Sabtu, 27 Oktober 2018

Visi Bung Karno





BUNG KARNO bukanlah seorang Pemikir saja, tetapi ia adalah seorang Visioner. Dan, visi itu menjadi beban yang mesti dipikulnya.
Seorang pemikir bekerja dengan fakta dan data. Hasil pemikirannya sangat logis. Seperti matematika saja, satu plus satu mesti dua. Tidak bisa tiga.
Namun, seorang visioner melihat di balik fakta. Satu plus satu tidak menjadi dua. Satu plus satu bisa menjadi sebelas. Tambahkan Amerika Serikat pada Ethiopia — maka hasilnya sudah pasti bukanlah dua negara — tetapi kekuatan yang dahsyat.
Bung Karno melihat Barat sebagai satu kesatuan. Kesatuan yang memiliki perekat materi yang sangat kuat. Selama ratusan tahun, negara-negara Barat menjarah Timur. Kekayaan mereka adalah hasil rampasan. Bagaimana mengimbangi mereka?
Maka, ia memunculkan ide Persatuan Asia dan Afrika. Saat itu, Nehru yang sama-sama visioner pun masih bertanya-tanya, “Apa iya?” Bung Karno mesti mengutus kawan-kawannya yang paling cakap untuk meyakinkan Nehru, “Ya, iya”. Setelah Nehru dapat diyakinkannya, maka Tito, Nasser dan Chou En Lai tinggal bergabung saja.
Sayang sekali, kita tidak memahami visi Soekarno. Sedemikian rupanya kita tidak memahami visi beliau, sehingga terciptalah keraguan dalam diri beliau, dalam batin beliau. Dan, hanya 3-4 tahun setelah Konperensi di Bandung, beliau pun barangkali mulai meragukan visinya sendiri. “Barangkali” saya katakan, karena demikianlah “penangkapan” saya dari puluhan literatur yang saya baca tentang kejadian-kejadian antara tahun 1955 hingga 1965.
Sekarang, saatnya kita kembali memahami visi Bung Karno: Persatuan antara Negara-negara Asia dan Afrika. Saatnya juga kita menempatkan Pak Harto pada perspektif sejarah yang benar. Visi beliau tentang ASEAN adalah sebuah “kompromi” atas visi Asia-Afrika Bung Karno.
Asia-Afrika dipersatukan oleh Pengalaman Sejarah “Penderitaan” ketika dijajah oleh Negara-negara barat — inilah visi Bung Karno.
Negara-negara Asia Tenggara dipersatukan oleh “Pembangunan Integral” di wilayah ini dengan memperhatikan sumber alam, sumber daya manusia, juga persamaan kultur dan budaya.
Dalam kedua-dua visi tersebut, Peran Indonesia sebagai Motor Penggerak, bahkan sebagai “Bapak Gerakan” diakui oleh seluruh negara dan bangsa yang bergabung.
Bung Karno adalah Arek Surabaya. Bahasanya ceplas-ceplos. Jika tidak suka dengan kebijakan luar negeri Paman Sam, maka ia pun meneriaki dia, “Go to Hell!” Pak Harto adalah Wong Solo, halus. Sudah gondok pun masih bisa senyum.
Ya, saya ingin berandai-andai, saya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya Pak Harto pun mulai gondok dengan kebijakan luar negeri dan kebijakan ekonomi Paman Sam yang sangat mempengaruhi kebijakan negara-negara lain di barat. Bedanya dengan Bung Karno, beliau sudah telanjur tergantung pada Barat. Bung Karno belum.
Kesadaran akan ketergantungan inilah yang melahirkan dan memperkuat ASEAN dari tahun ke tahun. Mahathir yang dianggap arogan oleh Paman Sam pun menghormati Pak Harto. Pil ini terasa sangat pahit untuk ditelan, Paman Sam tentu tidak menyukainya.
Tumbangnya Bung Karno di mana peran Pak Harto masih diperdebatkan seberapa besar atau seberapa kecil — bagaimana pun juga jelas dengan restu Paman Sam dan sekutunya. Lengsernya Pak Harto juga sama. Sejarah terulangi. Di balik kedua peristiwa tersebut, adalah kepentingan ekonomi yang menjadi pertimbangan. Tidak ada pertimbangan-pertimbangan lain. Apalagi kepentingan Rakyat Indonesia — sama sekali tidak.
Visi Bung Karno adalah Visi Harga Diri dan Martabat Manusia Indonesia. Persatuan Asia dan Afrika dijadikannya sebuah misi untuk mencapai visi tersebut. Ketergantungan pada Paman Sam atau siapapun jua menjadi penghalang bagi tercapainya misi tersebut — maka penghalang itu, rintangan itu mesti disingkirkan. Adalah kesalahan kita jika kita menganggap penyingkiran tersebut adalah terhadap Dunia Barat, terhadap masyarakat Amerika dan Barat. Penghalang atau rintangan itu adalah pola pikir Paman Sam, kebijakan luar negeri serta ekonominya. Dan, pola pikir serta kebijakan itulah yang diserang oleh Bung Karno, dan mulai ditolak oleh Pak Harto.
Bung Karno sudah tidak bersama kita. Pak Harto sudah menjadi bagian dari sejarah kita. Sekarang, apa yang mesti kita lakukan? Memahami visi mereka, mempelajari kegagalan-kegagalan mereka dan tidak terjebak dalam romantisme mengagung-agungkan atau menghujat mereka — atau mengembangkan visi baru. Namun untuk itu, saat ini adalah seorang visioner di antara kita?
Jika ingin melanjutkan visi Bung Karno dan Pak Harto — maka kita harus memusatkan seluruh energi kita pada kemandirian. Kita mesti melepaskan diri dari ketergantungan. Hal ini sudah tidak mudah. Kita sudah melakukan sekian banyak kesalahan sehingga melepaskan diri dari ketergantungan dapat menimbulkan gejolak sosial, kecuali “seluruh bangsa ini menjadi sadar dan siap untuk berkorban”.
Pertama: Hentikan Impor Pangan, buah-buahan segar dan kaleng, sayuran dan sebagainya. Kita akan makan ketela, jagung, beras merah, apa saja — tetapi Tidak Mau makan beras impor, buah-buahan impor dan sebagainya.
Kedua: Bisnis Ritel harus dikuasai oleh orang Indonesia, mau keturunan Arab, Cina, India, bule, mau pribumi, non pri — siapa saja boleh. Asal orang Indonesia. Segera hentikan pemberian izin kepada hypermarket yang berasal dari luar. Biarlah mereka mengembangkan bisnis-bisnis besar lainnya. Untuk bisnis ritel, kita harus kembali pada pola dan pasar tradisional kita yang mesti di upgrade dan diperbaiki.
Ketiga: Pembangunan Fisik harus merata di seluruh kepulauan. Hentikan pembangunan pencakar langit dan gedung-gedung apartemen. Dengan cara itu kita akan memberdayakan perekonomian desa dan mencegah terjadinya urbanisasi secara berlebihan.
Keempat: Investasi dari Luar dicarikan lapangan yang masih kosong, dan tidak dapat diolah dengan baik oleh orang-orang kita sendiri. Daripada mencari nasabah untuk kartu kredit dan menciptakan bangsa pengutang, silakan bank-bank asing membiayai industri-rumah dan sektor bisnis serupa lainnya. Bantulah para nelayan kita, para petani kita dengan kredit ringan.
Untuk melaksanakan program-program ini, tentunya Pemerintah harus serius. Para wakil rakyat harus memikirkan rakyat, bukan kantong serta kedudukan mereka. Awalnya barangkali mereka kehilangan popularitas, namun kehilangan popularitas itu jauh lebih baik daripada penilaian oleh generasi mendatang sebagai orang-orang yang tidak becus dan mencelakakan seluruh bangsa dan negara.
Kelima: Hubungan Luar Negeri dengan negara-negara Asean, Asia Barat, Amerika Serikat dan siapa saja — mesti berlandaskan asas kesetaraan. Kita tidak bisa didikte. Kita mesti memiliki keahlian di bidang diplomasi dan negosiasi.
Selamat ulang tahun Bung Karno, selamat ulang tahun Pak Harto — dan salam Pancasila untuk kita semua… Namun ucapan selamat dan salam tidak berarti sama sekali jika kita tidak segera bangun, bangkit, dan mulai bekerja. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan! q – o (1221-2007).

Tulisan Bapak Anand Krishna di KR Thursday, 31 May 2007, Opini Publik : Visi Bung Karno

Pesan Kiai Ganjel

https://gantharwa.org

Pesan Kiai Ganjel Untuk Para Kadangsinarawedi

“Lir-ilir, lir ilir tandure wis sumilir,
Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar,
Cah angon, cah angon penekno blimbing  kuwi,
Lunyu-lunyu peneken kanggo masuh dodotira,
Dodotiro, dorotiro kumitir bedhah ing pinggir
Domana jlumatana kanggo seba mengko sore,
mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane.
Do..... suraka.... surak... hore!“


“Lir-ilir, lir ilir tandure wis sumilir,
Itu menggambarkan jiwa manusia yang telah bangun, maksudnya telah sadar adanya Tuhan.

Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar,
Kesadaran terhadap adanya Tuhan tadi disertai rasa cinta kasih serta rasa asyik, seperti halnya rasanya pengantin baru.

Cah angon, cah angon penekno blimbing  kuwi, Lunyu-lunyu peneken kanggo masuh dodotira,
Blimbing itu mengandung asam, dapat dipakai sebagai sabun untuk mencuci pakaian. Dodot (kain panjang) adalah salah satu jenis pakaian Jawa yang disini melambangkan hati. Blimbing yang sulit mengambilnya karena licin, itu diharuskan kepada para umat (cah angon) untuk dapat memperolehnya. Maksudnya menyucikan hati itu wajib bagi kita semua. Hati yang suci itu tercapai kalau kita memiliki watak utama. Watak utama itu ada lima:
Watak Ihklas,
Watak Taqwa (dapat menerima kenyataan sebagaimana apa adanya)
Watak “temen” atau Jujur, yaitu satu keyakinan, kata-kata dan perbuatan,
Watak Sabar, dan
Watak Budi Pekerti yang Luhur.
Menggalang watak lima perkara memang tidak mudah, itu makna “lunyu-lunyu peneken”

Dodotiro, dorotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dodot/pakaianmu sobek pinggirnya, maksudnya keimanan sudah tidak utuh lagi


Domana jlumatana kanggo seba mengko sore,
keimanan yang tidak utuh lagi harus dipulihkan keutuhannya, keimanan kepada Tuhan harus bulat, tidak boleh ada retak atau kurangnya lagi. Iman yang utuh/bulat sangat penting, karena kesucian hati belum cukup menjamin kita dapat menghadap Tuhan (makna: kanggo seba). Mengko sore mengandung makna bahwa waktu untuk menghadap Tuhan sudah dekat, bak sore hari menjelang malam.

Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane.
Mengandung makna bahwa kita diingatkan agar segera menyiapkan diri dengan baik, selagi muda, masih kuat, segeralah merasuk/memakai pakaian kesucian dan menggalang keimanan yang benar, jangan membuang-buang waktu, sebab panggilan Allah itu tidak antre umur. Sewaktu-waktu kita dapat dipanggil Sang Maha Kuasa.

Do..... suraka.... surak... hore!“
Mengambarkan rasa bahagia serta rasa syukur kepada Tuhan, bahwa kita dapat memakai pakaian kesucian yang merupakan bekal kita dapat masuk dan kembali ke rumah Bapa.

MEMAHAMI CARA PIKIRAN BEKERJA dan KELUAR DARI CENGKRAMANNYA






Pikiran berarti kata-kata; diri-sejati berarti keheningan. Pikiran tidak lain hanyalah semua kata-kata yang telah engkau kumpulkan; keheningan adalah apa yang selalu ada bersamamu, itu bukan pengumpulan. Itulah arti diri-sejati, Itu adalah kualitas hakikimu. Di latar belakang keheningan engkau terus mengumpulkan kata-kata, dan kata-kata itu secara total disebut sebagai pikiran. Keheningan adalah meditasi. Meditasi hanyalah pertanyaan untuk mengubah fokusnya, mengalihkan perhatian dari kata-kata ke dalam keheningan - yang selalu ada di sana.

Jadi hal pertama yang harus diingat tentang pikiran adalah: itu adalah celotehan terus-menerus. Celotehan itu membuatnya tetap hidup, celotehan itu adalah makanan untuknya, tanpa celotehan pikiran tidak bisa terus berlanjut. Jadi keluarlah dari cengkeraman pikiran - yaitu, keluar dari celotehan batin.

Engkau bisa melakukan ini dengan memaksa dirimu sendiri, tapi lagi-lagi engkau melewatkannya. Engkau dapat memaksa dirimu untuk tidak berbicara di dalam, sama seperti engkau dapat memaksa dirimu untuk tidak berbicara di luar - engkau dapat tetap diam dengan paksaan. Pada awalnya sulit, tapi engkau bisa terus bersikeras dan engkau bisa memaksa pikiran untuk tidak berbicara. Itu mungkin. Jika engkau pergi ke Himalaya, engkau akan menemukan banyak orang yang telah mencapainya, tapi engkau akan menemukan kebosanan di wajah mereka, bukan kecerdasan. Pikiran belum terlampaui, pikiran itu baru saja dibuat tumpul. Mereka belum beralih ke keheningan yang hidup, mereka hanya memaksakan pikiran dan mengendalikannya. Analoginya seperti seorang anak dipaksa duduk di sudut ruangan untuk tidak bergerak. Perhatikan anak kecil itu. Dia merasa resah, tapi dia terus mengendalikan dirinya sendiri, takut .. Dia menekan energinya kalau tidak dia akan dihukum.

Ada metode serupa untuk melumpuhkan pikiran. Engkau bisa berpuasa. Kemudian pikiran terus mengatakan bahwa tubuh lapar tapi engkau tidak menyediakan makanan untuk tubuh, engkau tidak mendengarkan pikiran. Perlahan-lahan pikiran menjadi tumpul. Tubuh terus merasa lapar tapi pikiran tidak melaporkannya. Karena apa gunanya? Tidak ada yang mendengarkan, tidak ada yang menanggapinya. Kemudian kelumpuhan tertentu terjadi di dalam pikiran. Banyak orang yang berpuasa panjang berpikir bahwa mereka telah mencapai meditasi. Itu bukan meditasi, itu hanya energi rendah, lumpuh, ketidakpekaan. Mereka bergerak seperti mayat. Mereka tidak hidup. Ingat, meditasi akan membawa untukmu lebih banyak kecerdasan, kecerdasan tak terbatas, kecerdasan yang bersinar. Meditasi akan membuatmu lebih hidup dan sensitif; hidupmu akan menjadi lebih kaya.

Tapi pikiran sangat licik. Pikiran bisa menganggap kelumpuhan sebagai meditasi; pikiran dapat menganggap kebosanan sebagai transendensi (melampaui); pikiran dapat menganggap kematian sebagai peyangkalan-diri. Berhati-hatilah. Selalu ingat bahwa jika engkau bergerak ke arah yang benar, engkau akan terus berbunga. Banyak aroma akan keluar darimu dan engkau akan menjadi kreatif. Dan engkau akan peka terhadap kehidupan, cinta, dan segala sesuatu yang Tuhan sediakan untukmu.

Milikilah mata yang sangat tajam di dalam pikiranmu- lihatlah apa motivasi dari pikiran. Bila engkau melakukan sesuatu, segeralah cari motivasinya, karena jika engkau melewatkan motivasinya, pikiran terus menipu dirimu dan terus mengatakan bahwa ada sesuatu yang lain yang menjadi motivasinya. Sebagi contoh: engkau pulang ke rumah dalam keadaan marah dan engkau memukul anakmu. Pikiran akan berkata, 'Ini untuk kepentingannya sendiri, untuk membuatnya menjadi anak baik.' Ini adalah rasionalisasi (membuatnya menjadi logis). Pergilah lebih dalam ... engkau marah dan engkau menginginkan seseorang yang dengannya engkau bisa melepaskan amarahmu. Engkau tidak bisa marah-marah dengan atasanmu di kantor, dia terlalu kuat untuk itu. Dan itu berisiko dan berbahaya secara ekonomi. Tidak, engkau membutuhkan seseorang yang tidak berdaya. Sekarang anak ini sangat tidak berdaya, dia bergantung padamu; dia tidak bisa bereaksi, dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa membayarmu kembali dengan uang logam yang sama. Engkau tidak dapat menemukan korban yang lebih sempurna.

Lihatlah. Apakah engkau marah terhadap anak itu? Jika demikian, maka pikiran menipu dirimu.

Pikiran terus menipu dirimu selama dua puluh empat jam sehari dan engkau bekerja sama dengannya. Maka pada akhirnya engkau dalam kesengsaraan, engkau mendarat di neraka. Perhatikanlah setiap saat akan motivasi yang benar. Jika engkau dapat menemukan motivasi yang benar, pikiran akan menjadi semakin tidak mampu menipu dirimu. Dan semakin menjauh dirimu dari tipuannya, semakin engkau akan mampu bergerak melampaui pikiran, semakin engkau akan menjadi seorang master.

Lihatlah, perhatikanlah motivasi tak sadar. Pikiran terus mengintimidasi- mu dan terus memerintah dirimu karena engkau tidak mampu melihat motivasinya yang sesungguhnya. Sekali seseorang menjadi mampu melihat motivasi yang sesungguhnya, meditasi adalah sangat dekat ... karena saat itu pikiran tidak lagi memiliki cengkramannya padamu.

Pikiran adalah sebuah mekanisme. Pikiran tidak memiliki kecerdasan. Pikiran adalah bio-komputer. Bagaimana mungkin ia memiliki kecerdasan? Pikiran memiliki keterampilan, tapi tidak memiliki kecerdasan; pikiran memiliki kegunaan fungsional, namun tidak memiliki kesadaran. Pikiran adalah robot; ia bekerja dengan baik tapi jangan terlalu banyak mendengarkannya karena dengan begitu engkau akan kehilangan kecerdasan batinmu. Maka seolah-olah engkau meminta sebuah mesin untuk membimbingmu, memimpinmu. Engkau meminta mesin yang tidak memiliki satu pun keaslian di dalamnya - ia tidak bisa memilikinya. Tidak ada satu pun pemikiran dalam pikiran yang pernah asli, itu selalu merupakan pengulangan. Perhatikanlah. Setiap kali pikiran mengatakan sesuatu, lihatlah lagi-lagi pikiran membawamu ke dalam rutinitas. Cobalah melakukan sesuatu yang baru dan pikiran akan berkurang cengkeramannya atas dirimu.

Bahkan perubahan kecil ... dalam cara yang selalu engkau lakukan dalam memperlakukan istrimu - hanya sedikit perubahan; dalam cara engkau selalu berjalan - hanya sedikit perubahan; cara engkau selalu berbicara - perubahan kecil. Dan engkau akan mendapati bahwa pikiran kehilangan cengkeramannya terhadapmu, engkau menjadi sedikit lebih bebas.

Engkau telah hidup dengan cara tertentu sampai sekarang - tidakkah engkau ingin hidup dengan cara yang berbeda? Engkau telah berpikir dengan cara tertentu sampai sekarang - tidakkah engkau menginginkan beberapa pandangan baru dalam keberadaanmu? Maka waspadalah dan jangan dengarkan pikiran.

Pikiran adalah masa lalumu yang terus berusaha mengendalikan masa sekarang dan masa depanmu. Pikiran adalah masa lalu yang telah mati yang terus mengendalikan masa sekarang yang hidup. Cukup menjadi terjaga tentang itu.

Tapi apakah jalannya? Bagaimana pikiran terus melakukannya? Pikiran melakukannya dengan metode ini: ia berkata, 'Jika engkau tidak mendengarkanku, engkau tidak akan seefisien diriku. Jika engkau melakukan hal yang lama, engkau bisa lebih efisien karena engkau telah melakukannya sebelumnya. Jika engkau melakukan hal baru, engkau tidak akan terlalu efisien." Pikiran terus berbicara seperti seorang ekonom, seorang ahli yang efisien; Pikiran terus menerus mengatakan, 'Ini lebih mudah dilakukan. Mengapa melakukannya dengan cara yang sulit? Inilah cara yang paling mudah.'

Ingat, kapan pun engkau memiliki dua hal, dua pilihan, pilihlah yang baru, pilihlah yang lebih sulit, pilihlah yang membutuhkan lebih banyak kesadaran. Dengan mengorbankan efisiensi selalu pilihlah kesadaran, dan engkau akan menciptakan situasi di mana meditasi menjadi mungkin. Hal-hal ini semua hanya situasi. Meditasi akan terjadi. Aku tidak mengatakan bahwa hanya dengan melakukan hal-hal itu, engkau akan mencapai meditasi - tapi itu akan membantu. Mereka akan menciptakan situasi yang diperlukan di dalam dirimu, di mana tanpa mereka meditasi tidak dapat terjadi.

Jadilah kurang efisien tapi lebih kreatif. Biarlah itu menjadi motifnya. Jangan terlalu terganggu dengan manfaat akhirnya. Sebaliknya, teruslah ingat bahwa engkau tidak berada di sini dalam hidup untuk menjadi komoditas; engkau tidak di sini untuk menjadi sebuah kegunaan, itu di bawah harga diri; engkau tidak berada di sini hanya untuk menjadi lebih dan lebih efisien - engkau berada di sini untuk menjadi lebih dan lebih hidup; engkau berada di sini untuk menjadi lebih dan lebih cerdas; engkau berada di sini untuk menjadi lebih dan lebih bahagia, benar-benar berbahagia. Tapi itu sama sekali berbeda dengan cara pikiran.

OSHO-Ancient Music in the Pines
=================================

Mind means words; self means silence. Mind is nothing but all the words that you have accumulated; silence is that which has always been with you, it is not an accumulation. That is the meaning of self. It is your intrinsic quality. On the background of silence you go on accumulating words, and the words in total are known as the mind. Silence is meditation. It is a question of changing the gestalt, shifting the attention from words into silence -- which is always there.

So the first thing to remember about mind is: it is a constant chattering. That chattering keeps it alive, that chattering is a food for it, without that chattering the mind cannot continue. So drop out of the clutches of the mind -- that is, drop out of inner chattering.

You can do this by forcing yourself, but then again you miss. You can force yourself not to talk inside, just as you can force yourself not to talk outside -- you can keep a forced silence. In the beginning it is difficult, but you can go on insisting and you can force the mind not to talk. It is possible. If you go to the Himalayas, you will find many people who have attained to it, but you will find dullness on their faces, not intelligence. The mind has not been transcended, it has been simply dulled. They have not moved into alive silence, they have simply forced the mind and controlled it. It is as if a child has been forced to sit in the corner and not to move. Watch him. He feels restless, but he goes on controlling himself, afraid.. He represses his energy otherwise he will be punished.

There are similar methods to paralyze the mind. You can fast. Then the mind goes on saying that the body is hungry but you don't supply food, you don't listen to the mind. By and by the mind becomes dull. The body goes on feeling the hunger but the mind does not report it. Because what is the point? There is nobody to listen, there is nobody to respond. Then a certain paralysis happens in the mind. Many people who go on long fasts think they have attained meditation. It is not meditation, it is just low energy, paralysis, insensitivity. They are moving like dead corpses. They are not alive. Remember, meditation will bring you more and more intelligence, infinite intelligence, a radiant intelligence. Meditation will make you more alive and sensitive; your life will become richer.

But mind is very cunning. It can rationalize paralysis as meditation; it can rationalize dullness as transcendence; it can rationalize deadness as renunciation. Watch out. Always remember that if you are moving in the right direction you will go on flowering. Much fragrance will come out of you and you will be creative. And you will be sensitive to life, to love, and to everything that God makes available to you.

Have a very penetrating eye inside your mind -- see what its motivations are. When you do something, immediately look for the motivation, because if you miss the motivation, the mind goes on befooling you and goes on saying that something else was the motivation. For example: you come home angry and you beat your child. The mind will say, 'It is just for his own sake, to make him behave.' This is a rationalization. Go deeper... You were angry and you wanted somebody with whom you could be angry. You could not be angry with the boss in the office, he is too strong for that. And it is risky and economically dangerous. No, you needed somebody helpless. Now this child is perfectly helpless, he depends on you; he cannot react, he cannot do anything, he cannot pay you back in the same coin. You cannot find a more perfect victim.

Look. Are you angry with the child? If you are, then the mind is befooling you.

The mind goes on befooling you twenty-four hours a day and you cooperate with it. Then in the end you are in misery, you land in hell. Watch every moment for the right motivation. If you can find the right motivation, the mind will become more and more incapable of deceiving you And the further away you are from deception, the more you will be capable of moving beyond mind, the more you will become a master.

Look, watch for the unconscious motivation. The mind goes on bullying you and bossing you because you are not capable of seeing its real motivations. Once a person becomes capable of seeing real motivations, meditation is very close... because then the mind no longer has a grip on you.

The mind is a mechanism. It has no intelligence. The mind is a bio-computer. How can it have any intelligence? It has skill, but it has no intelligence; it has a functional utility, but it has no awareness. It is a robot; it works well but don't listen to it too much because then you will lose your inner intelligence. Then it is as if you are asking a machine to guide you, lead you. You are asking a machine which has nothing original in it -- cannot have. Not a single thought in the mind is ever original, it is always a repetition. Watch. Whenever mind says something, see that it is again putting you into a routine. Try to do something new and the mind will have less grip on you.

Even small changes... in the way you have always been behaving with your wife -- just small changes; in the way you always walk -- just small changes; the way you always talk -- small changes. And you will find that the mind is losing its grip on you, you are becoming a little freer.

You have lived in a certain way up to now -- don't you want to live in a different way? You have thought in a certain way up to now -- don't you want some new glimpses in your being? Then be alert and don't listen to the mind.

Mind is your past constantly trying to control your present and your future. It is the dead past which goes on controlling the alive present. Just become alert about it.

But what is the way? How does the mind go on doing it? The mind does it with this method: it says, 'If you don't listen to me, you will not be as efficient as I am. If you do an old thing you can be more efficient because you have done it before. If you do a new thing you cannot be so efficient.' The mind goes on talking like an economist. an efficiency expert; it goes on saying, 'This is easier to do. Why do it the hard way? This is the way of least resistance.'

Remember, whenever you have two things, two alternatives, choose the new one, choose the harder, choose the one in which more awareness will be needed. At the cost of efficiency always choose awareness, and you will create the situation in which meditation will become possible. These are all just situations. Meditation will happen. I am not saying that just by doing them you will get to meditation -- but they will be helpful. They will create the necessary situation in you without which meditation cannot happen.

Be less efficient but more creative. Let that be the motive. Don't be bothered too much about utilitarian ends. Rather, constantly remember that you are not here in life to become a commodity; you are not here to become an utility, that is below dignity;. you are not here just to become more and more efficient -- you are here to become more and more alive; you are here to become more and more intelligent; you are here to become more and more
happy, ecstatically happy. But that is totally different from the ways of the mind.

OSHO-Ancient Music in the Pines

HINDU, AGAMA UNIVERSAL dan KRISHNAMURTI






Klaus K. Klostermaier, profesor dan kepala ‘Departement of Religion’ di Universitas Manitoba, AS, dalam bukunya “A Survey of Hinduism” antara lain mengatakan: “Agama Hindu telah menghasilkan, di jaman modern ini, tidak hanya seorang Dayananda dan Tilak, tapi juga seorang Gandhi dan seorang Sarvepalli Radhakrishnan, seorang Aurobindo Ghose dan seorang Krishnamurti, warga dunia yang sesungguhnya, dan nabi-nabi dari sebuah agama universal. Apa yang kita lihat sedang terjadi atas Hindu dewasa ini adalah pembentukan satu agama baru dunia yang sebenarnya.” [N.M. Madrasuta; “Hindu sebagai Agama Dunia”; RADITYA No.49 - Agustus 2001; hal. 27-28.]


Yang menarik disini adalah pernyataan dari sang profesor yang memasukkan Jiddu Krishnamurti dalam jajaran ‘para pembaharu Hindu’ terkemuka tersebut. Kenapa menarik? Beberapa tahun silam, dalam diskusi di milis Hindu Dharma Net sempat ada yang ‘menyangsikan ke-Hindu-an’ dari Krishnamurti. Dengan tulisan dari sang profesor tadi, kesangsian serupa jadi sirna. Menurut hemat saya, ajaran Krishnamurti cenderung universal.


Tetapi bagaimana sebetulnya pokok-pokok ajarannya yang disebut sebagai universal itu? Kendati (mungkin) terlampau samar untuk dapat melihatnya secara langsung, berikut ini disajikan interpretasi dari apa yang dipublikasikan di website “Krishnamurti Foundation of America”, dengan harapan dapat memberi gambaran lebih konkrit.


POKOK AJARAN J. KRISHNAMURTI.


Pokok dari ajaran Krishnamurti terkandung dalam pernyataan yang diutarakannya pada tahun 1929, ketika mengatakan: ‘Truth is a pathless land’ –Kesujatian adalah suatu wilayah tanpa-jalur. Manusia tak bisa datang kepadanya melalui jalur organisasi apapun, melalui krida apapun, melalui dogma apapun, melalui pendeta atau ritual manapun, tidak juga melalui pengetahuan filosofis atau teknik psikologikal. Ia mesti ditemui melalui cermin hubungan, melalui pengertian terhadap kandungan-kandungan batinnya sendiri, melalui observasi dan bukan melalui analisa intelektual atau pembedahan introseptif.


Manusia telah membangun citra-citra sebagai pagar keamanan bagi dirinya sendiri —yang bersifat religius, politis, ataupun pribadi. Inilah yang kemudian termanifestasikan sebagai simbol-simbol, gagasan-gagasan, kepercayaan- kepercayaan. Penghalang yang berupa citra-citra ini mendominasi pemikiran manusia, hubungan-hubungan sosialnya, dan kehidupan sehari-harinya. Citra-citra inilah yang menjadi penyebab-penyebab dari permasalahan kita, karena mereka memisahkan antara manusia dengan manusia. Persepsinya terhadap kehidupan telah terbentuk oleh konsep-konsep yang telah mapan dalam pikirannya. Kandungan-kandungan dari kesadarannya merupakan keseluruhan dari keberadaannya. Kandungan-kandungan mana adalah umum bagi semua umat manusia.


Individualitas adalah nama dan bentuk serta budaya superfisial yang dicerapnya dari tradisi dan lingkungannya. Keunikan manusia tidaklah terletak pada yang superfisial, tetapi pada kebebasan penuh dari kandungan kesadarannya, yang umum, bagi seluruh umat manusia. Jadi ia sesungguhnya sosok individual.


“Kebebasan bukanlah suatu reaksi; kebebasan juga bukan sebuah pilihan. Kepura-puraan manusia sajalah beranggapan bahwa karena punya pilihan, maka ia bebas. Kebebasan adalah observasi murni tanpa arah, tanpa ketakutan terhadap hukuman ataupun harapan akan hadiah. Kebebasan tanpa motif; kebebasan tidak pada akhir dari evolusi manusia akan tetapi tergelar pada langkah pertama dari eksistensinya. Dalam melangsungkan observasi, seseorang mulai mengungkap kurangnya
kebebasan. Kebebasan ditemukan di dalam kewaspadaan tanpa pilih-bulu terhadap eksistensi dan aktivitas kita sehari-hari.”


“Pemikiran adalah waktu. Pemikiran terlahir dari pengalaman dan pengetahuan, yang tak terpisahkan dari waktu dan masa lampau. Waktu merupakan musuh psikologis bagi manusia. Tindakan kita berdasarkan pengetahuan dan oleh karenanya juga waktu; jadi, manusia selalu sebagai budak dari masa lalunya. Pemikiran senantiasa terbatas, makanya kita hidup dalam konflik dan perjuangan terus-menerus. (Oleh karena itu pula) tidak terjadi evolusi psikologis.”


“Manakala manusia waspada terhadap pergerakan dari pemikiran-pemikirannya sendiri, ia akan melihat keterpisahan antara sang pemikir dan pemikiran, sang pengamat dan yang diamati, yang mengalami dan pengalaman. Ia akan mengungkap bahwasanya keterpisahan ini adalah ilusi. Hanya setelah itulah ada pengamatan murni yang mengarah ke dalam tanpa diikuti oleh bayang-bayang masa lalu atau waktu. ‘Insight’ tanpa waktu ini menyertakan suatu mutasi yang mendalam, radikal dalam batin.”


“Penyangkalan total merupakan essensi dari yang positif. Bila hadir sebentuk penyangkalan terhadap semua itu, dimana pemikiran terbawa secara psikologis, hanya setelah itulah hadir kasih, yang disertai belas-kasihan dan cerdas.”


TINJAUAN SINGKAT.


Bila boleh saya memperbandingkan pernyataan-pernyataan atau ajaran-ajaran mendasar dari Krishnamurti dengan beberapa term-term sanskrit —yang sebetulnya tak banyak digunakan oleh mereka yang non-Hindu— akan kita temukan padanan maknawinya dengan ajaran Hindu, yang sifatnya mendasar. Beberapa di antaranya adalah: Penekanan pada ‘truth’ yang umumnya kita langsung terjemahkan sebagai kebenaran, agaknya akan lebih mengena bila ia tetap menggunakan istilah sanskritnya: satya.


Ia juga bisa tentang apa yang disebutnya sebagai ‘kandungan-kandungan batin’, yang banyak dibicarakan dalam Samkhya Darsana-nya Maharshi Kapilamuni. Ia juga banyak bicara prihal kebebasan, yang tiada lain dari yang dalam istilah sanskrit dan yoga-nya disebut: kaivalya, moksha, atau mukti. Ia juga banyak menekankan pada observasi atau pengamatan ke dalam, ke dalam batin kita sendiri, bahkan menganjurkannya untuk membiasakan laku-spiritual tersebut. Ini sebetulnya cukup akrab bagi yang mempraktekkan dharma-sadhana atau yoga, khususnya yang akrab dengan laku pratyahara.


‘Penyangkalan total’ adalah istilah yang dapat dibilang sulit ditemukan dalam praktek-spiritual (sadhana) lain, sebagai apa yang disebut dengan vairagya. Vairagya dikenal sebagai salah-satu dari Empat Sadhana Utama (Sadhana Cathustaya) bagi penekun Jñana Yoga. Mereka adalah: viveka (kemampuan memilah-milah antara yang maya dan yang sunyata), vairagya (penyangkalan-diri atau ketidak berpihakan terhadap segala fenomena ke-maya-an), sat sampat (pengupayaan enam, sad, prilaku atau disiplin spiritual luhur) dan mumukshutva (kerinduan atau hanya mengidam-idamkan kemahardikan).


Telah merupakan kecenderungan kuat dari sementara universalis Hindu —atau dari agama manapun— untuk tidak memisah-misahkan atau membeda-bedakan manusia, hanya lewat tampilan fisikal yang superfisial saja; seperti yang juga ditekankan oleh Krishnamurti. Ini merupakan manifestasi dari ajaran Upanishad yang lebih akrab dengan kita sebagai ‘tat tvam asi’.

Sebetulnya dari nama beliau saja, telah diperoleh gambaran jelas tentang dasar atau latar-belakang keyakinan beliau.

Demikianlah beberapa pokok ajarannya yang terlihat secara terbatas, hanya dari apa yang dikompilasi oleh “Krishnamurti Foundation of America” itu saja, tapi sudah cukup memberi gambaran akan bagaimana seorang Krishnamurti ‘membahasakan’ Hinduisme.


UNIVERSAL DAN MULAINYA TINGGI.


Profesor David Bohm —fisikawan teori quantum itu- mengatakan: “...Saya berpikir khususnya tentang Einstein yang menunjukkan suatu kesamaan intensitas dan absennya penghalang dalam sejumlah diskusi-diskusi yang berlangsung antara beliau dengan saya. Sesudahnya, saya mulai menemui Krishnamurti secara teratur untuk berdiskusi, setiap saya ada di London.....Dalam diskusi-diskusi ini, kami menghampiri secara cukup mendalam banyak pertanyaan-pertanyaan yang menyita perhatian saya sehubungan dengan karya ilmiah saya. Kami menyelidiki sifat dari ruang dan waktu, dan dari sisi universal, keduanya sehubungan dengan sifat eksternalnya dan sehubungan dengan pikiran.” [David Bohm; “A Brief Introduction to Krishnamurti’s Teachings”]


Apa yang menjadikan ajaran beliau tampak universal adalah, arahannya yang selalu menuntun kepada pembedahan terhadap sang batin, pembedahan terhadap sang pikiran, terhadap sang perasaan, terhadap sang pencerapan, ingatan dan pembedahan terhadap kesadaran itu sendiri; proponen batin yang ada dan setiap saat siap dipakai oleh setiap orang, di jaman manapun ia hidup.


Mungkin saking universalnya, atau atas alasan lain yang tak saya ketahui, bahkan Anand Krishna dalam Pengantar buku “Meditasi”, antara lain mengatakan: “Beliau memang seorang pemberani luar biasa!...Saya mengagumi keberaniannya. Beliau adalah seorang Buddha —Ia Yang Sudah Terjaga, Ia Yang Sadar.”


Lain lagi dengan Roger Wheeller. Dalam sebuah wawancaranya dengan seorang Bhikkhu, Ajahn Sumedo —ketua dan pendiri “Chithurst Buddhist Monastery” di West Sussex, Inggris— ia antara lain bertanya: “Saya tidak begitu bisa mengerti. Apa hubungannya dengan pikiran yang terbiasa mengikuti dogma?”

Atas pertanyaan itu Ajahn Sumedo antara lain mengatakan: “...Kemawasan bukanlah kemelekatan. Apa yang dikemukakan Krishnamurti adalah kesadaran terhadap sifat yang berubah-ubah, prilaku benda-benda yang sesungguhnya pada saat itu. Tetapi beliau (Krishnamurti) mulai mengajar dari hal yang amat tinggi. Kebanyakan orang tidak dapat memahaminya, walaupun seandainya mereka (mencoba) memikirkan tentang apa yang diajarkannya itu...”. [Roger Wheeler; “Questions and Answers with Ajahn Sumedo”; hal. 9]


Saya tidak mengutip seluruh jawabannya disini, dan hanya memilih bagian yang menyinggung ajaran Krishnamurti saja, yang dipandang oleh salah seorang siswa Ajahn Chah —guru meditasi dan Bhikkhu hutan yang sangat disegani, dari Thailand— itu sebagai ‘mulai mengajar dari hal yang amat tinggi’. Dalam kesempatan yang sama, Roger Wheeller juga mendesak dengan mengajukan pertanyaan seputar tradisi yang diterapkan oleh Ajahn Sumedo dalam mengajar di Inggris, tentunya dengan menyertakan pandangan Krishnamurti terhadap tradisi religius. Tampaknya, Roger Wheeler terobsesi cukup kuat oleh ajaran-ajaran Krishnamurti yang disebut sebagai universal itu.


Dalam pengantar buku “Meditasi”, Anand Krishna juga antara lain mengatakan bahwa, “Krishnamurti bukan untuk dibaca, tetapi untuk diselami. Jangan menjadikan beliau bahan untuk mengolah otak”, karena “Anda akan kehilangan esensinya”, paparnya menasehati. Menurut hemat saya, ajaran Krishnamurti adalah ajaran praktis. Penuntun praktis untuk menerapkan dharma-sadhana secara lebih nyata dan lebih mendalam dalam kehidupan kita. Dhyana Yoga yang diajarkannya bukanlah yoga atau meditasi seperti yang dikenal awam atau umum. Bahkan bila mengamatinya hanya sepintas, tanpa ‘modal yang cukup’, ajarannya malah bisa membingungkan.


Akhirnya, besar harapan saya bila tulisan ini dapat memberi sedikit gambaran kasar tentang inti ajaran Jiddu Krishnamurti. Sebagai universalis, ajarannya boleh jadi terlalu menyengat, menyentak serta sulit diterima oleh kebanyakan orang. Namun bagi yang lainnya, yang benar-benar mau membuka-hatinya dan berani keluar dari sekat-sekat pemikirannya yang terfragmentasi, saya rasa, ajarannya tidaklah terlalu sulit untuk dipahami. Pembelajaran-diri akan keberadaan diri manapun akan senantiasa terasa sealur dengan ajaran-ajaran para Rshi-rshi Upanishad.


Gung Dé
Denpasar, 19 Agustus 2001.
_________________________________________
Disunting kembali pada tanggal 19 Desember 2002.