Sabtu, 18 Januari 2020

Pesan Para Siddha

Hasil gambar untuk para siddha

"Manusia" adalah sinar setetes di lautan Cahaya "Keilahian".

Tubuh manusia adalah Tempat Bersemayamnya Tuhan, The temple of God.

Manusia adalah Miniatur yang mewakili Paramatma.

Adalah mungkin menurut Para Siddha, bagi manusia untuk mendapatkan lebih dari 5 batasan :

  1. Narai - Rambut abu-abu
  2. Tirai - Penglihatan buram
  3. Muppu - Umur tua
  4. Noy - Penyakit
  5. Maranam - Kematian
Adalah mungkin untuk mempertahankan 'Kemudaan Abadi"

Dengan Penyempurnaan Diri melalui latihan-latihan, 8 Kekuatan (Siddhis) mungkin terwujud,

  1. Anima, Kekuatan menjadi sekecil atom, seperti yang diniati.
  2. Mahima, (Perluasan) Kekuatan untuk menjadikan tubuh menjadi besar tanpa batas.
  3. Karima, Kekuatan menjadi berat seperti yang diniati.
  4. Lahima, (Meringankan) Kekuatan menjadi seringan bulu.
  5. Prapti, Kemampuan untuk mengetahui segalanya, masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Menggapai kemanapun, bahkan keplanet-planet lain dan bintang-bintang.
  6. Prahamiyam, Kekuatan mencapai semua hasrat seseorang. Ketajaman mutlak dari pikiran dan rasa.
  7. Esathuvam, Kekuatan tertinggi meliputi kedua obyek "Hidup dan Mati" di seluruh jagat raya.
  8. Vasithuvam, Kekuatan memerintah atas semuanya dengan pikiran dan kata.

Pesan Kadang Sampoerna Raja,


Kadang Sampoerna Raja:
"Jagalah, Rawatlah Paten dan Kembangkan,
ini barulah awal untuk mengarungi alam yang tanpa batas.
Biarlah Kawruh Paten menyentuh setiap pribadi ke dalam Kemanunggalan."

Atmajaya:
"Dimanapun engkau berada, aku mau selalu bersama mu"

Kadang Sampoerna Raja:
"Keberadaan...benih saat siap akan menjadi keberadaan-Ku",

Hasil gambar untuk segitiga sama sisi dalam lingkaran

"Lingkaran melambangkan keabadian dan ketiga titik pertemuan segitiga dan lingkaran adalah tiga kunci pokok."

Senantiasa Belajar

Menggugah untuk senantiasa belajar dan mencari.

Bergerak dari isi menuju wilayah proses, seperti manajemen perubahan, pencarian peluang, dan fleksibelitas.

Belajar dimanapun selalu ada gunanya, sejauh tetap sadar bahwa sekolah hanyalah 'a window of reflection", melalui jendela pengetahuan melihat diri sendiri.

Fokus terletak pada membangkitkan motivasi agar orang mau belajar.

JIwa Mistik, JIwa Merdeka

Hasil gambar untuk rabindranath tagore
Rabindranath Tagore


"This is the ultimate end of man,
to find the One which is in him;
which is his truth, which in his soul;
the key with which he opens
the gate of the spiritual life,
the heavenly kingdom."

Menemukan Dia Hyang Tunggal
di dalam dirinya, itulah tujuan akhir
kehidupan manusia;
Hyang Tunggal itulah kebenaran dirinya,
Hyang Tunggal itulah jiwanya;
penemuan itulah yang mengantarnya pada
kehidupan spiritual dan membukakan
pintu gerbang surga bagi dirinya..."

Rabindranath Tagore (1861-1941)
Mistik, Penyair, dan Pendidik


Jiwa merdeka adalah Jiwa yang bebas dari kesadaran jasmani yang serba terbatas. Kesadaran jasmani hanyalah salah satu lapisan dari lapisan-lapisan kesadaran diri manusia.

Dengan memperhatikan lapisan kesadaran jasmani saja, kita tidak bisa hidup sepenuhnya. Perkembangan diri kita pun sudah pasti tidak utuh. Kemudian, dengan hidup setengah-setengah dan perkembangan jiwa yang pincang, kita berkeluh kesah dan menyerapahi kehidupan.

Rabindranath Tagore mengatakan bahwa "tujuan akhir kehidupan manusia adalah...
"Menemukan Dia Hyang Tunggal."
Dan, tidak menemukan-Nya di suatu tempat yang jauh dari keramaian; di atas bukit, di tengah hutan, di padang pasir, atau di tepi sungai yang disucikan. Tidak pula di tempat ibadah, atau di tempat-tempat yang dikeramatkan.

Bagi Rabindranath Tagore, Ia Hyang Maha Tunggal Ada-nya mesti ditemukan "di dalam diri"-di dalam diri Anda, di dalam diri saya, di dalam diri kita masing-masing. Ketika seorang "pencari" menyadari hal ini, bahwa ia mesti menemukan Hyang Tunggal di dalam dirinya, maka ia layak disebut mistik.

Seorang Mistik Berhenti Mencari Di Luar. Mencari "di luar" berarti mencari sesuatu yang "tidak ada di dalam diri". Dengan demikian,Anda menciptakan ketergantungan baru pada "sesuatu di luar diri". Anda menciptakan belenggu baru dan membelenggu diri sendiri.

Dengan cara itu, Anda tidak pernah bebas. Jiwa tidak pernah merdeka. Seorang mistik menyadari hal itu, maka ia berhenti mencari di luar diri. Ia mulai meniti jalan ke dalam diri.

Dalam pencarian itu, terlebih dahulu ia menemukan sampah-sampah yang ada di dalam dirinya. Terlebih dahulu ia menemukan segudang ketidakbenaran yang selama ini dipercayainya sebagai kebenaran. Seperti...

Mengupas Kulit Buah Durian. Kulit berduri buah durian mesti dibuang, Anda tidak bisa memakannya. Anda tidak bisa bersikap, "sayang, masak dibuang?" Kulit durian tidak berguna.
Namun, dalam proses pengupasan itu, Anda mesti berhati-hati. Jika tidak, Anda bisa melukai tangan Anda sendiri. Bahkan, sudah berhati-hati pun, ada kalanya jari Anda tetap tergores. Tetapi risiko itu mesti ditanggung. Tidak ada jalan lain untuk menikmati daging durian. Anda mesti mengupasnya. 

Barangkali Anda bertanya: "Apa tidak mungkin minta bantuan orang lain untuk mengupasnya?"
Untuk buah durian bisa. Bahkan, Anda bisa membeli buah yang sudah dikupas.
Untuk perjalannan ke dalam diri, tidak bisa. Mau tidak mau Anda mesti mengeruk dan membersihkan sendiri lapisan tebal daki pikiran, perasaan, obsesi, pendapat dan pandangan keliru yang telah menempel lama pada diri Anda.
untuk itu dibutuhkan Latihan-latihan Pembersihan dan Pemberdayaan Diri.


(Diambil dari Buku Kearifan Mistisisme - Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, karya Anand Krishna, hal 176-178)

Kamis, 16 Januari 2020

Mengenal Mistisisme

Apa itu mistisisme?
Apakah klenik atau ilmu-ilmu kebatinan yang sering dikaitakan dengan segala sesuatu yang bersifat gaib saja?

Kamus Oxford menjelaskan arti kata mystic sebagai berikut:

"a person who seeks by contemplation and self-surrender 
to obtain unity with or absorption into the Deity or the absolute,
or who believes in the spiritual apprehension
of truths that are beyond the intellect."

jika diterjemahkan secara bebas, "seorang mistik adalah ia yang sedang berupaya untuk menyatu dengan Hyang Mutlak." silakanmengartikan "The Absolute" sebagai Hyang Mutlak, Tuhan, atau apa saja sesuai dengan keinginan anda.

Nah, upaya yang dilakukan oleh seorang mistik adalah:
"Contemplation and Self-Surrender"

"Contemplation" atau kontemplasi, perenungan-diri, meditasi.
"Self-Surrender" atau penyerahan-diri berarti menyerahkan ego Anda, identitas palsu Anda. Itu juga berarti menafikan keterikatan Anda pada dunia benda dan menegasikan kepentingan diri. Dan, semua itu Anda lakukan atas kemauan sendiri. tidak ada paksaan dari siapa pun. Tidak ada yang mencuci otak Anda.

Siapkah Anda? Jika ya, maka Anda seorang mistik. Ya, jika jawab Anda "Ya", maka Anda sudah bisa disebut seorang mistik.

Seorang mistik bukan seorang yang sudah menyatu dengan Sang Hyang Mutlak Gusti Pangeran Tuhan Yang Maha Esa. Dia adalah seorang yang sedang berupaya untuk mencapai keadaan itu. Dia adalah seorang sadhaka atau penggiat spiritual.

Selanjutnya....

"Believer in the Spiritual Apprehension of Truth that are beyond the Intellect."

Kata "apprehension" sering diterjemahkan sebagai "ketakutan" atau "keprihatinan", namun dalam hal ini bukanlah demikian maksudnya. Dalam bahasa Inggris, "apprehension" dapat diartikan sebagai "kemampuan untuk memahami sesuatu secara mendalam" ("the act or power  perceiving or comprehending" - Merriam Webster).

Seorang mistik memiliki kemampuan untuk "memahami kebenaran spirital yang tidak terjankau oleh intelek"-atau setidaknya di sedang berupaya untuk meraih kemampuan tersebut.
Sekali lagi, apakah Anda memenuhi syarat sebagai mistik? Apakah Anda berjiwa mistik? Apakah Anda berkehendak kuat untuk melakukan melakoni hidup sebagai seorang mistik?

Asal -Usul Kata "Mistik" - dari "mystique" dalam bahas Prancis Kuno yang diambil dari "mustikos" dalam bahasa Yunani Kuno.

Mustikos terkait dengan mustes, seorang yang telah menjalani inisiasi.  "Inisiasi" yang dimaksud bukanlah upacara atau ritus sumpah setia belaka, namun keteguhan hati dan kebulatan tekad untuk melakoni muein - memejamkan mata dan menutup mulut.
Apakah seorang mistik mesti hidup dengan mata tertutup dan membisu seumur hidup? Tidak, tidak demikian maksudnya.

"Muein" dalam bahasa Yunani kuno berasal dari "Moun" dalam Bahasa Sansekerta.  Persis seperti muein, moun juga sering diartikan sebagai "berdiam diri" atau menyepi. Tetapi yang dimaksud dalam dalam hal ini bukan menyepi secara fisik saja, melainkan menyepi secara menyeluruh.

Menyepi adalah keadaan JIwa, ketika seorang tidak tergantung pada sesuatu apa pun. Ia bersandar pada dirinya. Moun adalah keadaan diri yang berdaya. Diri yang kuat, JIwa sakti yang tidak mengenal kelemahan.

Tanpa memahami arti kata "mistik", banyak orang "modern", atau setidaknya yang "merasa" modern mengartikan Mistisisme sebagai Takhayul. 

Bersalamanlah dengan para mistik sejati seperti William Butler Yeats (1865-1939), penulis, penyair, dan pemikir asal Irlandia:


"Mystism has been in the past and probably
ever will be one of the great power of the world
and it is bad scolarship to pretend the contrary.
You may argue against it but you should no more
treat it with disrespect than a perfectly cultivated writ."

Bagi Yeats, "mistisisme adalah salah satu kekuatan dunia", salah satu sumber energi penggerak, salah satu sumber kehidupan. Sebagaimana raga kita membutuhkan makanan dan minuman, lapisan-lapisan lain kepribadian kita - seperti gugusan pikiran dan perasaan atau mind - membutuhkan mistisisme, membutuhkan keyakinan pada sesuatu kekuatan yang jauh lebih tinggi dari padanya.
Yeats melanjutkan."demikian adanya sejak masa lalu, dan demikian pula di masa depan. Seorang yang menolak mistisisme...

"Hanyalah Membuktikan Ketidakcerdasannya." Demikian menurut Yeats. Bahkan ia mengingatkan kita : "Persis seperti pendapat-pendapat lain, Anda boleh berargumentasi (tentang mistisisme), tetapi tidak bisa meremehkan perannya". Argumentasi mereka yang menganggap mistisisme  sebagai takhayul adalah "Tidak logis, tidak masuk akal."

Penyair dan filsuf asal Inggris William Blake (1757-1827), berkata:

"If the doors of perception were cleansed,
everything would appear to man as it is, infinite.
For man has closed himself up, till he sees all things
through the narrow chinks of his cavern."

"Dengan kejelasan persepsi, segala sesuatu akan terlihat sebagaimana adanya - tak terbatas." Keterbatasan persepsi kitalah yang membatasi penglihatan dan pandangan kita.
"Manusia telah menutup dirinya sedemikian rupa sehingga ia hanya melihat lewat celah-celah sempit" yang kemudian membatasi pandangannya tentang hidup, kehidupan, dan bahkan tentang dirinya.




(Dikutip dari buku Kearifan Mistisisme - Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, karya Anand Krishna, hal 6-11. Diterbitkan oleh  PT Gramedia Pustaka Utama)