Senin, 04 Februari 2019

"Aku punya mainan baru" atau "Aku jadi mainan baru"?

Laksmi Paramita 2,8 tahun

Dalam bahasa sederhana, bahasa Penjual Mainan Anak-anank, kehidupan ini ibarat "Aku punya mainan baru" atau "Aku jadi mainan baru"?

Aku punya mainan baru berarti kita adalah subjek yang memiliki "mainan" untuk dimainkan, kita yang mengatur, yang mengendalikan, kita mau main apa terserah kita, kita memiliki kemauan bebas, maka hidup dipenuhi dengan permainan. Hidup adalah permainan. Hidup ini penuh dengan keceriaan, keriangan dan kegembiraan.

Aku jadi mainan baru berarti kita adalah objek, kita menjadi "mainan" yang akan di permainkan, kita dikendalikan, diatur, tidak ada kebebasan, maka kehidup kita akan terombang-ambing, naik-turun, pasang-surut, dan seterusnya.
Dan yang mempermainkan kita bisa saja pikiran kita, perasaan kita, pribadi lain, keadaan atau siatuasi, gadget, uang, dan lain-lain.

Sekarang kita ada dimana, menjadi pemilik mainan atau menjadi mainan? 


Selasa, 22 Januari 2019

Nirvāṇa Ṣaṭakam


Adi Śaṅkara


Nirvāṇa Ṣaṭakam, juga dikenal sebagai Ātma Ṣaṭakam, terdiri dari enam kumpulan sloka (oleh karena itu diberi nama Ṣaṭ-ka berarti enam sloka ) ditulis oleh filsuf Hindu Adi Śaṅkara yang merangkum ajaran-ajaran dasar Advaita Vedanta, atau ajaran-ajaran Hindu tentang non-dualisme. Itu ditulis sekitar tahun 788-820.

Konon ketika Adi Śaṅkara masih bocah berusia sekitar delapan tahun dan berkeliaran di dekat Sungai Narmada di pegunungan Himalaya, berusaha menemukan gurunya, ia bertemu dengan Swami Govinda Bhagavatpada yang bertanya kepadanya, "Siapa kamu?". Bocah itu menjawab dengan sloka-sloka ini, yang dikenal sebagai "Nirvāṇa Ṣaṭakam" atau “Ātma Ṣaṭakam ". Swami Govindapada menerima Ādi Śaṅkara sebagai muridnya.

sloka-sloka  tersebut dapat membantu dalam kontemplasi atau praktik perenungan mendalam yang mengarah pada Self-Realization, Kesadaran Diri. Dalam lima ayat tersebut Shankara berusaha menjelaskan keberadaan Nirvāṇa, keadaan Ātma yang sejati.

"Nirvāṇa" secara sederhana dapat berarti keseimbangan batin, kedamaian, ketenangan, kebebasan dan kegembiraan. "Ātma" adalah Diri Sejati.

Nirvana Shatakam – (Song of the Soul) – Meditation music – Deva Premal Lyrics and translation - YouTube



Nirvāṇa Ṣaṭakam


manobuddhyahaṅkāra cittāni nāhaṃ
na ca śrotrajihve na ca ghrāṇanetre
na ca vyoma bhūmir na tejo na vāyuḥ
cidānandarūpaḥ śivo'ham śivo'ham

(I am not mind, nor intellect, nor ego, nor the reflections of inner self (citta). I am not the five senses. I am beyond that. I am not the seven elements or the five sheaths. I am indeed, That eternal knowing and bliss, the auspicious (Śivam), love and pure consciousness.)

(Bukan pikiran, bukan pula intelek, bukan ego, bukan pula yang menyebabkan ego, bukan panca indera, bukan langit, dan bukan bumi, bukan cahaya dan bukan angin. Aku adalah kesadaran murni, kebahagiaan yang kekal abadi, itulah Aku!)


na ca prāṇasaṅjño na vai pañcavāyuḥ
na vā saptadhātur na vā pañcakośaḥ
na vākpāṇipāndam na copasthapāyu
cidānandarūpaḥ śivo'ham śivo'ham

(Neither can I be termed as energy (prāṇa), nor five types of breath (vāyus), nor the seven material essences, nor the five sheaths(pañca-kośa). Neither am I the organ of Speech, nor the organs for Holding ( Hand ), Movement ( Feet ) or Excretion. I am indeed, That eternal knowing and bliss, the auspicious (Śivam), love and pure consciousness.)

(Apa yang disebut prana-energi bukanlah aku, bukan elemen-elemen alam, buka pula lapisan-lapisan kesadaran dalam diri manusia, bukan badan kasat ini. Aku adalah kesadaran murni, kebahagiaan yang kekal abadi, itulah Aku!)


na me dveşarāgau na me lobhamohau
mado naiva me naiva mātsaryabhāvaḥ
na dharmo na cārtho na kāmo na mokşaḥ
cidānandarūpaḥ śivo'ham śivo'ham

(I have no hatred or dislike, nor affiliation or liking, nor greed, nor delusion, nor pride or haughtiness, nor feelings of envy or jealousy. I have no duty (dharma), nor any money, nor any desire (kāma), nor even liberation (mokṣa). I am indeed, That eternal knowing and bliss, the auspicious (Śivam), love and pure consciousness.)

(Tidak ada yang kusukai dan tidak ada yang tidak kusukai, tidak serakah, tidak pula bimbang, tidak angkuh, tidak iri, tidak ada keinginan apa pun di dalam diriku, sekalipun untuk kebebasan itu sendiri. Karena Aku adalah kesadaran murni, kebahagiaan yang kekal abadi, itulah Aku!)


na puṇyaṃ na pāpaṃ na saukhyaṃ na duhkhaṃ
na mantro na tīrthaṃ na vedā na yajña
ahaṃ bhojanaṃ naiva bhojyaṃ na bhoktā
cidānandarūpaḥ śivo'ham śivo'ham

(I have neither merit (virtue), nor demerit (vice). I do not commit sins or good deeds, nor have happiness or sorrow, pain or pleasure. I do not need mantras, holy places, scriptures (Vedas), rituals or sacrifices (yajñas). I am none of the triad of the observer or one who experiences, the process of observing or experiencing, or any object being observed or experienced. I am indeed, That eternal knowing and bliss, the auspicious (Śivam), love and pure consciousness.)

(Amal saleh dan dosa dua-duanya telah ku lampaui, suka dan duka tidak lagi mempengaruhi aku, ritual dan perjalanan suci, kenikmatan dan nikmat itu sendiri, semuanya sudah ku lampaui. Aku adalah kesadaran murni, kebahagiaan yang kekal abadi, itulah Aku!)


na mṛtyur na śaṅkā na me jātibhedaḥ
pitā naiva me naiva mātā na janmaḥ
na bandhur na mitraṃ gururnaiva śişyaḥ
cidānandarūpaḥ śivo'ham śivo'ham

(I do not have fear of death, as I do not have death. I have no separation from my true self, no doubt about my existence, nor have I discrimination on the basis of birth. I have no father or mother, nor did I have a birth. I am not the relative, nor the friend, nor the guru, nor the disciple. I am indeed, That eternal knowing and bliss, the auspicious (Śivam), love and pure consciousness.)

(Tidak ada lagi rasa takut akan kematian, tidak kukenali lagi perbedaan antara kelompok, ayah, ibu, sahabat, saudara, guru, murid, tak sesuatu pun ku miliki. Kelahiran dan kematian tidak kukenali lagi. Aku adalah kesadaran murni, kebahagiaan yang kekal abadi, itulah Aku!)


ahaṃ nirvikalpo nirākāra rūpo
vibhutvā ca sarvatra sarvendriyāṇaṃ
na cāsaṅgataṃ naiva muktir na meyaḥ
cidānandarūpaḥ śivo'ham śivo'ham

(I am all pervasive. I am without any attributes, and without any form. I have neither attachment to the world, nor to liberation (mukti). I have no wishes for anything because I am everything, everywhere, every time, always in equilibrium. I am indeed, That eternal knowing and bliss, the auspicious (Śivam), love and pure consciousness.)

(Pikiran telah ku lampaui, tak berwujud namun berada dimana-mana, tidak terikat, tidak mengenal kebebasan, dan tidak bisa di ukur. Aku adalah kesadaran murni, kebahagiaan yang kekal abadi, itulah Aku!)


Senin, 21 Januari 2019

Delapan Bagian Yoga


        

Astanga Yoga, Delapan Bagian Yoga, merupakan sistem yoga yang diajarkan oleh Patanjali.
Pada umumnya terjadi kesalahan tafsir dianggap Patanjali sedang bicara tentang delapan langkah, atau delapan tahap. 
Patanjali jelas-jelas menggunakan istilah “angga” yang berarti bagian—seperti halnya kaki dan tangan dan wajah dan kepala merupakan bagian-bagian tubuh kita. Bagian-bagian yang tidak dapat dipisahkan—suatu kesatuan. Pegang salah satu di antara delapan bagian dan tujuh yang lainnya terpegang juga.
Delapan Bagian Yoga, yaitu:
        1. YAMA, Mengendalikan Diri, dipenuhi dengan:
-      Menghindari Kekerasan
-      Memahami Kebenaran
-      Membebaskan Diri dari Keserakahan
-      Menghindari Ekstemitas
-      Melepaskan Keterikatan

2. NIYAMA, Mawas Diri, harus dilaksanakan dengan:
-      Menjaga Kebersihan Diri
-      Merasa Puas dengan apa adanya
-      Memelihara Kesederhanaan
-      Mempelajari Diri
-      Berserah Diri kepada Kehendak Ilahi

          3. ASANA atau Postur yang Tepat.
Dimana punggung lurus sehingga tulang belakang kita tegak, dan tubuh mantab-tenang dalam posisi yang nyaman untuk meditasi.

Mempertahankan kenyamanan diri – itulah bagian ketiga.
(Patanjali Yoga Sutra II:46)

Asana tidak hanya berarti postur-postur yoga. Asana juga berarti “postur yang nyaman”—“pola hidup yang menyamankan”.
Tetapi ia tidak berhenti di situ saja. Ia menggunakan istilah “langgeng”—rasa nyaman yang langgeng, terus-menerus. Rasa nyaman yang Anda peroleh harus bersifatkan permanen, tidak temporer.

         4. PRANAYAMA atau Pengendalian Prana—Energi Kehidupan.
     
Yang keempat menyadari pola pikir berarti menyadari apa pun yang terjadi di luar dan di dalam diri.
(Patanjali Yoga Sutra II:51)

Pengendalian Aliran Kehidupan lewat Pengaturan Napas. Dengan menyadari proses pernapasan—penarikan dan pembuangan napas secara teratur, kita sebenarnya menyadari mekanisme mind, kita menyadari pola pikir kita, menyadari segala sesuatu yang ada di luar diri kita dan di dalam diri kita.
Demikian dengan berlatih terus-menerus seseorang dapat merasakan bila napasnya menjadi makin panjang dan halus.

5. PRATYAHARA, Pengendalian terhadap Keliaran Pikiran.
     Dengan sengaja menarik diri atau melepaskan diri dari keliaran pikiran.

Pelepasan diri dari keliaran terjadi, apabila panca indera tidak terikat pada objek-objek yang ada dan dapat dikendalikan oleh pikiran (mind).
(Patanjali Yoga Sutra II:54)
         
         6. DHARANA atau Kontemplasi.

Membatasi ruang gerak pikiran itulah yang disebut dharana atau kontemplasi.
(Patanjali Yoga Sutra III:1)

Kontemplasi pada diri yang sejati. Atau perenungan pada pertanyaan yang paling penting, yaitu “Aku Siapa—who am I?”.
Bagi mereka yang sulit melakukan dharana pada pertanyaan “Aku Siapa?”, cara termudah adalah melalui kontemplasi, perenungan pada salah satu sifat, salah satu atribut. Atau bagi mereka yang memiliki tradisi ista, maka perenungan pada Sang Ista, Ia Hyang menjadi Ideal-nya.
Japa, zikir, pengulangan mantra, dan sebagainya—semuanya adalah sarana untuk melakoni dharana. Sang Guru menjelaskan, “Dharana adalah penarikan manah, mind, gugusan pikiran serta perasaan dari sekian banyak hal pada satu hal, pada diri yang sejati, pada Tuhan.”

          7. DHYANA atau Meditasi.
Kita memasuki Alam Meditasi. Alam ini tidak dapat dijelaskan, dan hanya dapat di rasakan.

Menyadari sesuatu tanpa gangguan itulah meditasi.
(Patanjali Yoga Sutra III:2)

Apa yang Anda alami merupakan pengalaman pribadi Anda dan pengalaman setiap orang bisa berbeda-beda.
Berada pada Alam Meditasi, membuat Anda menjadi Wujud Kasih Ilahi. Allah, Ilahi dan Kasih-Nya sudah tidak dapat dipisah-pisahkan lagi. Anda mengalami kesatuan dan persatuan dengan Alam Semesta.
Merasakan kesatuan dan persatuan dengan Alam Semesta, dengan Keberadaan—yang digambarkan sebagai pertemuan antara Yang Dikasihi dan Yang Mengasihi, antara Shiva dan Shakti, antara Prinsip Maskulin dan Prinsip Feminin.
Dalam hal ini, Shiva atau Prinsip Maskulin adalah Keberadaan. Shakti atau Prinsip Feminin adalah kekuatan Kundalini dalam diri Anda yang sedang mengalami pembangkitan. Pertemuan antara kedua kekuatan yang terpisahkan oleh badan Anda selama ini merupakan tujuan akhir yoga.
What’s next?

          8. SAMADHI atau Keseimbangan Diri.
     Sebenarnya Samadhi atau Keseimbanggan Diri merupakan hasil akhir, bukan bagian akhir.

Apabila sesuatu yang yang disadari itu pun lenyap dan yang ada hanyalah kesadaran murni, maka tercapailah Keseimbangan Diri.
(Patanjali Yoga Sutra III:3)

Apabila itu yang terjadi, kau akan memancarkan Cahaya Pengetahuan Sejati.
(Patanjali Yoga Sutra III:5)

Seseorang yang telah mencapai tingkat ini tidak dapat menyembunyikan dirinya. Ia tetap berada di tengah masyarakat, ia akan menyebarkan gosip, kabar-angin tentang Seorang Raja dan Istana-Nya—tentang Tuhan dan Kerajaan Sorga-Nya, tentang keberadaan dan Alam Semesta.
Ia mengharapkan pada suatu ketika nanti ada seseorang, ada orang-orang yang tergiur dan akan menempuh perjalanan panjang untuk menemukan Sang Raja dan Kerajaan-Nya.
Dan setelah menempuh perjalanan itu, setelah menemukan istana  Sang Raja, sebenarnya Anda menemukan diri Anda sendiri. Tetapi janga puas dengan sekadar penjelasan. Anda harus menyadari hal ini anda harus mengalaminya sendiri. Inilah yoga. Inilah yang dimaksud pembangkitan Kundalini atau peningkatan kesadaran.


(Sumber: 1. Yoga Sutra Patanjali bagi Orang Modern, karya Anand Krishna
2. Kundalini Yoga dalam Hidup Sehari-hari, karya Anand Krishna
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

    
                  








Janji-Nya


Janji Sri Krsna di Medan Perang Kurukshetra, 3000 tahun Sebelum Masehi.


“Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata,
Abhyutthānam adharmasya tadātmānam srjāmy aham.
Paritrānāya sādhunām vināsāya ca duskrtām,
Dharma-samsthāpanārthāya sambhavāmi yuge yuge.”

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), 
Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan Adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.”
“Guna melindungi para sadu, para bijak—membimbing dan mengembalikan mereka pada jalan yang lurus, untuk menjernihkan kembali pandangan mereka; membinasakan mereka yang berbuat batil;
Dan, meneguhkan kembali dharma, kebajikan –
Aku datang menjelma dari masa ke masa.”

Ketika adharma merajalela – ketika kebatilan dan ketidakadilan berkuasa, maka di manakah dharma, dimanakah kebajikan dan keadilan?
Apakah dharma, kebajikan dan keadilan, lenyap sama sekali? Apakah sirna? Apakah punah tanpa bekas?
Dharma adalah energi, adharma pun sama, energi. Dan energi tidak pernah punah. Energi hanya berubah wujud saja.
Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan. Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak

Menjelmanya Krsna adalah fenomena yang terjadi setiap kali ada kebutuhan untuk itu. Kadang ia berupa Gandhi, kadang Soekarno, kadang Martin Luther King Jr., kadang Mandela, kadang siapa saja. Kadang barangkali sebagai Anda!
Krsna adalah berita perubahan zaman – Di luar itu, masih banyak perwujudan-perwujudan minor yang membawa perubahan-perubahan kecil tapi signifikan. Misalnya, dalam hal memerdekakan negara, dalam hal membangun masyarakat, dalam hal mengubah tatanan sosial. Sungguh tak terhitung manifestasi Sang Jiwa Agung.

Setiap percikan Sang Jiwa Agung, termasuk Anda dan saya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi perwujudan-Nya Hyang sama Nyata seperti Krsna. Ya, kita semua memiliki potensi tiu.

Perang Bharata-Yuddha – Perang dahsyat yang betul terjadi. Bukan perang khayalan. Mahabharata adalah sejarah, bukan dongeng. Jika kemudian sejarah disajikan dalam berbagai bentuk, antara lain dalam bentuk wayang, maka sah-sah saja.

Penjelmaan Jiwa Agung untuk meneguhkan kembali dharma, kebajikan, keadilan – memang terjadi dari masa ke masa, dan bisa dimana saja.
Walau, “kadar” penjelmaan bisa berbeda dari masa ke masa, dari tempat ke tempat – berdasarkan tuntutan masa dan kebutuhan.

Dunia tidak selalu membutuhkan para Avatāra atau Penjelmaan Purna seperti Krsna. Saat itu, peradaban manusia sedang menghadapi perang nuklir. Maka dibutuhkan Penjelmaan Purna.
Lebih sering, kita membutuhkan Amśa Avatāra – Penjelmaan bagian. Sebagian dari Kekuatan Agung pun sudah cukup untuk mengatasi rezim yang zalim dan menindas rakyatnya, apalagi jika terkait dengan satu negara saja, tidak melibatkan seluruh peradaban.
          Maka, jumlah Amśa Avatāra tak terhitung. Mereka ada dimana-mana. Bisa dimana-mana, tentunya, lagi-lagi sesuai kebutuhan.
          Bahkan, jika Anda seorang aktivis yang sedang berkarya untuk mengubah tatanan sosial yang sudah usang – maka ketahuilah bila Jiwa Agung, “sebagian” dari Kekuatan Jiwa Agung telah mewujud lewat diri Anda.


(Bhagavad Gita karya Anand Krishna, Pusat Studi Veda dan Dharma Indonesia 2014, hal 168-170)

Sabtu, 19 Januari 2019

Perjalanan menuju Asal-mulanya




Tiba-tiba suara-nya terdengar……

Ia terdengar terus-menerus, tanpa henti. Halus, lembut dan tidak pernah berubah. Bunyinya seperti dengungan mmmm tapi tidak persis demikian, mirip nggggg tapi tidak. Betapa susah untuk menceritakannya.

“Itu suatu keniscayaan, jika suaranya telah terdengar maka kamu dapat mendengarnya kembali  kapan pun kamu menghendakinya”, Sang Guru pernah berkata.

Apakah itu yang dimaksudkan dengan suara sang alam? Yang konon katanya sang alam selalu bergetar, mengeluarkan suara yang tiada henti.

Yang jelas, sekarang aku menyadari  dan mengetahui dengan jelas dan pasti bahwa ada ‘sesuatu’ yang tidak berubah dan tetap dibalik perubahan alam ini.

Dari manakah asal suara ini?
Aku lama mengamatinya, bergerak bersamanya, mengalaminya, hidup dengannya. Aktifitas ini kunamai ‘meditasi suara’. Berjalan bersama suara, ‘menaikinya’ menuju asalnya.
“Gunakan suara ini untuk menuju sumbernya…”

Suatu ketika aku berada dalam keadaan tiada apa-apa, gelap total, tapi aku masih menyadari aku ada. Disitu suara tidak terdengar lagi.
Keheningan yang dalam….suwung….
“Itulah kesatuan yang utuh….,
“Itulah kemanunggalan….,
“Itulah ketunggalan….”.
……..

Pertama kalinya ku menyadari ‘apa’ itu kemanunggalan, yang selama ini sering kuucapkan tanpa ku mengerti adanya.

……..

Perlahan ku keluar dari keadaan itu dan suara kembali bersamaku, hingga ku sadari kembali tubuhku.