda masih muda, mata Anda masih kuat - baca buku yang ada di sana". Itu adalah Ashtavakra Gita.

"Baca sedikit keras untuk saya." Dikatakan bahwa Vivekananda tidak melihat kesalahan dalam hal ini, orang ini tidak meminta sesuatu yang istimewa. Dia membaca tiga atau empat sutra dan setiap sel mulai gemetar. Dia mulai panik dan dia berkata, “Saya tidak bisa membaca." Ramakrishna bersikeras, "Silakan dan baca. Apa ruginya? Bagaimana buku ini bisa menyakitkanmu? Anda masih muda, mata Anda masih segar, dan saya sudah tua, sulit bagi saya untuk membaca. Saya harus mendengar buku ini - bacakan untuk saya." Dikatakan bahwa Vivekananda terus membaca dengan keras buku itu - dan menghilang dalam meditasi. Ramakrishna telah melihat potensi besar di masa muda ini, potensi yang sangat menjanjikan, seperti yang dimiliki oleh seorang bodhisattva yang suatu hari ditakdirkan untuk menjadi seorang buddha. Cepat atau lambat, tidak masalah seberapa banyak dia mengembara, dia mendekati kebuddhaan.

Mengapa Ramakrishna meminta agar dia membaca Ashtavakra Gita dengan lantang kepadanya? Karena tidak ada pernyataan kebenaran yang lebih murni. Jika kata-kata ini menembus Anda, mereka akan mulai membangkitkan jiwa Anda yang tertidur. Kata-kata ini akan menggetarkan Anda. Kata-kata ini akan mengisi Anda dengan ekstasi. Kata-kata ini akan mengejutkan Anda. Dengan kata-kata ini revolusi dapat terjadi. Saya belum memilih Ashtavakra Gita begitu saja. Saya juga tidak bisa memilihnya sebelumnya - saya memilihnya setelah menunggu lama, setelah banyak pertimbangan. Ada saat ketika saya berbicara tentang KrishnaGita karena ada kerumunan di sekelilingku. Bagi orang banyak, Ashtavakra Gita tidak memiliki arti. Dengan upaya besar saya telah menyingkirkan kerumunan. Sekarang ada beberapa Vivekananda di sini. Sekarang saya ingin berbicara dengan mereka yang memiliki potensi besar.Saya akan bekerja dengan beberapa orang yang bekerja dapat memberikan hasil. Sekarang saya akan memotong berlian. Pahat ini tidak untuk dihancurkan di atas kerikil dan batu. Inilah mengapa saya memilih Ashtavakra Gita: Saya telah memilih itu karena kamu siap.


(Sumber Gambar : https://id.pinterest.com/pin/490470215663609953/)